RI alami defisit terbesar sepanjang sejarah
Rabu, 01 Agustus 2012 - 15:57 WIB
RI alami defisit terbesar sepanjang sejarah
A
A
A
Sindonews.com - Direktur Statistik Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) Satwiko Darmesto menyebutkan defisit neraca perdagangan yang berlangsung saat ini, merupakan defisit terbesar sepanjang sejarah.
Pasalnya, selama tiga bulan berturut-turut kondisi ini terjadi dan belum ada kemungkinan untuk membaik.
"Kayaknya sepanjang sejarah, karena kita selalu untung terus dulu, jarang mengalami defisit tapi begitu defisit sekarang itu kayaknya kita dalam sekali," ujar Satwiko kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Rabu (1/8/2012).
Bahkan, lanjutnya, tahun 2008 dimana juga terjadi krisis dunia, hanya mencatat defisit sebesar USD700 jutaan. Sedangkan, seperti yang diketahui saat ini (Juni 2012) defisit tercatat mencapai USD1,32 miliar.
Dia menambahkan, defisit terjadi pada negara-negara utama tujuan perdagangan, seperti misalnya China, Jepang, Amerika Serikat dan India serta Korea.
Dirinya mengakui, Cina juga dibarengi dengan pelemahan ekonomi sebagai dampak krisis dunia. Kemudian India yang tidak impor Crude Palm Oil (CPO) dan batubara yang membuat pelaku bisnis panik.
"Itu yang menyebabkan kita defisitnya melebar. Kenapa begitu? ya rupanya negara-negara maju semacam itu mungkin menurun permintaannya sehingga menurunkan impor dari indonesia," pungkasnya.
Sebelumnya, BPS kembali mencatat nilai defisit pada neraca perdagangan Juni 2012. Kondisi ini adalah bulan ketiga, yang berurut dari dua bulan sebelumnya dimana defist sebesar USD1,32 miliar.
"Nilai impor pada bulan Juni adalah USD16,69 namun ekspor hanya USD15,36 miliar," kata Kepala BPS Pusat, Suryamin dalam konferensi pers di Gedung BPS Pusat, Jakarta, Rabu (1/8/2012).
Jika dilihat secara komulatif, Suryamin mengakui masih ada terlihat surplus. Akan tetapi surplus tersebut semakin kecil dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Surplus tercatat sebesar USD476,2 juta, yang terdiri dari impor sebesar USD96,41 miliar dan kemudian ekspor USD96,88 miliar.
Pasalnya, selama tiga bulan berturut-turut kondisi ini terjadi dan belum ada kemungkinan untuk membaik.
"Kayaknya sepanjang sejarah, karena kita selalu untung terus dulu, jarang mengalami defisit tapi begitu defisit sekarang itu kayaknya kita dalam sekali," ujar Satwiko kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Rabu (1/8/2012).
Bahkan, lanjutnya, tahun 2008 dimana juga terjadi krisis dunia, hanya mencatat defisit sebesar USD700 jutaan. Sedangkan, seperti yang diketahui saat ini (Juni 2012) defisit tercatat mencapai USD1,32 miliar.
Dia menambahkan, defisit terjadi pada negara-negara utama tujuan perdagangan, seperti misalnya China, Jepang, Amerika Serikat dan India serta Korea.
Dirinya mengakui, Cina juga dibarengi dengan pelemahan ekonomi sebagai dampak krisis dunia. Kemudian India yang tidak impor Crude Palm Oil (CPO) dan batubara yang membuat pelaku bisnis panik.
"Itu yang menyebabkan kita defisitnya melebar. Kenapa begitu? ya rupanya negara-negara maju semacam itu mungkin menurun permintaannya sehingga menurunkan impor dari indonesia," pungkasnya.
Sebelumnya, BPS kembali mencatat nilai defisit pada neraca perdagangan Juni 2012. Kondisi ini adalah bulan ketiga, yang berurut dari dua bulan sebelumnya dimana defist sebesar USD1,32 miliar.
"Nilai impor pada bulan Juni adalah USD16,69 namun ekspor hanya USD15,36 miliar," kata Kepala BPS Pusat, Suryamin dalam konferensi pers di Gedung BPS Pusat, Jakarta, Rabu (1/8/2012).
Jika dilihat secara komulatif, Suryamin mengakui masih ada terlihat surplus. Akan tetapi surplus tersebut semakin kecil dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Surplus tercatat sebesar USD476,2 juta, yang terdiri dari impor sebesar USD96,41 miliar dan kemudian ekspor USD96,88 miliar.
(gpr)
Lihat Juga :