Daya saing Indonesia terus memburuk
Kamis, 06 September 2012 - 10:30 WIB
Daya saing Indonesia terus memburuk
A
A
A
Sindonews.com - Daya saing Indonesia kembali merosot.Setelah pada 2011 lalu turun dua peringkat, tahun ini daya saing perekonomian Indonesia melorot hingga empat level.
Laporan terbaru Global Competitiveness 2012–2013 World Economic Forum (WEF) menyatakan, daya saing Indonesia untuk 2012–2013 menempati peringkat ke-50 dari 144 negara,turun dibanding tahun lalu di posisi ke-46. Peringkat tersebut jauh jika dibandingkan dengan Malaysia yang menduduki ranking ke-25, Brunei Darussalam (28),China(29),dan Thailand(38). Laporan WEF didasarkan pada data yang tersedia untuk umum dan survei pada 15.000 pemimpin bisnis di 144 negara.
”Turunnya peringkat Indonesia disebabkan permasalahan birokrasi yang tidak menguntungkan untuk sektor bisnis dibarengi dengan banyaknya kejahatan dan tingkat kekerasan yang masih sering terjadi,” ujar WEF dalam laporan Global Competitiveness 2012–2013 yang dilansir kemarin. Kendati demikian, WEF menilai kondisi infrastruktur Indonesia terus membaik. Begitu pula dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga.
Adapun secara global, Swiss dinilai sebagai negara dengan ekonomi paling kompetitif dan inovatif di dunia. Setelah Swiss, Singapura berada di posisi kedua, disusul Finlandia, Swedia, Belanda, dan Jerman (lihat infografis). ”Swiss mendapatkan tempat teratas dalam inovasi karena keunggulan sistem pendidikan, tingginya pengeluaran perusahaan pada penelitian dan pengembangan, serta memiliki kolaborasi yang kuat antara dunia akademis dan dunia usaha,” ujar WEF seperti dikutip AFP.
Laporan tersebut menambahkan, Swiss memiliki beberapa daerah yang kompetitif, termasuk sebagai pemimpin dunia dalam efisiensi tenaga kerja serta mempunyai salah satu lingkungan makroekonomi terstabil. Sementara negara-negara Eropa,khususnya Eropa Utara, terus mendominasi daftar 10 negara di dunia dengan ekonomi paling kompetitif, sejumlah negara Eropa lainnya berada dalam daftar bawah.
Sebut saja Yunani yang terhantam krisis utang hingga menjatuhkan peringkatnya dari 90 pada tahun lalu ke 96.Portugal turun ke 49 dari 45 dan Spanyol menempati posisi ke-36. Prancis juga merosot dari daftar 20 teratas ke posisi ke-21 dibandingkan tahun lalu yang berada di peringkat ke-18 dan ke-15 pada 2010.Selain negara tersebut,AS juga terus menurun hingga berada di peringkat ketujuh dari posisi kelima tahun lalu.
Ekonom senior WEF Margareta Drzeniek Hanouz mengatakan, AS masih sebagai salah satu lingkungan bisnis paling canggih di dunia. ”Akan tetapi negara tersebut menghadapi kerentanan besar dalam sektor makroekonomi,termasuk meningkatnya defisit serta adanya kebuntuan politik yang parah dibarengi dengan berkurangnya kepercayaan politisi,” imbuhnya.
Dorong perbaikan
Menteri Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas Armida Alisjahbana enggan membantah pemeringkatan oleh WEF. Namun dia menegaskan, pemerintah telah melakukan banyak hal terkait daya saing yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. ”Saya belum mau banyak komentar, tapi kita telah melakukan banyak hal (untuk) mendorong berbagai faktor yang memicu daya saing Indonesia di dunia internasional,”katanya.
Menurut Armida, pemerintah gencar mendorong pertumbuhan berkualitas seperti infrastruktur dan investasi. Dia menduga survei WEF belum mencakup semua faktor penilaian daya saing. ”Di situ kan ada belasan pilar. Kemudian ada variabelnya, jadi belum tentu semuanya menurun,” katanya.
Meski begitu, Armida mengakui kualitas birokrasi dan kepastian investasi masih menjadi perhatian. ”Itu kita akui dan sedang kita galakkan (pembenahan) saat ini. Kita ada reformasi birokrasi,” ucapnya.
Armida optimistis, tahun ini penilaian dari segi infrastruktur akan membaik. Pemerintah telah berupaya membangun infrastruktur secara merata di setiap provinsi. ”Hasilnya, memang tidak bisa kita lihat langsung, tapi bertahap,” ujarnya.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Erani Yustika mengatakan, survei WEF tahun ini menunjukkan kualitas daya saing Indonesia memburuk.
”Kalau dari urutan ke-46 ke urutan ke-50 itu berarti makin buruk.Saya menduga ini masih terkait faktor regulasi dan kepastian hukum,” ucapnya.
Dari dunia usaha, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengungkapkan, rilis survei WEF berpengaruh besar terhadap dunia usaha. Menurut Sofjan, para pengusaha melihat Indonesia belum memiliki iklim yang bersahabat dengan dunia usaha.
Laporan terbaru Global Competitiveness 2012–2013 World Economic Forum (WEF) menyatakan, daya saing Indonesia untuk 2012–2013 menempati peringkat ke-50 dari 144 negara,turun dibanding tahun lalu di posisi ke-46. Peringkat tersebut jauh jika dibandingkan dengan Malaysia yang menduduki ranking ke-25, Brunei Darussalam (28),China(29),dan Thailand(38). Laporan WEF didasarkan pada data yang tersedia untuk umum dan survei pada 15.000 pemimpin bisnis di 144 negara.
”Turunnya peringkat Indonesia disebabkan permasalahan birokrasi yang tidak menguntungkan untuk sektor bisnis dibarengi dengan banyaknya kejahatan dan tingkat kekerasan yang masih sering terjadi,” ujar WEF dalam laporan Global Competitiveness 2012–2013 yang dilansir kemarin. Kendati demikian, WEF menilai kondisi infrastruktur Indonesia terus membaik. Begitu pula dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga.
Adapun secara global, Swiss dinilai sebagai negara dengan ekonomi paling kompetitif dan inovatif di dunia. Setelah Swiss, Singapura berada di posisi kedua, disusul Finlandia, Swedia, Belanda, dan Jerman (lihat infografis). ”Swiss mendapatkan tempat teratas dalam inovasi karena keunggulan sistem pendidikan, tingginya pengeluaran perusahaan pada penelitian dan pengembangan, serta memiliki kolaborasi yang kuat antara dunia akademis dan dunia usaha,” ujar WEF seperti dikutip AFP.
Laporan tersebut menambahkan, Swiss memiliki beberapa daerah yang kompetitif, termasuk sebagai pemimpin dunia dalam efisiensi tenaga kerja serta mempunyai salah satu lingkungan makroekonomi terstabil. Sementara negara-negara Eropa,khususnya Eropa Utara, terus mendominasi daftar 10 negara di dunia dengan ekonomi paling kompetitif, sejumlah negara Eropa lainnya berada dalam daftar bawah.
Sebut saja Yunani yang terhantam krisis utang hingga menjatuhkan peringkatnya dari 90 pada tahun lalu ke 96.Portugal turun ke 49 dari 45 dan Spanyol menempati posisi ke-36. Prancis juga merosot dari daftar 20 teratas ke posisi ke-21 dibandingkan tahun lalu yang berada di peringkat ke-18 dan ke-15 pada 2010.Selain negara tersebut,AS juga terus menurun hingga berada di peringkat ketujuh dari posisi kelima tahun lalu.
Ekonom senior WEF Margareta Drzeniek Hanouz mengatakan, AS masih sebagai salah satu lingkungan bisnis paling canggih di dunia. ”Akan tetapi negara tersebut menghadapi kerentanan besar dalam sektor makroekonomi,termasuk meningkatnya defisit serta adanya kebuntuan politik yang parah dibarengi dengan berkurangnya kepercayaan politisi,” imbuhnya.
Dorong perbaikan
Menteri Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas Armida Alisjahbana enggan membantah pemeringkatan oleh WEF. Namun dia menegaskan, pemerintah telah melakukan banyak hal terkait daya saing yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. ”Saya belum mau banyak komentar, tapi kita telah melakukan banyak hal (untuk) mendorong berbagai faktor yang memicu daya saing Indonesia di dunia internasional,”katanya.
Menurut Armida, pemerintah gencar mendorong pertumbuhan berkualitas seperti infrastruktur dan investasi. Dia menduga survei WEF belum mencakup semua faktor penilaian daya saing. ”Di situ kan ada belasan pilar. Kemudian ada variabelnya, jadi belum tentu semuanya menurun,” katanya.
Meski begitu, Armida mengakui kualitas birokrasi dan kepastian investasi masih menjadi perhatian. ”Itu kita akui dan sedang kita galakkan (pembenahan) saat ini. Kita ada reformasi birokrasi,” ucapnya.
Armida optimistis, tahun ini penilaian dari segi infrastruktur akan membaik. Pemerintah telah berupaya membangun infrastruktur secara merata di setiap provinsi. ”Hasilnya, memang tidak bisa kita lihat langsung, tapi bertahap,” ujarnya.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Erani Yustika mengatakan, survei WEF tahun ini menunjukkan kualitas daya saing Indonesia memburuk.
”Kalau dari urutan ke-46 ke urutan ke-50 itu berarti makin buruk.Saya menduga ini masih terkait faktor regulasi dan kepastian hukum,” ucapnya.
Dari dunia usaha, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengungkapkan, rilis survei WEF berpengaruh besar terhadap dunia usaha. Menurut Sofjan, para pengusaha melihat Indonesia belum memiliki iklim yang bersahabat dengan dunia usaha.
(gpr)
Lihat Juga :