Obligasi rekap bebani anggaran negara
Rabu, 12 September 2012 - 11:18 WIB
Obligasi rekap bebani anggaran negara
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis menilai, obligasi rekap yang masih dipegang perbankan hingga saat ini sangat membebani anggaran negara khususnya APBN.
Untuk itu, DPR dalam waktu dekat berencana memanggil beberapa perbankan yang masih menyimpan obligasi rekap pascakrisis ekonomi tahun 1998.
“Ini cukup membebani anggaran ABPN kita karena nilainya sendiri juga cukup besar, sekitar Rp50 triliun sampai Rp60 triliun per tahun,” kata Harry di Jakarta kemarin.
Dia mengatakan, ada beberapa hal yang akan menjadi konsen DPR, di antaranya melakukan evaluasi terharap obligasi rekap tersebut dan melihat apakah obligasi rekap tersebut cukup membebani pemerintah.
“Kita akan diskusikan, untuk melihat bagaimana posisinya, dan mungkin langkah yang kita lakukan mungkin tidak akan membayar lagi bunganya atau memperpanjang tenornya,” tegasnya.
Dia juga mengungkapkan usulan Lembaga Penjamin Simpanan untuk membeli Bank Mutiara dengan obligasi rekap salah satu bank BUMN tersebut masih patut dipertanyakan.
”Karena, pembelian obligasi rekap itu sendiri masih dipertanyakan keabsahannya, apakah hal tersebut ada indikasi pelanggaran hukumnya atau tidak,” jelasnya.
Sementara, pengamat ekonomi dari CIDES Umar Juoro menilai langkah bank untuk menjual obligasi rekap ke pasar akan berpengaruh terhadap kondisi makroekonomi.
“Menurut saya di tahan di bank dulu, situasi sekarang kan BI mau jaga likuiditas, nanti kalau semua melepas obligasi itu, jadi tambahan beban lagi untuk fiskal dan moneter,” kata dia.
mar menegaskan, BI seharusnya memengaruhi bank dalam hal manajemen obligasi rekap. “Agar tidak semua bank menjual, sehingga BI harus menyerap likuiditas, dua kali lagi, sementara dari segi fiskal sudah keluar biaya,” ujar Umar.
Sebelumnya Bank Mandiri akan segera menjual obligasi rekap senilai USD100 juta untuk mengejar pertumbuhan kredit valas yang pada kuartal II tahun ini turun 1,5% dibanding kuartal sebelumnya.
“Dari penjualan obligasi rekap USD100 juta, kami akan mendapat pinjaman valas dengan nilai yang sama,” kata Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Pahala N Masury.
Pahala mengatakan, penjualan obligasi rekap kepada bank yang tidak mau disebutkannya itu sudah mencapai tahap akhir.
Selain itu, Bank Mandiri sudah melakukan diskusi dengan satu bank lain untuk menjual obligasi rekap dengan nilai yang sama, USD100 juta, yang ditargetkan pada kuartal III tahun ini.
Untuk itu, DPR dalam waktu dekat berencana memanggil beberapa perbankan yang masih menyimpan obligasi rekap pascakrisis ekonomi tahun 1998.
“Ini cukup membebani anggaran ABPN kita karena nilainya sendiri juga cukup besar, sekitar Rp50 triliun sampai Rp60 triliun per tahun,” kata Harry di Jakarta kemarin.
Dia mengatakan, ada beberapa hal yang akan menjadi konsen DPR, di antaranya melakukan evaluasi terharap obligasi rekap tersebut dan melihat apakah obligasi rekap tersebut cukup membebani pemerintah.
“Kita akan diskusikan, untuk melihat bagaimana posisinya, dan mungkin langkah yang kita lakukan mungkin tidak akan membayar lagi bunganya atau memperpanjang tenornya,” tegasnya.
Dia juga mengungkapkan usulan Lembaga Penjamin Simpanan untuk membeli Bank Mutiara dengan obligasi rekap salah satu bank BUMN tersebut masih patut dipertanyakan.
”Karena, pembelian obligasi rekap itu sendiri masih dipertanyakan keabsahannya, apakah hal tersebut ada indikasi pelanggaran hukumnya atau tidak,” jelasnya.
Sementara, pengamat ekonomi dari CIDES Umar Juoro menilai langkah bank untuk menjual obligasi rekap ke pasar akan berpengaruh terhadap kondisi makroekonomi.
“Menurut saya di tahan di bank dulu, situasi sekarang kan BI mau jaga likuiditas, nanti kalau semua melepas obligasi itu, jadi tambahan beban lagi untuk fiskal dan moneter,” kata dia.
mar menegaskan, BI seharusnya memengaruhi bank dalam hal manajemen obligasi rekap. “Agar tidak semua bank menjual, sehingga BI harus menyerap likuiditas, dua kali lagi, sementara dari segi fiskal sudah keluar biaya,” ujar Umar.
Sebelumnya Bank Mandiri akan segera menjual obligasi rekap senilai USD100 juta untuk mengejar pertumbuhan kredit valas yang pada kuartal II tahun ini turun 1,5% dibanding kuartal sebelumnya.
“Dari penjualan obligasi rekap USD100 juta, kami akan mendapat pinjaman valas dengan nilai yang sama,” kata Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Pahala N Masury.
Pahala mengatakan, penjualan obligasi rekap kepada bank yang tidak mau disebutkannya itu sudah mencapai tahap akhir.
Selain itu, Bank Mandiri sudah melakukan diskusi dengan satu bank lain untuk menjual obligasi rekap dengan nilai yang sama, USD100 juta, yang ditargetkan pada kuartal III tahun ini.
(gpr)
Lihat Juga :