UE sambut pembelian obligasi ECB

Sabtu, 08 September 2012 - 12:00 WIB
UE sambut pembelian...
UE sambut pembelian obligasi ECB
A A A
Sindonews.com - Para pemimpin Uni Eropa (UE) menyambut baik kebijakan pembelian obligasi dari Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB). Program tersebut diharapkan membantu negara anggota zona euro yang sedang dihadapkan pada tingginya biaya pinjaman.

Namun, rencana pembelian surat utang tak terbatas oleh ECB tersebut mendapat kecaman dari Bank Sentral Jerman (Bundesbank) karena berisiko terhadap kebijakan moneter serta kebijakan fiskal. Tekanan politik juga diperkirakan datang dari Parlemen Jerman yang pekan depan diperkirakan mengambil keputusan tentang dukungannya kepada ECB.

Hal ini bertolak belakang dengan dukungan Kanselir Angela Merkel yang justru mendukung langkah ECB. Kamis (6/9) waktu Brussels, Belgia, Dewan Gubernur ECB mengeluarkan program pembelian obligasi pemerintah negara negara Eropa yang dililit utang dalam jumlah tak terbatas. Belanja obligasi tak terbatas tersebut ditujukan bagi surat utang dengan masa jatuh tempo maksimal tiga tahun. Kendati demikian, rencana tersebut belum juga meredakan kekhawatiran para pembuat kebijakan terutama di sektor moneter.

Hal ini dibuktikan dengan direvisinya outlook pertumbuhan zona euro oleh ECB di mana tahun depan diprediksi hanya tumbuh 0,5 persen. Sementara tahun ini diperkirakan terjadi kontraksi 0,4 persen. Proyeksi terbaru ECB tersebut lebih pesimistis dibanding perkiraan sebelumnya pada Juni lalu di mana kontraksi ekonomi zona euro hanya 0,1 persen pada 2012 dan tumbuh 1 persen pada 2013.

Selain itu, ECB juga meningkatkan perkiraan laju inflasi tahun ini menjadi 2,5 persen, naik dari sebelumnya 2,4 persen. Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron dan Presiden Prancis Francois Hollande menyambut baik program ECB yang dinamai Outright Monetary Transactions (OMTs) itu. Menurut Cameron, pihaknya telah mengatakan selama dua tahun lalu bahwa otoritas moneter Eropa itu siap bukan hanya untuk membuat laporan keuangan, namun untuk mendukung laporan keuangan dengan nyata dan terencana.

“Kami menyambut baik program tersebut karena langkah- langkah yang diambil penting bagi negara-negara seperti Inggris,” kata Cameron. Senada dengan Cameron, Hollande mengungkapkan bahwa ECB telah bertindak sejalan dengan mandat yang telah diberikan untuk menjaga pertumbuhan di Eropa. Menteri Keuangan Prancis Pierre Moscovici juga menyambut baik inisiatif bank sentral.

“Saya salut dengan tindakan yang diambil ECB karena menyelamatkan Eropa merupakan salah satu misi bank sentral. Saya juga menyambut baik visi yang dikembangkan oleh Gubernur ECB Mario Draghi, selanjutnya diperlukan dukungan dari negara- negara zona euro terhadap visi tersebut,”kata dia. Pada saat yang sama PM Italia Mario Monti menyebut rencana ECB sebagai langkah maju yang penting untuk zona euro.

“Masalah lonjakan biaya pinjaman bukan hanya di Italia, tetapi juga mengancam zona euro secara keseluruhan sehingga menimbulkan intervensi umum yang diperlukan,” ungkapnya. Seperti diketahui, imbal hasil obligasi Spanyol dan Italia dalam beberapa bulan terakhir menyentuh rekor tertinggi di atas 6% akibat turunnya kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi kedua negara tersebut.

Level suku bunga obligasi tersebut mirip dengan kondisi di Irlandia, Portugal, dan Yunani sebelum mendapatkan dana talangan dari lembaga donor internasional. Kepala Ekonomi UE Olli Rehn mengutarakan, program pembelian surat utang ECB akan membantu memulihkan kepercayaan investor.Namun, dia memperingatkan, pemerintah negara-negara zona euro masih rentan serta harus terus mengambil tindakan yang ditentukan untuk keuangan publik yang sehat dan pertumbuhan yang berkelanjutan serta penciptaan lapangan kerja.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) juga mendukung rencana bank sentral. “Kami melihat aksi ECB sebagai langkah penting guna memperkuat stabilitas dan pertumbuhan di kawasan Eropa,” papar Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde. Di lain pihak, Gubernur Bundesbank Jens Weidmann menegaskan kembali sikapnya untuk menentang program baru ECB.

Dia menganggap pembelian obligasi sama saja seperti membiayai percetakan uang kertas pemerintah sehingga berisiko terhadap kebijakan moneter serta kebijakan fiskal. “Jika skema tersebut menyebabkan negara-negara anggota Eropa menunda reformasi yang diperlukan, lebih lanjut, hal itu akan merusak kepercayaan dalam kemampuan pemimpin politik terhadap penyelesaian krisis,”kata Weidmann (mai)
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Uni Eropa Jamin Semua...
Uni Eropa Jamin Semua Vaksin Boleh Digunakan
Lawan Disinformasi,...
Lawan Disinformasi, Uni Eropa Bentuk Kementerian Kebenaran
Kacaukan Logistik Pasukan...
Kacaukan Logistik Pasukan Rusia, Ukraina Rusak Jembatan di Wilayah Selatan
Uni Eropa Kini Tak Lagi...
Uni Eropa Kini Tak Lagi Relevan di Pangung Geopolitik, Ini 3 Alasannya
Presiden Jokowi di KTT...
Presiden Jokowi di KTT ASEAN - Uni Eropa
Duta Besar Uni Eropa...
Duta Besar Uni Eropa Denis Chaibi Jadi Dosen Tamu di UKI
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
4 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
4 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
4 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
5 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
5 jam yang lalu
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
5 jam yang lalu
Infografis
Standar Ganda AS pada...
Standar Ganda AS pada Pembelian S-400 oleh Turki dan India
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved