Bulog akan tangani komoditi selain beras
Sabtu, 28 Juli 2012 - 13:07 WIB
Bulog akan tangani komoditi selain beras
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Pertanian Suswono menyatakan, dalam waktu dekat Perusahaan Umum (Perum) Bulog akan kembali ke fungsi awalnya, yaitu menjaga kestabilan harga bahan pokok.
Walaupun masih dalam pembahasan, namun menurutnya, hal ini sudah disetujui oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Nanti untuk tadi menyanggah bahan pokok, sehingga nanti ada semacam Harga Pembelian Pemerintah (HPP), supaya nanti saat kedelai misalnya turun harganya, ada batas turun berapa," ujarnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (27/7/2012) malam.
Seperti kedelai, dia menuturkan dengan harga kedelai Rp5.000 per kilogram membuat petani kurang bergairah. Sehingga, dibandingkan kedelai, petani lebih prioritaskan lahannya untuk menanam jagung ataupun tebu.
"Itu tidak menarik bagi petani, tapi sekarang (dengan harga tinggi) petani-petani kedelai di Yogyakarta sangat senang, sementara di sisi lain ada konsumen yang jadi korban kan, keseimbangan ini tentu harusnya terjaga oleh pemerintah. Ini mudah-mudahan Bulog bisa lakukan," paparnya.
Sedangkan, terkait komoditas apa saja, dirinya belum bisa mengungkapkan secara detail. Namun, nantinya kemungkinan akan diatur Bulog adalah komoditas yang dinilai sangat sensitif dengan harga dunia. "Seperti jagung, kedelai, gula, kemungkinan kedepan karena masih fluktuatif, jadi belum sampailah untuk menentukan jenisnya, akan dikaji, di Kemenko Perekonomian," jelasnya.
Suswono menyatakan, bulan depan aturan tersebut akan segera selesai dan Bulog dapat menjalankan funsi barunya. Tapi terkait bentuknya, bisa saja menurutnya dalam Peraturan Presiden atau Instruksi Presiden. "Kalau aturan nanti menyesuaikan lah, penugasan kepada Bulog bisa saja dalam bentuk Perpres ataupun Inpres," pungkasnya.
Walaupun masih dalam pembahasan, namun menurutnya, hal ini sudah disetujui oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Nanti untuk tadi menyanggah bahan pokok, sehingga nanti ada semacam Harga Pembelian Pemerintah (HPP), supaya nanti saat kedelai misalnya turun harganya, ada batas turun berapa," ujarnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (27/7/2012) malam.
Seperti kedelai, dia menuturkan dengan harga kedelai Rp5.000 per kilogram membuat petani kurang bergairah. Sehingga, dibandingkan kedelai, petani lebih prioritaskan lahannya untuk menanam jagung ataupun tebu.
"Itu tidak menarik bagi petani, tapi sekarang (dengan harga tinggi) petani-petani kedelai di Yogyakarta sangat senang, sementara di sisi lain ada konsumen yang jadi korban kan, keseimbangan ini tentu harusnya terjaga oleh pemerintah. Ini mudah-mudahan Bulog bisa lakukan," paparnya.
Sedangkan, terkait komoditas apa saja, dirinya belum bisa mengungkapkan secara detail. Namun, nantinya kemungkinan akan diatur Bulog adalah komoditas yang dinilai sangat sensitif dengan harga dunia. "Seperti jagung, kedelai, gula, kemungkinan kedepan karena masih fluktuatif, jadi belum sampailah untuk menentukan jenisnya, akan dikaji, di Kemenko Perekonomian," jelasnya.
Suswono menyatakan, bulan depan aturan tersebut akan segera selesai dan Bulog dapat menjalankan funsi barunya. Tapi terkait bentuknya, bisa saja menurutnya dalam Peraturan Presiden atau Instruksi Presiden. "Kalau aturan nanti menyesuaikan lah, penugasan kepada Bulog bisa saja dalam bentuk Perpres ataupun Inpres," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :