Jaga kenyamanan investasi
Jum'at, 24 Agustus 2012 - 11:24 WIB
Jaga kenyamanan investasi
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah mewaspadai dampak pelemahan perekonomian dunia akibat krisis finansial yang melanda negaranegara besar agar tidak berpengaruh pada sektor investasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, krisis global dan kemungkinan terjadinya resesi di Amerika Serikat (AS) pada tahun depan akan disikapi pemerintah dengan melakukan reformasi struktural demi mendukung pembangunan infrastruktur dan menjaga kenyamanan investasi. Peningkatan investasi diyakini mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas enam persen
”Kita harus betul-betul melakukan reformasi struktural supaya orang investasi di sini merasa nyaman,” kata Agus Marto seusai halalbihalal di gedung Kemenkeu, Jakarta, kemarin. Dia mengatakan, jika krisis di Eropa dan AS berlanjut, tahun depan dikhawatirkan banyak faktor yang akan berubah. Meski selama dua kuartal pertama tahun ini kinerja investasi bagus, pemerintah tetap melakukan antisipasi. Menkeu menjelaskan, yang dimaksud reformasi struktural adalah memperbaiki infrastruktur dengan mempercepat proses implementasi peraturan pemerintah mengenai pembebasan lahan demi kepentingan umum.
Menurut Agus Marto, langkah ini dilakukan untuk menghindari hambatan ketidakharmonisan peraturan daerah dan peraturan pusat yang selama ini menghambat pembangunan infrastruktur. Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini menuturkan, selama ini faktor pendorong pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh investasi dan konsumsi dalam negeri.“Kita tetap optimistis tahun 2012 ini (ekonomi) akan tumbuh di atas 6 persen. Jadi ke depan,tahun 2013, dua sektor ini (investasi dan konsumsi) akan kita dorong terus,”katanya.
Dari sisi fiskal, pemerintah akan menjaga level defisit anggaran pada RAPBN 2013 terjaga di kisaran 1,62 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau Rp150,2 triliun. Upaya menjaga kesehatan dan kesinambungan fiskal akan dilakukan pemerintah dengan mengendalikan defisit anggaran pada tingkat aman dan menurunkan rasio utang terhadap PDB dalam batas yang manageable. Saat ditanya kemungkinan adanya insentif fiskal untuk mendukung konsumsi domestik, Agus Marto mengatakan,secara umum akan tergantung supply dan demand.
”Kalau dari kita,lebihbaikmemberikaninsentifuntuk mendorong industri dalam negeri supaya bisa menciptakan bahanbakudanbahanpenolong. Selama ini ekonomi kita overheatingkarena impor yang besar, sementara ekspor terhambat bahan baku,”ungkapnya. Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, pemerintah akan menahan laju impor dengan cara mengubah struktur industri.
”Sebanyak 70 persen yang banyak kita impor itu justru bahan baku.Ini yang harus kita ubah dengan menciptakan industri dalam negeri terutama bahan baku dan penolong. Fungsinya agar mampu menopang ekspor,” kata dia di kantornya, Jakarta,kemarin. Hatta mengatakan,jika perlu, pemerintah akan memberikan insentif fiskal untuk mendukung hal tersebut, misalnya melalui fasilitas tax holiday. Menurut Hatta, selain investasi, konsumsi dalam negeri tetap harus dijaga agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi barang-barang impor.
Sementara, pengamat ekonomi Unika Atma Jaya, A Prasetyantoko, mengatakan bahwa krisis ekonomi yang berkepanjangan di AS dan Eropa tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap Indonesia dari sisi perdagangan.
Namun, jika krisis makin parah, kuncinya ada pada investasi dan mendorong konsumsi dalam negeri. ”Terpenting kita menjaga investasi dan konsumsi domestik dengan memperhatikan pengeluaran pemerintah untuk belanja berkualitas,” kata dia saat dihubungi kemarin.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, krisis global dan kemungkinan terjadinya resesi di Amerika Serikat (AS) pada tahun depan akan disikapi pemerintah dengan melakukan reformasi struktural demi mendukung pembangunan infrastruktur dan menjaga kenyamanan investasi. Peningkatan investasi diyakini mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas enam persen
”Kita harus betul-betul melakukan reformasi struktural supaya orang investasi di sini merasa nyaman,” kata Agus Marto seusai halalbihalal di gedung Kemenkeu, Jakarta, kemarin. Dia mengatakan, jika krisis di Eropa dan AS berlanjut, tahun depan dikhawatirkan banyak faktor yang akan berubah. Meski selama dua kuartal pertama tahun ini kinerja investasi bagus, pemerintah tetap melakukan antisipasi. Menkeu menjelaskan, yang dimaksud reformasi struktural adalah memperbaiki infrastruktur dengan mempercepat proses implementasi peraturan pemerintah mengenai pembebasan lahan demi kepentingan umum.
Menurut Agus Marto, langkah ini dilakukan untuk menghindari hambatan ketidakharmonisan peraturan daerah dan peraturan pusat yang selama ini menghambat pembangunan infrastruktur. Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini menuturkan, selama ini faktor pendorong pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh investasi dan konsumsi dalam negeri.“Kita tetap optimistis tahun 2012 ini (ekonomi) akan tumbuh di atas 6 persen. Jadi ke depan,tahun 2013, dua sektor ini (investasi dan konsumsi) akan kita dorong terus,”katanya.
Dari sisi fiskal, pemerintah akan menjaga level defisit anggaran pada RAPBN 2013 terjaga di kisaran 1,62 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau Rp150,2 triliun. Upaya menjaga kesehatan dan kesinambungan fiskal akan dilakukan pemerintah dengan mengendalikan defisit anggaran pada tingkat aman dan menurunkan rasio utang terhadap PDB dalam batas yang manageable. Saat ditanya kemungkinan adanya insentif fiskal untuk mendukung konsumsi domestik, Agus Marto mengatakan,secara umum akan tergantung supply dan demand.
”Kalau dari kita,lebihbaikmemberikaninsentifuntuk mendorong industri dalam negeri supaya bisa menciptakan bahanbakudanbahanpenolong. Selama ini ekonomi kita overheatingkarena impor yang besar, sementara ekspor terhambat bahan baku,”ungkapnya. Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, pemerintah akan menahan laju impor dengan cara mengubah struktur industri.
”Sebanyak 70 persen yang banyak kita impor itu justru bahan baku.Ini yang harus kita ubah dengan menciptakan industri dalam negeri terutama bahan baku dan penolong. Fungsinya agar mampu menopang ekspor,” kata dia di kantornya, Jakarta,kemarin. Hatta mengatakan,jika perlu, pemerintah akan memberikan insentif fiskal untuk mendukung hal tersebut, misalnya melalui fasilitas tax holiday. Menurut Hatta, selain investasi, konsumsi dalam negeri tetap harus dijaga agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi barang-barang impor.
Sementara, pengamat ekonomi Unika Atma Jaya, A Prasetyantoko, mengatakan bahwa krisis ekonomi yang berkepanjangan di AS dan Eropa tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap Indonesia dari sisi perdagangan.
Namun, jika krisis makin parah, kuncinya ada pada investasi dan mendorong konsumsi dalam negeri. ”Terpenting kita menjaga investasi dan konsumsi domestik dengan memperhatikan pengeluaran pemerintah untuk belanja berkualitas,” kata dia saat dihubungi kemarin.
(and)
Lihat Juga :