Kinerja emiten tambang diprediksi naik
Rabu, 12 September 2012 - 10:50 WIB
Kinerja emiten tambang diprediksi naik
A
A
A
Sindonews.com - Kinerja Emiten sektor pertambangan diprediksi tumbuh 10–15 persen hingga akhir tahun. Hal ini didorong pernyataan akan dilakukan pencetakan uang secara besar-besaran oleh Bank Sentral Eropa.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menilai, pernyataan yang dikeluarkan Bank Sentral Eropa itu memberikan sinyal positif bagi sektor komoditas, khususnya sektor pertambangan.Jika semuanya membaik maka sektor tambang akan naik 10-15 persen pada akhir tahun ini.
“Secara umum batu bara kalori tinggi masih cukup aman, tetapi jika batu bara rendah itu yang harus lebih kerja keras,” ujar Edwin Sebayang saat ditemui di kantornya di Jakarta kemarin.
Menurut Edwin, perusahaan pertambangan harus menjual di bawah cost of production. Pasalnya, faktor permintaan dari dalam negeri belum bisa diharapkan. “Karena biaya produksi yang tinggi, mereka harus menekan biaya produksi,” katanya.
Dia memaparkan,yang perlu dilakukan perusahaan-perusahaan tambang untuk menekan biaya-biaya produksi tersebut, salah satu caranya dengan mengganti bahan bakar yang tadinya menggunakan solar beralih ke gas, mengganti kontraktor yang lebih murah, menggunakan kapal kecil untuk mengangkut batu bara. “Intinya mengurangi biaya-biaya yang lebih teknis,” katanya.
Edwin memprediksi, beberapa saham tambang yang layak dilakukan transaksi sepanjang semester II/2012 antara lain, saham yang ber-ticker ITMG posisi buy karena berpotensi akan berada di level Rp44.000.
Saat ini berada di kisaran Rp37.000–38.000 per saham, tergolong rendah. Terlebih jika melihat kinerja perseroan yang bagus dengan kemampuan memberikan dividen dan tidak ada utang.
Selain itu, PTBA masih cukup stabil, serta ADRO yang masih cukup bertahan. “Sebenarnya pilihannya tidak banyak,” ungkapnya.
Analis Indosurya Asset Management Reza Priambada menilai, dari pergerakan sahamsaham pertambangan untuk periode berjalan ini cukup stabil. “Tetapi, saya belum melihat adanya tanda-tanda kenaikan,” katanya.
Menurut Reza,perusahaanperusahaan tambang pada semester I/2012 anjlok, pasalnya penjualan mereka turun, dan biaya yang ditanggung masih berjalan. Sehingga,hal itu yang menjadikan kenaikan biayabiaya dan kinerjanya turun. “Ditambah lagi harga komoditas batu bara masih belum stabil,” katanya.
Dia memprediksi, harga batu bara dunia hingga akhir tahun bergerak di level USD90–94 per ton, karena faktor pergerakan ekonomi. Namun dia berharap, jika ekonomi membaik, harga batu bara bisa menyentuh level USD98–99 per ton. “Jika ekonomi stagnan, maka akan sulit,” tandasnya.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menilai, pernyataan yang dikeluarkan Bank Sentral Eropa itu memberikan sinyal positif bagi sektor komoditas, khususnya sektor pertambangan.Jika semuanya membaik maka sektor tambang akan naik 10-15 persen pada akhir tahun ini.
“Secara umum batu bara kalori tinggi masih cukup aman, tetapi jika batu bara rendah itu yang harus lebih kerja keras,” ujar Edwin Sebayang saat ditemui di kantornya di Jakarta kemarin.
Menurut Edwin, perusahaan pertambangan harus menjual di bawah cost of production. Pasalnya, faktor permintaan dari dalam negeri belum bisa diharapkan. “Karena biaya produksi yang tinggi, mereka harus menekan biaya produksi,” katanya.
Dia memaparkan,yang perlu dilakukan perusahaan-perusahaan tambang untuk menekan biaya-biaya produksi tersebut, salah satu caranya dengan mengganti bahan bakar yang tadinya menggunakan solar beralih ke gas, mengganti kontraktor yang lebih murah, menggunakan kapal kecil untuk mengangkut batu bara. “Intinya mengurangi biaya-biaya yang lebih teknis,” katanya.
Edwin memprediksi, beberapa saham tambang yang layak dilakukan transaksi sepanjang semester II/2012 antara lain, saham yang ber-ticker ITMG posisi buy karena berpotensi akan berada di level Rp44.000.
Saat ini berada di kisaran Rp37.000–38.000 per saham, tergolong rendah. Terlebih jika melihat kinerja perseroan yang bagus dengan kemampuan memberikan dividen dan tidak ada utang.
Selain itu, PTBA masih cukup stabil, serta ADRO yang masih cukup bertahan. “Sebenarnya pilihannya tidak banyak,” ungkapnya.
Analis Indosurya Asset Management Reza Priambada menilai, dari pergerakan sahamsaham pertambangan untuk periode berjalan ini cukup stabil. “Tetapi, saya belum melihat adanya tanda-tanda kenaikan,” katanya.
Menurut Reza,perusahaanperusahaan tambang pada semester I/2012 anjlok, pasalnya penjualan mereka turun, dan biaya yang ditanggung masih berjalan. Sehingga,hal itu yang menjadikan kenaikan biayabiaya dan kinerjanya turun. “Ditambah lagi harga komoditas batu bara masih belum stabil,” katanya.
Dia memprediksi, harga batu bara dunia hingga akhir tahun bergerak di level USD90–94 per ton, karena faktor pergerakan ekonomi. Namun dia berharap, jika ekonomi membaik, harga batu bara bisa menyentuh level USD98–99 per ton. “Jika ekonomi stagnan, maka akan sulit,” tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :