Proyek kabel Jawa-Bali dipercepat
Senin, 10 September 2012 - 10:54 WIB
Proyek kabel Jawa-Bali dipercepat
A
A
A
Sindonews.com - Perusahaan Listrik Negara (Persero) mempercepat pelaksanaan proyek kabel listrik bawah laut Jawa-Bali yang dikerjakan perusahaan asal Jepang, Sumitomo Corp. Proyek senilai Rp450 miliar ini diharapkan beroperasi akhir tahun ini.
Direktur Konstruksi PLN Nasri Sebayang menjelaskan, pengoperasian kabel listrik tersebut akan menambah pasokan listrik Bali sebesar 240 megawatt (MW).
Saat ini, kata dia, konstruksinya sudah mencapai 80 persen. “Kalau tidak November, paling lambat Desember sudah selesai,” kata Nasri saat dihubungi SINDO, kemarin.
Selain membangun kabel bawah laut, PLN juga mengembangkan kabel listrik atas laut (overhead crossing) yang menghubungkan Jawa dan Bali senilai USD240 juta.
Kabel ini akan membawa listrik sampai 1.800 MW ke Bali.Kabel berdaya 500 kilovolt (kV) tegangan tinggi arus bolak-balik (high voltage alternating current/HVAC) itu akan menghubungkan jalur Paiton-Banyuwangi-Gilimanuk-New Kapal.
Pembangunan kabel bawah laut dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama perseroan akan membangun dua menara setinggi 376 meter yang masing-masing berada di Jawa dan Bali. Tahap berikutnya PLN mengoperasikan transmisi 150 kilovolt yang sudah ada dan bisa masuk ke gardu induk Gilimanuk. “Konstruksinya dimulai September ini,” ungkapnya.
General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Jaringan Jawa Bali (UIPRingJB) Yusuf Mirand mengatakan, pengoperasian kabel tersebut akan mengurangi pemakaian BBM di pembangkit yang memasok listrik ke Bali. Saat ini pembangkit listrik di wilayah distribusi Bali 100 persen masih menggunakan BBM.
“Area distribusi Bali merupakan pengguna BBM terbesar untuk pembangkit listrik. Jadi, ada penghematan PLN tiap bulan dari itu,” katanya.
Anggota Dewan Energi Nasional Mutakhsor mengatakan, pembangunan kabel listrik bawah laut dan atas laut Jawa-Bali hanyalah solusi jangka pendek. Solusi itu menurut dia tidak menciptakan jaminan pasokan yang berkelanjutan.
Menurut dia, kebutuhan listrik di Jawa akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan industri di wilayah itu. Dengan memasok listrik ke Bali, sistem Jawa akan semakin dibebani. Untuk itu, PLN juga harus membangun pembangkit listrik di Bali.
“Proyek pembangkit panas bumi juga harus serius dipikirkan oleh PLN dan pemerintah daerah di Bali karena tidak bijak jika hanya mau menerima energi dari tempat lain tetapi menolak untuk mendirikan pembangkit di tempatnya sendiri,” ujar Mutakhsor.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, pembangunan kabel bawah dan atas laut Jawa Bali merupakan opsi yang paling ekonomis dan andal untuk memperkuat pasokan listrik di Bali. Sebab, rencana pembangunan pembangkit diBali masih terkendala ketersediaan lahan.
Direktur Konstruksi PLN Nasri Sebayang menjelaskan, pengoperasian kabel listrik tersebut akan menambah pasokan listrik Bali sebesar 240 megawatt (MW).
Saat ini, kata dia, konstruksinya sudah mencapai 80 persen. “Kalau tidak November, paling lambat Desember sudah selesai,” kata Nasri saat dihubungi SINDO, kemarin.
Selain membangun kabel bawah laut, PLN juga mengembangkan kabel listrik atas laut (overhead crossing) yang menghubungkan Jawa dan Bali senilai USD240 juta.
Kabel ini akan membawa listrik sampai 1.800 MW ke Bali.Kabel berdaya 500 kilovolt (kV) tegangan tinggi arus bolak-balik (high voltage alternating current/HVAC) itu akan menghubungkan jalur Paiton-Banyuwangi-Gilimanuk-New Kapal.
Pembangunan kabel bawah laut dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama perseroan akan membangun dua menara setinggi 376 meter yang masing-masing berada di Jawa dan Bali. Tahap berikutnya PLN mengoperasikan transmisi 150 kilovolt yang sudah ada dan bisa masuk ke gardu induk Gilimanuk. “Konstruksinya dimulai September ini,” ungkapnya.
General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Jaringan Jawa Bali (UIPRingJB) Yusuf Mirand mengatakan, pengoperasian kabel tersebut akan mengurangi pemakaian BBM di pembangkit yang memasok listrik ke Bali. Saat ini pembangkit listrik di wilayah distribusi Bali 100 persen masih menggunakan BBM.
“Area distribusi Bali merupakan pengguna BBM terbesar untuk pembangkit listrik. Jadi, ada penghematan PLN tiap bulan dari itu,” katanya.
Anggota Dewan Energi Nasional Mutakhsor mengatakan, pembangunan kabel listrik bawah laut dan atas laut Jawa-Bali hanyalah solusi jangka pendek. Solusi itu menurut dia tidak menciptakan jaminan pasokan yang berkelanjutan.
Menurut dia, kebutuhan listrik di Jawa akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan industri di wilayah itu. Dengan memasok listrik ke Bali, sistem Jawa akan semakin dibebani. Untuk itu, PLN juga harus membangun pembangkit listrik di Bali.
“Proyek pembangkit panas bumi juga harus serius dipikirkan oleh PLN dan pemerintah daerah di Bali karena tidak bijak jika hanya mau menerima energi dari tempat lain tetapi menolak untuk mendirikan pembangkit di tempatnya sendiri,” ujar Mutakhsor.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, pembangunan kabel bawah dan atas laut Jawa Bali merupakan opsi yang paling ekonomis dan andal untuk memperkuat pasokan listrik di Bali. Sebab, rencana pembangunan pembangkit diBali masih terkendala ketersediaan lahan.
(gpr)
Lihat Juga :