Investasi komponen automotif bisa tembus USD5 M
Rabu, 22 Agustus 2012 - 13:15 WIB
Investasi komponen automotif bisa tembus USD5 M
A
A
A
Sindonews.com – Nilai investasi komponen automotif di dalam negeri diperkirakan bisa mencapai USD5 miliar hingga 2014. Investasi ini diharapkan bisa menekan ketergantungan komponen impor.
“Nilai investasi yang sama besar akan mengalir dari industri- industri komponen automotif. Di tier I dan II. Setiap prinsipal berinvestasi, komponennya mengikuti. Besaran investasinya hampir sama,” ujar Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi.
Dia mengatakan, realisasi investasi komponen automotif terjadi secara bertahap.Meski bisa menekan ketergantungan impor, tidak mungkin menekan impor secara penuh karena setiap prinsipal memiliki pusat produksi komponen tertentu di negara lain. Penekanan komponen impor, kata dia,mempertimbangkan faktor efisiensi dan skala ekonomis produksi.
“Namun, semakin banyak mengimpor, maka produksi di dalam negeri juga akan naik,”katanya. Budi menjelaskan, pasar automotif di kawasan regional masih memiliki potensi yang semua peluangnya belum digarap.
Menurutnya,kebutuhan komponen automotif terus meningkat seiring dengan semakin banyak penjualan kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor. Budi mencontohkan, investasi PT Honda Prospect Motor (HPM) diikuti oleh investasi sekitar 10–15 perusahaan komponen automotif.
“Tujuan kita tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Tapi, ekspor. Jadi, ketika porsi impor tinggi, kita atasi dengan memacu ekspor. Sementara, secara bertahap kita terus menaikkan produksi komponen lokal. Impor bisa kita tekan, kemudian neraca kita dinaikkan dengan ekspor mobil. Devisa yang kita terima jadi lebih besar,”ucapnya.
Menurut dia, untuk bisa membangun industri komponen tertentu,setidaknya membutuhkan pasar sebesar 1,5 juta unit mobil sehingga mampu memenuhi skala ekonomis.
“Tapi, sekarang, ada yang sudah mulai.Seperti Unipres dan perusahaan-perusahaan komponen yang mulai menyusul prinsipal. Seperti pemasok komponennya Toyota atau HPM tadi. Mereka-mereka ini selangkah lebih maju.Mereka berani duluan, tanpa harus menunggu 1,5 juta unit,” paparnya. Dia menuturkan, para prinsipal komponen automotif mulai melakukan set up kapasitas serta mengenali dan masuk ke pasar.
“Ketika pasar mobil kita mencapai 1,5 juta unit,mereka sudah tinggal jalan,”ucapnya. Budi optimistis, pasar mobil akan mencapai 1 juta unit pada tahun depan. Bahkan, akan mencapai 1,5 juta unit di 2015- 2016 dan 2 juta unit di 2017. Sedangkan ekspor ditargetkan bisa mencapai 20–25 persen dari saat ini yang sebesar 11–12 persen terhadap total produksi nasional.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi pernah mengatakan, para anggota Gaikindo saat ini tengah meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri.
Saat ini rata-rata tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mobil di dalam negeri adalah sekitar 85 persen. “Saat ini yang kita impor itu sekitar 15 persen. Tapi, untuk membangun industri komponen di sini, setidaknya butuh kapasitas pasar 1,5 juta unit.Kalau tidak, maka akan sulit,”katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, salah satu penyebab terjadinya defisit neraca pembayaran Indonesia (NPI) adalah tingginya impor bahan penolong dan bahan baku, salah satunya komponen automotif. Sehingga, pemerintah harus memberikan insentif yang cukup untuk mendorong produksi komponen di dalam negeri.
“Kita jualan disini dengan impor yang jauh lebih tinggi. Contohnya, mobil sedan 60 persen komponen masih impor. Kita masih dalam tingkat assembling plus, dalam arti belum assemblling dengan tingkat lokalisasi disini,”katanya. Menurut Sofjan, penjualan mobil juga bisa didorong dengan pemberian insentif.“Maka kita perlu diberi insentif supaya tidak impor lagi dari Jepang,”jelasnya.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri optimistis, defisit NPI hingga akhir tahun ini tidak akan melebihi tiga persen. “Kalau anda impor komponen automotif misalnya, dia kan dibikin jadi mesin lalu baru jadi barang setelah sekian lama,” ucapnya.
