Defisit transaksi berjalan turun di 2013
Jum'at, 14 September 2012 - 10:42 WIB
Defisit transaksi berjalan turun di 2013
A
A
A
Sindonews.com - Defisit transaksi berjalan diyakini akan terus berkurang ke depan. Pada 2013 defisit transaksi berjalan bahkan diprediksi hanya tinggal 1 persen dari produk domestik bruto (PDB).
“Pada 2013 defisit transaksi berjalan saya perkirakan sekitar 1–1,5 persen tetapi di 2012 masih 2 persen,” ucap Kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti dalam acara Macroeconomic Outlook Bank Mandiri Group,di Jakarta,kemarin. Namun, Destry mengingatkan bahwa defisit tersebut bisa saja kembali membesar pada 2015 saat Indonesia dan sembilan negara lainnya masuk dalam ASEAN Economic Community 2015.
Pasalnya,kesepakatan tersebut membuat Indonesia dan negara ASEAN lainnya harus masuk dalam pasar bebas, baik perdagangan maupun jasa. Destry juga mengingatkan bahwa kompetisi antarnegara untuk mendapatkan pasar impor semakin besar sehingga Indonesia bisa dibanjiri barang impor dari negara lain.
Begitu juga dengan bebasnya lalu lintas tenaga asing dari 10 negara di ASEAN yang bisa membuat transaksi jasa dan pembayaran semakin defisit yang berujung pada melebarnya defisit transaksi berjalan. “Ya makanya harus siap-siap karena dari sekarang juga sudah mulai barang-barang (masuk). Makanya harus ada pengetatan seperti SNI, impor buah kita saja sampai USD700 juta padahal kita punya banyak buah-buahan,”imbuhnya.
Sebagai informasi, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan akan berada di angka 2 persen dari PDB pada akhir tahun atau jauh lebih rendah dibandingkan defisit pada kuartal II/2012 yang mencapai 3,1 persen dari PDB atau sekitar USD6,9 miliar. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II/2012 tersebut lebih besar dibandingkan dengan kuartal I/2012 yang hanya 1,5 persen dari PDB terjadi karena besarnya defisit transaksi jasa dan pembayaran, menyusul besarnya investasi di Indonesia.
Destry menuturkan, pemerintah memang tidak bisa menekan defisit transaksi berjalan secara instan karena hal itu membutuhkan waktu serta usaha dari berbagai kalangan. Untuk mengurangi defisit transaksi jasa dan pembayaran, misalnya, Indonesia harus memperbaiki kualitas sumber daya manusia sehingga Indonesia tidak lagi terlalu tergantung pada tenaga asing. Ekonom Mandiri Securitas Aldian Taloputra mengatakan, defisit transaksi berjalan, ke depan, akan membaik.
Selain karena didorong ekspor yang naik, impor juga menurun. Aldian menyampaikan, Indonesia juga pernah mengalami kondisi defisit transaksi berjalan yang terus melebar serta rasio investasi yang besar terhadap PDB sebelum krisis 1997-1998. Namun, kondisi saat itu berbeda dibandingkan saat itu karena nilai tukar rupiah yang dipatok BI.
Defisit transaksi berjalan saat ini masih lebih baik karena BI diyakini tidak akan berdiam diri melihat transaksi yang terus defisit sementara pada 1997-1998, BI tidak bisa mencampuri pergerakan rupiah dalam menekan defisit transaksi berjalan. “Memang kondisinya mirip, ceritanya masih sejalan. Waktu krisis 1997, kita lihat rupiah kita juga belum floating,”ucapnya. (mai)
“Pada 2013 defisit transaksi berjalan saya perkirakan sekitar 1–1,5 persen tetapi di 2012 masih 2 persen,” ucap Kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti dalam acara Macroeconomic Outlook Bank Mandiri Group,di Jakarta,kemarin. Namun, Destry mengingatkan bahwa defisit tersebut bisa saja kembali membesar pada 2015 saat Indonesia dan sembilan negara lainnya masuk dalam ASEAN Economic Community 2015.
Pasalnya,kesepakatan tersebut membuat Indonesia dan negara ASEAN lainnya harus masuk dalam pasar bebas, baik perdagangan maupun jasa. Destry juga mengingatkan bahwa kompetisi antarnegara untuk mendapatkan pasar impor semakin besar sehingga Indonesia bisa dibanjiri barang impor dari negara lain.
Begitu juga dengan bebasnya lalu lintas tenaga asing dari 10 negara di ASEAN yang bisa membuat transaksi jasa dan pembayaran semakin defisit yang berujung pada melebarnya defisit transaksi berjalan. “Ya makanya harus siap-siap karena dari sekarang juga sudah mulai barang-barang (masuk). Makanya harus ada pengetatan seperti SNI, impor buah kita saja sampai USD700 juta padahal kita punya banyak buah-buahan,”imbuhnya.
Sebagai informasi, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan akan berada di angka 2 persen dari PDB pada akhir tahun atau jauh lebih rendah dibandingkan defisit pada kuartal II/2012 yang mencapai 3,1 persen dari PDB atau sekitar USD6,9 miliar. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II/2012 tersebut lebih besar dibandingkan dengan kuartal I/2012 yang hanya 1,5 persen dari PDB terjadi karena besarnya defisit transaksi jasa dan pembayaran, menyusul besarnya investasi di Indonesia.
Destry menuturkan, pemerintah memang tidak bisa menekan defisit transaksi berjalan secara instan karena hal itu membutuhkan waktu serta usaha dari berbagai kalangan. Untuk mengurangi defisit transaksi jasa dan pembayaran, misalnya, Indonesia harus memperbaiki kualitas sumber daya manusia sehingga Indonesia tidak lagi terlalu tergantung pada tenaga asing. Ekonom Mandiri Securitas Aldian Taloputra mengatakan, defisit transaksi berjalan, ke depan, akan membaik.
Selain karena didorong ekspor yang naik, impor juga menurun. Aldian menyampaikan, Indonesia juga pernah mengalami kondisi defisit transaksi berjalan yang terus melebar serta rasio investasi yang besar terhadap PDB sebelum krisis 1997-1998. Namun, kondisi saat itu berbeda dibandingkan saat itu karena nilai tukar rupiah yang dipatok BI.
Defisit transaksi berjalan saat ini masih lebih baik karena BI diyakini tidak akan berdiam diri melihat transaksi yang terus defisit sementara pada 1997-1998, BI tidak bisa mencampuri pergerakan rupiah dalam menekan defisit transaksi berjalan. “Memang kondisinya mirip, ceritanya masih sejalan. Waktu krisis 1997, kita lihat rupiah kita juga belum floating,”ucapnya. (mai)
(gpr)
Lihat Juga :