Krisis global, pemerintah siapkan langkah tak populis
Sabtu, 25 Agustus 2012 - 11:53 WIB
Krisis global, pemerintah siapkan langkah tak populis
A
A
A
Sindonews.com - Dampak krisis perekonomian di Eropa semakin terasa. Pemerintah mengaku telah menyiapkan sejumlah kebijakan, termasuk langkah-langkah yang tidak populis, demi mengantisipasi memburuknya perekonomian global.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan hal itu kepada pers di Istana Kepresidenan Bogor kemarin seusai melakukan rapat ekonomi untuk membahas antisipasi perkembangan perekonomian dunia terkini, termasuk respons kebijakan yang perlu dilakukan.
”Saya meminta pengertian dari rakyat Indonesia jika ada kebijakan atau langkah-langkah kita yang mungkin tak populer (populis). Tapi, percayalah, apa pun yang kita lakukan, kita akan tetap utamakan perlindungan rakyat kita, terutama rakyat berpenghasilan rendah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, SBY didampingi Wakil Presiden Boediono dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II . Presiden mengatakan, keadaan perekonomian global dewasa ini masih memburuk seiring resesi di Eropa.
Sementara perekonomian Amerika Serikat hingga saat ini juga belum menunjukkan perbaikan. Perekonomian China dan India pun kini telah melambat. Presiden mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya guncangan finansial yang berasal dari 1–2 negara akibat resesi di Eropa yang akan mengakibatkan masalah serius bagi negara lainnya karena sistem keuangan yang telah terintegrasi.
Untuk itu, dalam kesempatan tersebut, mantan Menkopolkam ini menyatakan akan memastikan pengelolaan perekonomian secara optimal. Pemerintah berupaya agar pertumbuhan ekonomi tetap di atas 6 persen.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di tempat yang sama mengatakan, saat ini dampak resesi di Eropa dan perekonomian AS yang tak kunjung membaik tersebut telah dirasakan.
Pada semester pertama 2012, ekspor Indonesia mencapai USD96 miliar, turun 1,76 persen dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, angka ini relatif masih cukup baik. ”Masih dalam batas yang bisa kita sikapi,”katanya.
Untuk mendorong nilai ekspor, menurut Gita, pihaknya akan memperluas pasar dengan menggarap pasar nontradisional seperti Afrika, Amerika Latin, Asia Tengah, dan Timur Tengah.
”Tapi kita juga fokus ke Amerika, Eropa, Jepang, Korea Selatan, India, dan negara besar lainnya,” katanya.
Dia berharap nilai ekspor tahun ini masih bisa menyamai tahun 2011 sebesar USD203 miliar. Gita menambahkan, dirinya belum dapat memperkirakan kinerja ekspor 2013 mengingat situasi dan kondisi perekonomian di Eropa dan Amerika Serikat masih tidak menentu. ”Kalau terjadi pemulihan, insya Allah ekspor membaik,” katanya.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan, pemerintah terus menciptakan iklim investasi yang kondusif agar target investasi bisa tercapai di tengah krisis perekonomian dunia saat ini.
”Kita terus memperbaiki dan semaksimal mungkin menciptakan iklim investasi domestik yang kondusif dalam rangka menarik investor agar target investasi tercapai dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi 6,8 persen,” kata Lukita.
Menurutnya, pemerintah memang tidak hanya mengandalkan investasi dari Eropa yang saat ini tengah dilanda krisis ekonomi. Namun, adanya krisis yang melanda Eropa seharusnya bisa menjadi momentum untuk menarik para investor yang selama ini berinvestasi di Benua Biru tersebut.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan hal itu kepada pers di Istana Kepresidenan Bogor kemarin seusai melakukan rapat ekonomi untuk membahas antisipasi perkembangan perekonomian dunia terkini, termasuk respons kebijakan yang perlu dilakukan.
”Saya meminta pengertian dari rakyat Indonesia jika ada kebijakan atau langkah-langkah kita yang mungkin tak populer (populis). Tapi, percayalah, apa pun yang kita lakukan, kita akan tetap utamakan perlindungan rakyat kita, terutama rakyat berpenghasilan rendah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, SBY didampingi Wakil Presiden Boediono dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II . Presiden mengatakan, keadaan perekonomian global dewasa ini masih memburuk seiring resesi di Eropa.
Sementara perekonomian Amerika Serikat hingga saat ini juga belum menunjukkan perbaikan. Perekonomian China dan India pun kini telah melambat. Presiden mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya guncangan finansial yang berasal dari 1–2 negara akibat resesi di Eropa yang akan mengakibatkan masalah serius bagi negara lainnya karena sistem keuangan yang telah terintegrasi.
Untuk itu, dalam kesempatan tersebut, mantan Menkopolkam ini menyatakan akan memastikan pengelolaan perekonomian secara optimal. Pemerintah berupaya agar pertumbuhan ekonomi tetap di atas 6 persen.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di tempat yang sama mengatakan, saat ini dampak resesi di Eropa dan perekonomian AS yang tak kunjung membaik tersebut telah dirasakan.
Pada semester pertama 2012, ekspor Indonesia mencapai USD96 miliar, turun 1,76 persen dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, angka ini relatif masih cukup baik. ”Masih dalam batas yang bisa kita sikapi,”katanya.
Untuk mendorong nilai ekspor, menurut Gita, pihaknya akan memperluas pasar dengan menggarap pasar nontradisional seperti Afrika, Amerika Latin, Asia Tengah, dan Timur Tengah.
”Tapi kita juga fokus ke Amerika, Eropa, Jepang, Korea Selatan, India, dan negara besar lainnya,” katanya.
Dia berharap nilai ekspor tahun ini masih bisa menyamai tahun 2011 sebesar USD203 miliar. Gita menambahkan, dirinya belum dapat memperkirakan kinerja ekspor 2013 mengingat situasi dan kondisi perekonomian di Eropa dan Amerika Serikat masih tidak menentu. ”Kalau terjadi pemulihan, insya Allah ekspor membaik,” katanya.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan, pemerintah terus menciptakan iklim investasi yang kondusif agar target investasi bisa tercapai di tengah krisis perekonomian dunia saat ini.
”Kita terus memperbaiki dan semaksimal mungkin menciptakan iklim investasi domestik yang kondusif dalam rangka menarik investor agar target investasi tercapai dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi 6,8 persen,” kata Lukita.
Menurutnya, pemerintah memang tidak hanya mengandalkan investasi dari Eropa yang saat ini tengah dilanda krisis ekonomi. Namun, adanya krisis yang melanda Eropa seharusnya bisa menjadi momentum untuk menarik para investor yang selama ini berinvestasi di Benua Biru tersebut.
(and)
Lihat Juga :