“Nilai investasi yang sama besar akan mengalir dari industri- industri komponen automotif. Di tier I dan II. Setiap prinsipal berinvestasi, komponennya mengikuti. Besaran investasinya hampir sama,” ujar Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi.
Dia mengatakan, realisasi investasi komponen automotif terjadi secara bertahap.Meski bisa menekan ketergantungan impor, tidak mungkin menekan impor secara penuh karena setiap prinsipal memiliki pusat produksi komponen tertentu di negara lain. Penekanan komponen impor, kata dia,mempertimbangkan faktor efisiensi dan skala ekonomis produksi.
“Namun, semakin banyak mengimpor, maka produksi di dalam negeri juga akan naik,”katanya. Budi menjelaskan, pasar automotif di kawasan regional masih memiliki potensi yang semua peluangnya belum digarap.
Menurutnya,kebutuhan komponen automotif terus meningkat seiring dengan semakin banyak penjualan kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor. Budi mencontohkan, investasi PT Honda Prospect Motor (HPM) diikuti oleh investasi sekitar 10–15 perusahaan komponen automotif.
“Tujuan kita tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Tapi, ekspor. Jadi, ketika porsi impor tinggi, kita atasi dengan memacu ekspor. Sementara, secara bertahap kita terus menaikkan produksi komponen lokal. Impor bisa kita tekan, kemudian neraca kita dinaikkan dengan ekspor mobil. Devisa yang kita terima jadi lebih besar,”ucapnya.
Menurut dia, untuk bisa membangun industri komponen tertentu,setidaknya membutuhkan pasar sebesar 1,5 juta unit mobil sehingga mampu memenuhi skala ekonomis.
“Tapi, sekarang, ada yang sudah mulai.Seperti Unipres dan perusahaan-perusahaan komponen yang mulai menyusul prinsipal. Seperti pemasok komponennya Toyota atau HPM tadi. Mereka-mereka ini selangkah lebih maju.Mereka berani duluan, tanpa harus menunggu 1,5 juta unit,” paparnya. Dia menuturkan, para prinsipal komponen automotif mulai melakukan set up kapasitas serta mengenali dan masuk ke pasar.
“Ketika pasar mobil kita mencapai 1,5 juta unit,mereka sudah tinggal jalan,”ucapnya. Budi optimistis, pasar mobil akan mencapai 1 juta unit pada tahun depan. Bahkan, akan mencapai 1,5 juta unit di 2015- 2016 dan 2 juta unit di 2017. Sedangkan ekspor ditargetkan bisa mencapai 20–25 persen dari saat ini yang sebesar 11–12 persen terhadap total produksi nasional.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi pernah mengatakan, para anggota Gaikindo saat ini tengah meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri.
Saat ini rata-rata tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mobil di dalam negeri adalah sekitar 85 persen. “Saat ini yang kita impor itu sekitar 15 persen. Tapi, untuk membangun industri komponen di sini, setidaknya butuh kapasitas pasar 1,5 juta unit.Kalau tidak, maka akan sulit,”katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, salah satu penyebab terjadinya defisit neraca pembayaran Indonesia (NPI) adalah tingginya impor bahan penolong dan bahan baku, salah satunya komponen automotif. Sehingga, pemerintah harus memberikan insentif yang cukup untuk mendorong produksi komponen di dalam negeri.
“Kita jualan disini dengan impor yang jauh lebih tinggi. Contohnya, mobil sedan 60 persen komponen masih impor. Kita masih dalam tingkat assembling plus, dalam arti belum assemblling dengan tingkat lokalisasi disini,”katanya. Menurut Sofjan, penjualan mobil juga bisa didorong dengan pemberian insentif.“Maka kita perlu diberi insentif supaya tidak impor lagi dari Jepang,”jelasnya.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri optimistis, defisit NPI hingga akhir tahun ini tidak akan melebihi tiga persen. “Kalau anda impor komponen automotif misalnya, dia kan dibikin jadi mesin lalu baru jadi barang setelah sekian lama,” ucapnya.
(and)
Lihat Juga :