Antisipasi krisis sesuai kondisi
Selasa, 28 Agustus 2012 - 09:52 WIB
Antisipasi krisis sesuai kondisi
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah menyatakan kebijakan tidak populer yang siap diambil pemerintah belum bisa dipastikan, karena mengacu pada tekanan eksternal yang mungkin dihadapi.
Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengatakan, pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait kebijakan tak populer itu baru akan diambil jika krisis ekonomi global berdampak kuat bagi Indonesia. Antisipasi dilakukan secara bertahap sesuai kondisi yang dihadapi.
“Intinya kebijakan tak populer itu referensinya akan mengacu pada krisis yang terjadi,” kata Armida di gedung Bappenas, Jakarta, Senin 27 Agustus 2012.
Armida mencontohkan, saat krisis tahun 2005 dan 2008 yang menyebabkan kenaikan harga komoditas yang cukup tinggi, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan terkait likuiditas. Dia menegaskan, kebijakan pemerintah memang belum pasti karena krisis belum berdampak negatif bagi kondisi dalam negeri. “Yang jelas, referensinya ke situ. Kita jangan berpikir buruk dulu, yang penting adalah antisipasi secara bertahap karena krisis ini diperkirakan berjalan lama," ucapnya.
Armida mengaku optimistis di tengah krisis masih ada ruang bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Kondisi ekonomi, tegas dia, masih sesuai jalur dengan indikator pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di atas 6 persen, pengangguran di bawah 6 persen, kemiskinan di bawah 10 persen, serta inflasi di bawah 6 persen. “Selain itu, kita punya pangan dan suplai dengan harga terjangkau, begitu pula dengan energi,” tuturnya.
Terkait dengan itu, investasi dan konsumsi dalam negeri diperkirakan masih akan menjadi penopang utama perekonomian. Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo sebelumnya mengatakan, krisis di Eropa dan Amerika justru membuka peluang bagi Indonesia. “Kita lihat saja interest investasi dari Jepang, China, Korea masih sangat besar. Kondisi ekonomi mereka relatif lebih stabil, dan mereka memang mencari peluang investasi baru,” kata dia.
Lukita mengatakan, jika krisis berdampak kuat terhadap ekonomi dalam negeri, langkah yang harus dilakukan yakni memperkuat stabilitas makro, menjaga inflasi dan suku bunga, serta melakukan reformasi birokrasi terkait kepastian iklim investasi.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri optimistis imbas semakin dalamnya krisis Eropa tidak memengaruhi realisasi investasi ke Indonesia pada awal 2013.
Chatib mengatakan, imbas krisis Eropa tidak tertuju langsung kepada Indonesia. Menurut dia, imbas krisis akan tertuju langsung pada negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Eropa seperti Korea, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. “Imbas dari krisis Eropa menyebabkan terjadinya pemotongan kredit investasi, sehingga arus modal masuk ke negara tersebut akan sedikit mengalami penurunan, sedangkan Indonesia diperkirakan masih akan diminati para investor, khususnya pada lima besar negara penanam modal terbesar tahun ini,” ungkapnya.
Data BKPM mencatat,hingga semester I/2012 realisasi investasi mencapai Rp148,1 triliun, naik 28,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Investasi dalam negeri tercatat sebesar Rp40,5 triliun dan investasi asing Rp107,6 triliun. Khusus di kuartal II/2012 realisasi investasi dalam negeri dan investasi asing mencapai Rp76,9 triliun, terdiri atas investasi dalam negeri sebesar Rp20,8 triliun dan investasi asing sebesar Rp56,1 triliun.
Adapun lima negara yang mencatatkan investasi di Indonesia sampai dengan semester I/2012 adalah Singapura dengan investasi sebesar USD2 miliar, Jepang sebesar USD1,1 miliar, Korea Selatan USD 1 miliar, Amerika Serikat USD0,7 miliar, dan Australia sebesar USD0,6 miliar.
Keyakinan yang sama disuarakan Menteri Perindustrian MS Hidayat. Menurut dia, pertumbuhan investasi tahun depan akan meningkat pesat. Hidayat mengatakan, ada beberapa perusahaan yang sudah siap berinvestasi besar-besaran di Indonesia. Dia menargetkan, investasi senilai lebih dari USD20 miliar akan dapat diperoleh di tahun 2013.
“Ada dua refinery yang pipeon sekarang, yaitu di Tuban dan Balongan, masing-masing USD10 miliar. Selanjutnya, Foxconn USD5 miliar dan Petrokimia Honam yang investasinya USD5 miliar. Jangan takut kita ngga kada investasi,” tegasnya.
Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengatakan, pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait kebijakan tak populer itu baru akan diambil jika krisis ekonomi global berdampak kuat bagi Indonesia. Antisipasi dilakukan secara bertahap sesuai kondisi yang dihadapi.
“Intinya kebijakan tak populer itu referensinya akan mengacu pada krisis yang terjadi,” kata Armida di gedung Bappenas, Jakarta, Senin 27 Agustus 2012.
Armida mencontohkan, saat krisis tahun 2005 dan 2008 yang menyebabkan kenaikan harga komoditas yang cukup tinggi, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan terkait likuiditas. Dia menegaskan, kebijakan pemerintah memang belum pasti karena krisis belum berdampak negatif bagi kondisi dalam negeri. “Yang jelas, referensinya ke situ. Kita jangan berpikir buruk dulu, yang penting adalah antisipasi secara bertahap karena krisis ini diperkirakan berjalan lama," ucapnya.
Armida mengaku optimistis di tengah krisis masih ada ruang bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Kondisi ekonomi, tegas dia, masih sesuai jalur dengan indikator pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di atas 6 persen, pengangguran di bawah 6 persen, kemiskinan di bawah 10 persen, serta inflasi di bawah 6 persen. “Selain itu, kita punya pangan dan suplai dengan harga terjangkau, begitu pula dengan energi,” tuturnya.
Terkait dengan itu, investasi dan konsumsi dalam negeri diperkirakan masih akan menjadi penopang utama perekonomian. Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo sebelumnya mengatakan, krisis di Eropa dan Amerika justru membuka peluang bagi Indonesia. “Kita lihat saja interest investasi dari Jepang, China, Korea masih sangat besar. Kondisi ekonomi mereka relatif lebih stabil, dan mereka memang mencari peluang investasi baru,” kata dia.
Lukita mengatakan, jika krisis berdampak kuat terhadap ekonomi dalam negeri, langkah yang harus dilakukan yakni memperkuat stabilitas makro, menjaga inflasi dan suku bunga, serta melakukan reformasi birokrasi terkait kepastian iklim investasi.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri optimistis imbas semakin dalamnya krisis Eropa tidak memengaruhi realisasi investasi ke Indonesia pada awal 2013.
Chatib mengatakan, imbas krisis Eropa tidak tertuju langsung kepada Indonesia. Menurut dia, imbas krisis akan tertuju langsung pada negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Eropa seperti Korea, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. “Imbas dari krisis Eropa menyebabkan terjadinya pemotongan kredit investasi, sehingga arus modal masuk ke negara tersebut akan sedikit mengalami penurunan, sedangkan Indonesia diperkirakan masih akan diminati para investor, khususnya pada lima besar negara penanam modal terbesar tahun ini,” ungkapnya.
Data BKPM mencatat,hingga semester I/2012 realisasi investasi mencapai Rp148,1 triliun, naik 28,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Investasi dalam negeri tercatat sebesar Rp40,5 triliun dan investasi asing Rp107,6 triliun. Khusus di kuartal II/2012 realisasi investasi dalam negeri dan investasi asing mencapai Rp76,9 triliun, terdiri atas investasi dalam negeri sebesar Rp20,8 triliun dan investasi asing sebesar Rp56,1 triliun.
Adapun lima negara yang mencatatkan investasi di Indonesia sampai dengan semester I/2012 adalah Singapura dengan investasi sebesar USD2 miliar, Jepang sebesar USD1,1 miliar, Korea Selatan USD 1 miliar, Amerika Serikat USD0,7 miliar, dan Australia sebesar USD0,6 miliar.
Keyakinan yang sama disuarakan Menteri Perindustrian MS Hidayat. Menurut dia, pertumbuhan investasi tahun depan akan meningkat pesat. Hidayat mengatakan, ada beberapa perusahaan yang sudah siap berinvestasi besar-besaran di Indonesia. Dia menargetkan, investasi senilai lebih dari USD20 miliar akan dapat diperoleh di tahun 2013.
“Ada dua refinery yang pipeon sekarang, yaitu di Tuban dan Balongan, masing-masing USD10 miliar. Selanjutnya, Foxconn USD5 miliar dan Petrokimia Honam yang investasinya USD5 miliar. Jangan takut kita ngga kada investasi,” tegasnya.
(gpr)
Lihat Juga :