Neraca perdagangan defisit 3 bulan berturut-turut
Rabu, 01 Agustus 2012 - 13:05 WIB
Neraca perdagangan defisit 3 bulan berturut-turut
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) kembali mencatat nilai defisit pada neraca perdagangan Juni 2012. Kondisi ini adalah bulan ketiga, yang berurut dari dua bulan sebelumnya dimana defist sebesar USD1,32 miliar.
"Nilai impor pada bulan Juni adalah USD16,69 namun ekspor hanya USD15,36 miliar," kata Kepala BPS Pusat, Suryamin dalam konferensi pers di Gedung BPS Pusat, Jakarta, Rabu (1/8/2012).
Jika dilihat secara komulatif, Suryamin mengakui masih ada terlihat surplus. Akan tetapi surplus tersebut semakin kecil dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Surplus tercatat sebesar USD476,2 juta, yang terdiri dari impor sebesar USD96,41 miliar dan kemudian ekspor USD96,88 miliar.
"Surplusnya agak menurun, makin kecil, kita yakin lah Pemerintah melakukan kebijakan. Untuk bisa menekan surplus bahkan meningkatkan ekspor," jelasnya.
Dirinya menjelaskan, secara sektor, maka minyak dan gas bumi (migas) sepanjang Juni mengalami defisit sebesar USD1,377 miliar. Sedangkan, khusus untuk gas dan non migas, malah terlihat surplus. Gas surplus USD9,6 miliar dan nonmigas USD1,859 miliar.
"Untuk non migas itu berasal dari barang-barang industri dan barang pertanian," jelasnya.
Berdasarkan negara tujuan, lanjut Suryamin, neraca perdagangan untuk negara utama seperti China mencatat defisit terbesar yaitu USD4,045 miliar dan disusul oleh Jepang. Sedangkan, untuk Amerika dan India yang masih tergolong negara utama, masih terlihat surplus.
Disamping itu, juga ada yang tergolong negara lainnya, yang juga disinyalir sebagai pasar baru ekspor yang saat ini mencatat surplus USD7,05 miliar.
"Asean kita defisit tetapi untuk Malaysia kita surplus, defisit terbesar terjadi di Thailand USD3,07 miliar. Kalau ke Uni Eropa surplus, namun seperti Jerman, Prancis dan Inggris tetap defisit," ungkapnya.
"Nilai impor pada bulan Juni adalah USD16,69 namun ekspor hanya USD15,36 miliar," kata Kepala BPS Pusat, Suryamin dalam konferensi pers di Gedung BPS Pusat, Jakarta, Rabu (1/8/2012).
Jika dilihat secara komulatif, Suryamin mengakui masih ada terlihat surplus. Akan tetapi surplus tersebut semakin kecil dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Surplus tercatat sebesar USD476,2 juta, yang terdiri dari impor sebesar USD96,41 miliar dan kemudian ekspor USD96,88 miliar.
"Surplusnya agak menurun, makin kecil, kita yakin lah Pemerintah melakukan kebijakan. Untuk bisa menekan surplus bahkan meningkatkan ekspor," jelasnya.
Dirinya menjelaskan, secara sektor, maka minyak dan gas bumi (migas) sepanjang Juni mengalami defisit sebesar USD1,377 miliar. Sedangkan, khusus untuk gas dan non migas, malah terlihat surplus. Gas surplus USD9,6 miliar dan nonmigas USD1,859 miliar.
"Untuk non migas itu berasal dari barang-barang industri dan barang pertanian," jelasnya.
Berdasarkan negara tujuan, lanjut Suryamin, neraca perdagangan untuk negara utama seperti China mencatat defisit terbesar yaitu USD4,045 miliar dan disusul oleh Jepang. Sedangkan, untuk Amerika dan India yang masih tergolong negara utama, masih terlihat surplus.
Disamping itu, juga ada yang tergolong negara lainnya, yang juga disinyalir sebagai pasar baru ekspor yang saat ini mencatat surplus USD7,05 miliar.
"Asean kita defisit tetapi untuk Malaysia kita surplus, defisit terbesar terjadi di Thailand USD3,07 miliar. Kalau ke Uni Eropa surplus, namun seperti Jerman, Prancis dan Inggris tetap defisit," ungkapnya.
(gpr)
Lihat Juga :