Produktivitas kedelai butuh lahan 500 ribu Ha
Rabu, 25 Juli 2012 - 12:41 WIB
Produktivitas kedelai butuh lahan 500 ribu Ha
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Pertanian, Suswono membutuhkan lahan minimal 500 ribu hektar (Ha) untuk mengatasi minimnya produktivitas kedelai di Indonesia. Dengan kapasitas lahan tersebut, Suswono yakin dapat mencapai swasembada kedelai kedepannya.
Saat ini, Suswono mengatakan lahan terlantar di Badan Pertanahan Nasional (BPN) mencapai 7,2 juta hektar. Namun, untuk mendapatkan lahan sesuai kebutuhan Kementerian Pertanian sangatlah sulit.
"BPN ada potensi lahan yang sebetulnya lahan terlantar itu mencapai 7,2 juta Ha, tapi faktanya untuk kita bisa ambil 500 ribu Ha saja itu persoalan yang sulit," ucap Suswono di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (25/7/2012).
Dirinya juga sangat menyayangkan, dari total lahan terlantar yang tersedia, baru 13 ribu Ha yang telah dinyatakan bebas dari tahap clean and clear. Selain itu, problematika kedelai adalah sisi keuntungan dari penanaman dibandingkan jagung.
"Karena kedelai dan jagung ini menanamnya waktunya sama, lahannya relatif sama, sehingga bisa trade off. Mana yang lebih menguntungkan? Nah, sekarang ini jagung lebih menguntungkan artinya mereka lebih cenderung menanam jagung daripada kedelai," jelasnya.
Suswono mengaku ingin menerapkan teknologi Genetically Modified Organism (GMO) untuk kedelai, namun hal tersebut masih sulit terealisasi dalam waktu dekat.
"Kita juga akan menerapkan teknologi mengadopsi GMO, karena kedelai yang diimpor dari Amerika itu sebenernya transgenik. Selama ini kita masih dipermasalahkan kalau mau mengembangkan benih di dalam negeri dengan rekayasa genetika. Ini upaya jangka panjang, tapi kuncinya lahan harus ada," pungkasnya.
Saat ini, Suswono mengatakan lahan terlantar di Badan Pertanahan Nasional (BPN) mencapai 7,2 juta hektar. Namun, untuk mendapatkan lahan sesuai kebutuhan Kementerian Pertanian sangatlah sulit.
"BPN ada potensi lahan yang sebetulnya lahan terlantar itu mencapai 7,2 juta Ha, tapi faktanya untuk kita bisa ambil 500 ribu Ha saja itu persoalan yang sulit," ucap Suswono di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (25/7/2012).
Dirinya juga sangat menyayangkan, dari total lahan terlantar yang tersedia, baru 13 ribu Ha yang telah dinyatakan bebas dari tahap clean and clear. Selain itu, problematika kedelai adalah sisi keuntungan dari penanaman dibandingkan jagung.
"Karena kedelai dan jagung ini menanamnya waktunya sama, lahannya relatif sama, sehingga bisa trade off. Mana yang lebih menguntungkan? Nah, sekarang ini jagung lebih menguntungkan artinya mereka lebih cenderung menanam jagung daripada kedelai," jelasnya.
Suswono mengaku ingin menerapkan teknologi Genetically Modified Organism (GMO) untuk kedelai, namun hal tersebut masih sulit terealisasi dalam waktu dekat.
"Kita juga akan menerapkan teknologi mengadopsi GMO, karena kedelai yang diimpor dari Amerika itu sebenernya transgenik. Selama ini kita masih dipermasalahkan kalau mau mengembangkan benih di dalam negeri dengan rekayasa genetika. Ini upaya jangka panjang, tapi kuncinya lahan harus ada," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :