Galau? No way!
Selasa, 11 September 2012 - 11:41 WIB
Galau? No way!
A
A
A
AKHIR-akhir ini istilah “galau”menjadi sangat popular di banyak kalangan, mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, bahkan sampai orang tua.
Coba perhatikan status update dari teman Anda di jejaring sosial atau perhatikan sikap dan kondisi rekan Anda yang sedang berhadapan dengan masalah.Ketika Anda bertanya ada apa dan mengapa,tak jarang Anda bertemu dengan jawaban demikian dari rekan Anda: “Lagi galau nih.” Apa sih sebenarnya arti dari kata “galau” ini?
Setelah melihat berbagai contoh soal dan kejadian di mana kata ini paling sering digunakan, saya pribadi mencoba menyimpulkan dan memaknai kata galau sebagai suatu kondisi di mana seseorang/kelompok orang tidak dapat mengambil keputusan lantaran dihadapkan dengan banyak pertimbangan.
Alih-alih percaya diri menetapkan langkah yang akan diambil, orang yang galau biasanya akan terus berpikir, terus berdiskusi bahkan terus menyelami masalah dan alternatif solusi, tanpa akhirnya ada ujung yang jelas mau berbuat apa. Herannya kegalauan tidak hanya terjadi pada orang per orang, tapi juga terjadi pada kelompok orang dan organisasi bahkan sampai ke tingkatan perusahaan maupun pemerintahan.
Mari kita cermati beberapa contoh berikut.Pemerintah beberapa waktu lalu dengan sangat jelas terlihat sempat mengalami kegalauan ketika dihadapkan dengan situasi apakah akan menaikkan harga BBM atau menundanya.
Di satu sisi pemerintah sadar bahwa subsidi BBM terlalu besar dan peruntukannya belum tetap sasaran. Di sisi lain pemerintah mendapat tekanan dari masyarakat yang tidak setuju dengan kenaikan BBM. Apapun pilihan akhir yang dibuat tentu ada konsekuensinya. Namun, kegalauan tersebut harus berakhir memakan waktu yang relatif cukup panjang. Andai saja bisa diputuskan lebih cepat.
Pada bagian yang lain, banyak perusahaan juga yang acap mengalami kegalauan ketika harus mengambil keputusan bisnis, contohnya saja ketika memilih apakah akan meletakkan investasi di bidang bisnis baru sebagai bagian diversifikasi atau tidak, apakah akan mengurangi jumlah karyawan karena biaya operasional yang tinggi atau tidak.
Terlambat mengambil keputusan tentu akan ada dampak yang harus dihadapi, misalnya pesaing sejenis yang lebih dulu berinvestasi, atau karyawan yang lebih dulu berdemo, dan lain sebagainya. Pada individu orang perorangan,kegalauan meliputi banyak sekali aspek, mulai dari persoalan hubungan, keuangan, keluarga, karir dan banyak lagi macam situasi. Menarik bila dicermati dari setiap persoalan kegalauan tersebut, sebenarnya pilihan selalu sudah tersedia.
Secara psikologis, orang/organisasi yang merasa galau sesungguhnya adalah orang/organisasi yang sudah memiliki pilihan atau options namun tidak dapat atau belum mengambil keputusan mana yang akan dipilih. Orang yang galau berbeda dengan orang yang tidak memiliki pilihan atau tidak tahu bahwa ada pilihan.Dalam kegalauan, ada pilihan namun ada keraguan, ada ketidakyakinan, ada kekhawatiran atau bahkan ada ketakutan tertentu terhadap pilihan-pilihan yang tersedia.
Saya sering berkesimpulan bahwa kegalauan itu sebenarnya adalah produk dari perasaan dan bukan produk dari pemikiran. Perasaan kerap bersifat kualitatif, jadi kurang definitif ketika akan menarik kesimpulan sementara pemikiran sifatnya lebih cenderung kuantitatif dengan dasar logika melihat pro dan kontra. Lalu bagaimana cara terbaik mengatasi kegalauan? Sederhana sekali. Langkah yang paling utama adalah tanamkan prinsip berikut ke dalam pikiran Anda. Prinsip #1: Thing will remain as it is until I make a decision.
Better decide fast! Sampai Anda mengambil keputusan, maka segala sesuatu akan tetap seperti apa adanya. Jadi lebih baik putuskan secepatnya! Kunci menyelesaikan kegalauan adalah keputusan. Keputusan yang baik adalah setelah mempertimbangkan pro dan kontra,Anda memilih yang paling optimal, meskipun tetap masih ada konsekuensinya. Apa pun pilihannya selalu ada plus dan minus,tapi Anda tidak perlu khawatir.
Majulah terus dengan pilihan yang sudah dibuat dan hadapi semuanya dengan penuh percaya diri. Prinsip #2: If you are not sure to decide, find a good coach! Consult and Decide! Jika Anda masih tidak yakin ketika akan memutuskan, cari seorang pelatih/ mentor untuk berkonsultasi, kemudian ambil keputusan! Tetap kuncinya adalah keputusan. Pada masalah yang sangat kompleks, mungkin Anda perlu panduan atau masukan dari orang yang dapat melihat permasalahan serta situasi dengan lebih jernih.
Berkomunikasilah dan paparkan selengkap-lengkapnya situasi Anda kepada orang yang bisa Anda percayai dan Anda hargai sebelum akhirnya Anda tetap harus mengambil keputusan dan menyudahi kegalauan Anda. Kedua prinsip di atas dapat diaplikasikan pada obyek individu maupun organisasi. Bila pemerintah mengalami kegalauan seperti cerita di atas, tentu perlu ada penasihat dan tim yang memberikan masukan yang berguna untuk pengambilan keputusan.
Dalam perusahaan yang sudah matang, biasanya ada tim konsultan bisnis yang selalu membantu dengan berbagai fakta, temuan dan penelitian. Sebagai individu, Anda juga mungkin perlu seseorang yang dapat Anda percayai membantu memberi pertimbangan sebelum Anda mengambil keputusan penting dalam hidup Anda.
Kembali pada prinsip yang pertama, bila pada akhirnya Anda harus tetap mengambil keputusan, ambillah keputusan itu pada koridor waktu yang relatif lebih cepat dengan pertimbangan matang/tidak gegabah sehingga kegalauan tersebut tidak memiliki banyak waktu dan ruang untuk menggerogoti Anda. Salam transformasi!
MEN JUNG, MM
Author – Go To The Next Level! Founder – PT. Spirit Transformation International
[email protected]
Coba perhatikan status update dari teman Anda di jejaring sosial atau perhatikan sikap dan kondisi rekan Anda yang sedang berhadapan dengan masalah.Ketika Anda bertanya ada apa dan mengapa,tak jarang Anda bertemu dengan jawaban demikian dari rekan Anda: “Lagi galau nih.” Apa sih sebenarnya arti dari kata “galau” ini?
Setelah melihat berbagai contoh soal dan kejadian di mana kata ini paling sering digunakan, saya pribadi mencoba menyimpulkan dan memaknai kata galau sebagai suatu kondisi di mana seseorang/kelompok orang tidak dapat mengambil keputusan lantaran dihadapkan dengan banyak pertimbangan.
Alih-alih percaya diri menetapkan langkah yang akan diambil, orang yang galau biasanya akan terus berpikir, terus berdiskusi bahkan terus menyelami masalah dan alternatif solusi, tanpa akhirnya ada ujung yang jelas mau berbuat apa. Herannya kegalauan tidak hanya terjadi pada orang per orang, tapi juga terjadi pada kelompok orang dan organisasi bahkan sampai ke tingkatan perusahaan maupun pemerintahan.
Mari kita cermati beberapa contoh berikut.Pemerintah beberapa waktu lalu dengan sangat jelas terlihat sempat mengalami kegalauan ketika dihadapkan dengan situasi apakah akan menaikkan harga BBM atau menundanya.
Di satu sisi pemerintah sadar bahwa subsidi BBM terlalu besar dan peruntukannya belum tetap sasaran. Di sisi lain pemerintah mendapat tekanan dari masyarakat yang tidak setuju dengan kenaikan BBM. Apapun pilihan akhir yang dibuat tentu ada konsekuensinya. Namun, kegalauan tersebut harus berakhir memakan waktu yang relatif cukup panjang. Andai saja bisa diputuskan lebih cepat.
Pada bagian yang lain, banyak perusahaan juga yang acap mengalami kegalauan ketika harus mengambil keputusan bisnis, contohnya saja ketika memilih apakah akan meletakkan investasi di bidang bisnis baru sebagai bagian diversifikasi atau tidak, apakah akan mengurangi jumlah karyawan karena biaya operasional yang tinggi atau tidak.
Terlambat mengambil keputusan tentu akan ada dampak yang harus dihadapi, misalnya pesaing sejenis yang lebih dulu berinvestasi, atau karyawan yang lebih dulu berdemo, dan lain sebagainya. Pada individu orang perorangan,kegalauan meliputi banyak sekali aspek, mulai dari persoalan hubungan, keuangan, keluarga, karir dan banyak lagi macam situasi. Menarik bila dicermati dari setiap persoalan kegalauan tersebut, sebenarnya pilihan selalu sudah tersedia.
Secara psikologis, orang/organisasi yang merasa galau sesungguhnya adalah orang/organisasi yang sudah memiliki pilihan atau options namun tidak dapat atau belum mengambil keputusan mana yang akan dipilih. Orang yang galau berbeda dengan orang yang tidak memiliki pilihan atau tidak tahu bahwa ada pilihan.Dalam kegalauan, ada pilihan namun ada keraguan, ada ketidakyakinan, ada kekhawatiran atau bahkan ada ketakutan tertentu terhadap pilihan-pilihan yang tersedia.
Saya sering berkesimpulan bahwa kegalauan itu sebenarnya adalah produk dari perasaan dan bukan produk dari pemikiran. Perasaan kerap bersifat kualitatif, jadi kurang definitif ketika akan menarik kesimpulan sementara pemikiran sifatnya lebih cenderung kuantitatif dengan dasar logika melihat pro dan kontra. Lalu bagaimana cara terbaik mengatasi kegalauan? Sederhana sekali. Langkah yang paling utama adalah tanamkan prinsip berikut ke dalam pikiran Anda. Prinsip #1: Thing will remain as it is until I make a decision.
Better decide fast! Sampai Anda mengambil keputusan, maka segala sesuatu akan tetap seperti apa adanya. Jadi lebih baik putuskan secepatnya! Kunci menyelesaikan kegalauan adalah keputusan. Keputusan yang baik adalah setelah mempertimbangkan pro dan kontra,Anda memilih yang paling optimal, meskipun tetap masih ada konsekuensinya. Apa pun pilihannya selalu ada plus dan minus,tapi Anda tidak perlu khawatir.
Majulah terus dengan pilihan yang sudah dibuat dan hadapi semuanya dengan penuh percaya diri. Prinsip #2: If you are not sure to decide, find a good coach! Consult and Decide! Jika Anda masih tidak yakin ketika akan memutuskan, cari seorang pelatih/ mentor untuk berkonsultasi, kemudian ambil keputusan! Tetap kuncinya adalah keputusan. Pada masalah yang sangat kompleks, mungkin Anda perlu panduan atau masukan dari orang yang dapat melihat permasalahan serta situasi dengan lebih jernih.
Berkomunikasilah dan paparkan selengkap-lengkapnya situasi Anda kepada orang yang bisa Anda percayai dan Anda hargai sebelum akhirnya Anda tetap harus mengambil keputusan dan menyudahi kegalauan Anda. Kedua prinsip di atas dapat diaplikasikan pada obyek individu maupun organisasi. Bila pemerintah mengalami kegalauan seperti cerita di atas, tentu perlu ada penasihat dan tim yang memberikan masukan yang berguna untuk pengambilan keputusan.
Dalam perusahaan yang sudah matang, biasanya ada tim konsultan bisnis yang selalu membantu dengan berbagai fakta, temuan dan penelitian. Sebagai individu, Anda juga mungkin perlu seseorang yang dapat Anda percayai membantu memberi pertimbangan sebelum Anda mengambil keputusan penting dalam hidup Anda.
Kembali pada prinsip yang pertama, bila pada akhirnya Anda harus tetap mengambil keputusan, ambillah keputusan itu pada koridor waktu yang relatif lebih cepat dengan pertimbangan matang/tidak gegabah sehingga kegalauan tersebut tidak memiliki banyak waktu dan ruang untuk menggerogoti Anda. Salam transformasi!
MEN JUNG, MM
Author – Go To The Next Level! Founder – PT. Spirit Transformation International
[email protected]
(gpr)
Lihat Juga :