Agustus terjadi capital outflow
Kamis, 06 September 2012 - 11:38 WIB
Agustus terjadi capital outflow
A
A
A
Sindonews.com - Pasar keuangan Indonesia mencatat terjadinya net capital outflow atau total arus modal keluar pada Agustus sebesar Rp410 miliar yang berasal dari portofolio saham, surat utang negara (SUN), dan SBI.
Secara keseluruhan, pada Agustus tercatat dana asing masuk (capital inflow) ke saham sebesar Rp410 miliar, sementara ke SBI sebesar Rp590 miliar,tetapi ada capital outflow yang cukup besar dari SUN sebesar Rp1,41 triliun.Terjadinya net outflow hingga level Rp410 miliar dianggap cukup signifikan, mengingat pada akhir Juli masih terjadi net capital inflow atau total arus modal masuk sebesar Rp14,5 triliun.
Net capital inflow sebesar Rp14,1 triliun terjadi karena ada dana masuk ke pasar saham sebesar Rp4,59 triliun dan pasar SUN sebesar Rp10,14 triliun sementara di pasar SBI terjadi outflow sebesar Rp230 miliar.
“Terlihat bahwa di bulan Agustus tercatat ada dana asing masuk dalam sistem keuangan kita yang keluar walaupun sampai minggu kedua Agustus itu (masih) net inflow. Sebelumnya, di Juli,itu net capital inflow, jadi kondisi Agustus itu ada sedikit outflow,” tutur Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XI, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, kemarin.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro mengatakan, besarnya arus modal yang keluar pada Agustus lebih disebabkan kondisi perekonomian global yang belum membaik. Menurutnya, kondisi ekonomi global yang memburuk membuat penanam modal asing di Indonesia mengambil dananya untuk menyelamatkan aset mereka di luar negeri.
“Waktu itu memang ada gejolak ekonomi dunia jadi banyak orang yang men-secure asetnya, jadi untuk menjaga asetnya yang bergejolak di Eropa (dana) yang di Indonesia, dia tarik untuk cover kerugian dia di Amerika dan di Eropa,” papar Bambang.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengingatkan capital outflow seperti yang terjadi pada Agustus lalu merupakan hal yang biasa sehingga tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Bambang juga meyakini, tren capital outflow akan berlalu dan ke depan akan berganti menjadi capital inflow. “Yang penting kita kan nggak selalu outflow terus, kadang dibalik inflow. Itu kan sebentar artinya kondisi baik lagi dan (melihat) kondisi belakangan kemungkinan inflow akan lebih besar. Menjelang akhir tahun, trennya akan sedikit lebih baik,” ujarnya.
Sebagai informasi, sepanjang 2012 terjadi empat kali net capital inflow sementara selebihnya outflow. Net capital inflow terjadi pada Januari (Rp15,41 triliun), Maret (Rp3,50 triliun),April (Rp5,15 triliun), Juli (Rp14,50 triliun).
Sementara, pada Februari terjadi outflow sebesar Rp10,11 triliun, Mei (Rp14,66 triliun), Juni (Rp2,82 triliun), dan Agustus (Rp410 miliar). Kementerian Keuangan juga mencatat, pada 31 Agustus, yield atau imbal hasil SUN domestik berada pada posisi 6,26 persen lebih tinggi dibandingkan 31 Juli (5,71 persen).
Sementara, yield Global Bond berada pada posisi 3,35 persen atau lebih tinggi dibandingkan 31 Juli 2012 (3,19 persen). Imbal hasil SUN Domestik dan Global Bond mengalami tekanan karena dipengaruhi krisis ekonomi yang belum membaik serta rencana quantitative easing ketiga Amerika Serikat yang belum bisa dipastikan waktunya. Hal ini memicu investor untuk berada dalam kondisi wait and see dan mengalihkan asetnya dalam bentuk emas dan dolar Amerika Serikat.
Sebelumnya ekonom AS Robert F Bruner dalam kunjungannya ke Indonesia mengatakan bahwa krisis Eropa yang berdampak global saat ini masih mendorong terjadinya pengalihan investasi ke kawasan Asia, salah satunya ke Indonesia.
Rektor Darden School of Business Universitas Virginia itu mengatakan, krisis di Eropa dan lambatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika membuat investor mengalihkan modal ke negara-negara yang berprospek kaya akan komoditas dan juga jauh dari dampak krisis. “Mereka bisa saja memindahkan modal ke Asia. Dan Indonesia terbuka untuk itu,” ungkap Robert.
Secara keseluruhan, pada Agustus tercatat dana asing masuk (capital inflow) ke saham sebesar Rp410 miliar, sementara ke SBI sebesar Rp590 miliar,tetapi ada capital outflow yang cukup besar dari SUN sebesar Rp1,41 triliun.Terjadinya net outflow hingga level Rp410 miliar dianggap cukup signifikan, mengingat pada akhir Juli masih terjadi net capital inflow atau total arus modal masuk sebesar Rp14,5 triliun.
Net capital inflow sebesar Rp14,1 triliun terjadi karena ada dana masuk ke pasar saham sebesar Rp4,59 triliun dan pasar SUN sebesar Rp10,14 triliun sementara di pasar SBI terjadi outflow sebesar Rp230 miliar.
“Terlihat bahwa di bulan Agustus tercatat ada dana asing masuk dalam sistem keuangan kita yang keluar walaupun sampai minggu kedua Agustus itu (masih) net inflow. Sebelumnya, di Juli,itu net capital inflow, jadi kondisi Agustus itu ada sedikit outflow,” tutur Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XI, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, kemarin.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro mengatakan, besarnya arus modal yang keluar pada Agustus lebih disebabkan kondisi perekonomian global yang belum membaik. Menurutnya, kondisi ekonomi global yang memburuk membuat penanam modal asing di Indonesia mengambil dananya untuk menyelamatkan aset mereka di luar negeri.
“Waktu itu memang ada gejolak ekonomi dunia jadi banyak orang yang men-secure asetnya, jadi untuk menjaga asetnya yang bergejolak di Eropa (dana) yang di Indonesia, dia tarik untuk cover kerugian dia di Amerika dan di Eropa,” papar Bambang.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengingatkan capital outflow seperti yang terjadi pada Agustus lalu merupakan hal yang biasa sehingga tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Bambang juga meyakini, tren capital outflow akan berlalu dan ke depan akan berganti menjadi capital inflow. “Yang penting kita kan nggak selalu outflow terus, kadang dibalik inflow. Itu kan sebentar artinya kondisi baik lagi dan (melihat) kondisi belakangan kemungkinan inflow akan lebih besar. Menjelang akhir tahun, trennya akan sedikit lebih baik,” ujarnya.
Sebagai informasi, sepanjang 2012 terjadi empat kali net capital inflow sementara selebihnya outflow. Net capital inflow terjadi pada Januari (Rp15,41 triliun), Maret (Rp3,50 triliun),April (Rp5,15 triliun), Juli (Rp14,50 triliun).
Sementara, pada Februari terjadi outflow sebesar Rp10,11 triliun, Mei (Rp14,66 triliun), Juni (Rp2,82 triliun), dan Agustus (Rp410 miliar). Kementerian Keuangan juga mencatat, pada 31 Agustus, yield atau imbal hasil SUN domestik berada pada posisi 6,26 persen lebih tinggi dibandingkan 31 Juli (5,71 persen).
Sementara, yield Global Bond berada pada posisi 3,35 persen atau lebih tinggi dibandingkan 31 Juli 2012 (3,19 persen). Imbal hasil SUN Domestik dan Global Bond mengalami tekanan karena dipengaruhi krisis ekonomi yang belum membaik serta rencana quantitative easing ketiga Amerika Serikat yang belum bisa dipastikan waktunya. Hal ini memicu investor untuk berada dalam kondisi wait and see dan mengalihkan asetnya dalam bentuk emas dan dolar Amerika Serikat.
Sebelumnya ekonom AS Robert F Bruner dalam kunjungannya ke Indonesia mengatakan bahwa krisis Eropa yang berdampak global saat ini masih mendorong terjadinya pengalihan investasi ke kawasan Asia, salah satunya ke Indonesia.
Rektor Darden School of Business Universitas Virginia itu mengatakan, krisis di Eropa dan lambatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika membuat investor mengalihkan modal ke negara-negara yang berprospek kaya akan komoditas dan juga jauh dari dampak krisis. “Mereka bisa saja memindahkan modal ke Asia. Dan Indonesia terbuka untuk itu,” ungkap Robert.
(gpr)
Lihat Juga :