Kisaran pertumbuhan ekonomi RI diturunkan

Selasa, 11 September 2012 - 11:33 WIB
Kisaran pertumbuhan...
Kisaran pertumbuhan ekonomi RI diturunkan
A A A
Sindonews.com - Pemerintah mengubah target kisaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 menjadi 6,5–7% dari sebelumnya 6,8–7,2% terkait situasi perekonomian global.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, perubahan kisaran pertumbuhan tersebut sebagai antisipasi dari situasi global yang bisa saja membaik ataupun memburuk tahun depan.Namun, pertumbuhan ekonomi tetap ditargetkan sebesar 6,8% pada tahun mendatang.

“Saat bicara pertumbuhan, situasi berubah. Kalau disetujui (Komisi XI),akan diberikan catatan kalau Banggar (Badan Anggaran) bisa memberikan koreksi antara 6,5–7%,” tutur Agus Marto saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, kemarin.

Sebagai informasi, saat pemerintah bersama Banggar membuka pembahasan asumsi makro 2013 untuk pertama kalinya, Juli lalu,mereka sepakat menentukan kisaran pertumbuhan sebesar 6,8–7,2%.

Seiring memburuknya pertumbuhan ekonomi global, pemerintah terus mengoreksi target pertumbuhan hingga ditetapkan sebesar 6,8% pada RAPBN 2013.Namun, kisaran pertumbuhan kembali dikoreksi dalam pembahasan bersama Komisi XI DPR kemarin, menyusul kekhawatiran semakin memburuknya perekonomian global.

Di tempat yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mendukung langkah pemerintah yang menurunkan kisaran target pertumbuhan ekonomi 2013.

Menurut Darmin, sulit bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan 6,8% pada tahun depan tanpa dibarengi dengan kinerja investasi dan ekspor yang luar biasa. Darmin juga mengingatkan bahwa BI telah menurunkan kisaran pertumbuhan versinya dari 6,6–6,7% menjadi 6,5–6,7%.

“Investasi harus lebih tinggi, ekspornya harus lebih tinggi, bisa nggak? Kalau bisa maka (pertumbuhan bisa) 6,8%.Artinya, bisa nggak melakukan investasi dan mengundang investasi bukan hanya USD15 miliar tetapi di atas USD20 miliar. Bisa nggak pertumbuhan ekspornya di atas yang terjadi sekarang- sekarang ini,” papar Darmin.

Dia menambahkan, efek melambatnya pertumbuhan ekonomi China dan negara lain sudah terlihat mulai semester II tahun ini dan akan semakin membesar tahun depan. Karena itulah,ekspor masih sulit diharapkan menjadi motor pertumbuhan pada tahun 2013. Untuk menggenjot investasi, Darmin mengatakan bahwa pemerintah bersama swasta harus bisa mewujudkan rencana yang sudah ada seperti Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

“Tinggal bagaimana pemerintah menyediakan infrastruktur dasar, rencana detail tata ruangnya beres, akses ruangnya beres, air bersihnya ada. Dengan begitu, lebih mudah mengundang investor, baik membangun untuk listrik maupun industri yang mengolah macam-macam bahan baku,” tandasnya.

Gebrak meja


Dalam rapat membahas RAPBN 2013, sempat terjadi aksi gebrak meja oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Menkeu merasa gusar dengan berlarut-larutnya pembahasan awal RAPBN 2013 yang belum memasuki pembahasan asumsi makro.

“Begini Pak,kemarin Bapak Ibu ada agenda politik, kami maklum,meskipun kami sakit, karena jadwal kami padat, kalau bicara asumsi ini, supaya bisa turunkan, alokasi anggaran-anggaran, supaya kementerian dapat bekerja. Kami seharusnya mendampingi Kementerian ESDM di Komisi VII untuk pembahasan subsidi,” cetusnya.

Berlarutnya pembahasan tersebut disebabkan adanya permintaan anggota Komisi XI terkait indikator kesejahteraan masyarakat seperti asumsi penurunan kemiskinan dan pengangguran serta rasio Gini. Agus bersikeras agar pembahasan dilakukan sesuai jadwal karena berlarutnya hal itu membuat kebijakan menjadi tak jelas.

Namun, Agus juga segera mencairkan suasana dengan memberikan penjelasan bahwa tindakannya hanya meniru Wakil Ketua Komisi XI DPR, yaitu Harry Azhar Azis yang sempat menggebrak meja sewaktu pembahasan RAPBN 2013 beberapa waktu lalu.“Ini saya ngikutin Pak Harry aja,” ungkapnya diiringi tawa para peserta rapat.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
4 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
4 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
4 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
5 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
5 jam yang lalu
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
5 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved