Surplus perdagangan China USD26,7 M
Selasa, 11 September 2012 - 11:10 WIB
Surplus perdagangan China USD26,7 M
A
A
A
Sindonews.com - Surplus perdagangan China meningkat menjadi USD26,7 miliar pada Agustus karena kenaikan ekspor serta turunnya impor. Lemahnya data impor menambah kekhawatiran mengenai perlambatan tajam dalam ekonomi domestik China.
Kantor Administrasi Umum dan Bea Cukai China menyatakan, bulan lalu ekspor naik 2,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya atau turun dari ekspektasi kenaikan 3 persen. Sementara, impor sebesar 2,6 persen dari tahun lalu akibat lemahnya konsumsi dalam negeri.
Lemahnya data tersebut merupakan pukulan bagi negara yang kontribusi ekspornya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 25 persen. Ekspor juga telah menjadi penyedia lapangan kerja utama bagi China dengan 200 juta pekerjaan.
Analis memperkirakan, perekonomian China kini tengah berada dalam tahun terlemah dari ekspansi besar-besaran sejak 1999 silam. “Penurunan impor yang mengejutkan merupakan hal tidak biasa. Itu adalah sebuah tanda yang mengkhawatirkan bagi Pemerintah China,” ujar kepala ekonom Nomura Hong Kong, Zhang Zhiwei dikutip Reuters, kemarin.
Beberapa ekonom khawatir mengenai kemungkinan China tidak akan mencapai target pertumbuhan tahun ini sebesar 7,5 persen tanpa memanfaatkan stimulus baru. Namun, kekhawatiran tersebut sepertinya bakal berkurang karena pekan lalu Beijing menyatakan siap menggelontorkan dana infrastruktur senilai USD150 miliar lebih. Data perdagangan China Agustus lalu merupakan yang terburuk sejak krisis keuangan global.
Hal itu menggarisbawahi peringatan dari Presiden China Hu Jintao kepada para pemimpin Asia Pasifik terhadap tantangan berat menghadapi pertumbuhan global.
Menanggapi pernyataan Hu, ekonom Daiwa Kevin Lai memaparkan, adalah hal biasa baginya untuk membuat pernyataan mengenai perekonomian dalam sebuah pertemuan internasional. Namun bisa juga merupakan sinyal mengenai kekhawatiran di China yang berpotensi menjadi kekhawatiran untuk wilayah Asia yang lebih luas.
Kantor Administrasi Umum dan Bea Cukai China menyatakan, bulan lalu ekspor naik 2,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya atau turun dari ekspektasi kenaikan 3 persen. Sementara, impor sebesar 2,6 persen dari tahun lalu akibat lemahnya konsumsi dalam negeri.
Lemahnya data tersebut merupakan pukulan bagi negara yang kontribusi ekspornya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 25 persen. Ekspor juga telah menjadi penyedia lapangan kerja utama bagi China dengan 200 juta pekerjaan.
Analis memperkirakan, perekonomian China kini tengah berada dalam tahun terlemah dari ekspansi besar-besaran sejak 1999 silam. “Penurunan impor yang mengejutkan merupakan hal tidak biasa. Itu adalah sebuah tanda yang mengkhawatirkan bagi Pemerintah China,” ujar kepala ekonom Nomura Hong Kong, Zhang Zhiwei dikutip Reuters, kemarin.
Beberapa ekonom khawatir mengenai kemungkinan China tidak akan mencapai target pertumbuhan tahun ini sebesar 7,5 persen tanpa memanfaatkan stimulus baru. Namun, kekhawatiran tersebut sepertinya bakal berkurang karena pekan lalu Beijing menyatakan siap menggelontorkan dana infrastruktur senilai USD150 miliar lebih. Data perdagangan China Agustus lalu merupakan yang terburuk sejak krisis keuangan global.
Hal itu menggarisbawahi peringatan dari Presiden China Hu Jintao kepada para pemimpin Asia Pasifik terhadap tantangan berat menghadapi pertumbuhan global.
Menanggapi pernyataan Hu, ekonom Daiwa Kevin Lai memaparkan, adalah hal biasa baginya untuk membuat pernyataan mengenai perekonomian dalam sebuah pertemuan internasional. Namun bisa juga merupakan sinyal mengenai kekhawatiran di China yang berpotensi menjadi kekhawatiran untuk wilayah Asia yang lebih luas.
(gpr)
Lihat Juga :