Pusat kuliner Jogja diserbu pengunjung
Kamis, 23 Agustus 2012 - 15:34 WIB
Pusat kuliner Jogja diserbu pengunjung
A
A
A
Sindonews.com – Di hari liburan Idul Fitri, pusat-pusat kuliner di Yogyakarta dipenuhi oleh wisatawan. Sejak pagi antrean mobil dengan pelat nomor luar DIY terlihat memenuhi sebagian besar ruas jalan di pusat kuliner.
Sejumlah pedagang yang ditemui SINDO mengaku terjadi kenaikan penjualan hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa. Ini dirasakan oleh pedagang semenjak Lebaran hari kedua atau Senin 20 Agustus 2012. “Lumayan, seperti biasa kalau pas libur panjang seperti ini jumlahnya meningkat,” ujar Ratih, karyawan warung gudeg Bu Rini di Wijilan, Keraton.
Jika sebelum Lebaran hingga Lebaran wisatawan berbelanja untuk makan di tempat, memasuki H+2 kemarin pengunjung cenderung membeli dalam bentuk dibungkus untuk oleh-oleh.Mereka membeli gudeg dengan fasilitas bungkus tradisional, yakni besek (anyaman bambu) dan kendil (keramik tembikar). Harga yang ditawarkan para pedagang bervariasi, tergantung kombinasi lauk yang dipesan.
Harga yang tersedia mulai dari Rp50 ribu hingga Rp200 ribu per bungkusnya. Sebagai makanan khas Yogyakarta,keberadaan gudeg tetap menjadi primadona untuk melepas rasa kangen masyarakat pemudik saat kembali ke Yogyakarta. Membeludaknya wisatawan juga terpantau di daerah Pathuk, Ngampilan yang dikenal menjadi pusat kuliner bakpia.
Sejak pagi, kawasan yang berada di sebelah barat Malioboro tersebut juga dipadati oleh masyarakat yang mencari makanan khas sebagai buah tangan mudik Lebaran dari Yogyakarta. Maklum, meski di kenal sebagai sentra bakpia, di kawasan tersebut berjajar toko-toko pusat oleh-oleh yang menyediakan berbagai makanan ringan lainnya, seperti peyek belut, peyek kacang, dan ampyang.
“Kalau sekarang cukup ramai karena banyak yang sudah mau pulang karena besok mulai masuk kerja. Banyak yang nyari oleh-oleh,” ujar Bambang,salah satu karyawan sebuah toko pusat oleh-oleh. Penjualan makanan akan terus mengalami peningkatan hingga akhir pekan mendatang. Ini mengikuti kecenderungan puncak arus balik.
Sejumlah pedagang yang ditemui SINDO mengaku terjadi kenaikan penjualan hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa. Ini dirasakan oleh pedagang semenjak Lebaran hari kedua atau Senin 20 Agustus 2012. “Lumayan, seperti biasa kalau pas libur panjang seperti ini jumlahnya meningkat,” ujar Ratih, karyawan warung gudeg Bu Rini di Wijilan, Keraton.
Jika sebelum Lebaran hingga Lebaran wisatawan berbelanja untuk makan di tempat, memasuki H+2 kemarin pengunjung cenderung membeli dalam bentuk dibungkus untuk oleh-oleh.Mereka membeli gudeg dengan fasilitas bungkus tradisional, yakni besek (anyaman bambu) dan kendil (keramik tembikar). Harga yang ditawarkan para pedagang bervariasi, tergantung kombinasi lauk yang dipesan.
Harga yang tersedia mulai dari Rp50 ribu hingga Rp200 ribu per bungkusnya. Sebagai makanan khas Yogyakarta,keberadaan gudeg tetap menjadi primadona untuk melepas rasa kangen masyarakat pemudik saat kembali ke Yogyakarta. Membeludaknya wisatawan juga terpantau di daerah Pathuk, Ngampilan yang dikenal menjadi pusat kuliner bakpia.
Sejak pagi, kawasan yang berada di sebelah barat Malioboro tersebut juga dipadati oleh masyarakat yang mencari makanan khas sebagai buah tangan mudik Lebaran dari Yogyakarta. Maklum, meski di kenal sebagai sentra bakpia, di kawasan tersebut berjajar toko-toko pusat oleh-oleh yang menyediakan berbagai makanan ringan lainnya, seperti peyek belut, peyek kacang, dan ampyang.
“Kalau sekarang cukup ramai karena banyak yang sudah mau pulang karena besok mulai masuk kerja. Banyak yang nyari oleh-oleh,” ujar Bambang,salah satu karyawan sebuah toko pusat oleh-oleh. Penjualan makanan akan terus mengalami peningkatan hingga akhir pekan mendatang. Ini mengikuti kecenderungan puncak arus balik.
(and)
Lihat Juga :