Presiden SBY: Awasi penggunaan APBN di daerah

Selasa, 18 September 2012 - 11:20 WIB
Presiden SBY: Awasi...
Presiden SBY: Awasi penggunaan APBN di daerah
A A A

Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua pihak, termasuk masyarakat mengawasi penggunaan anggaran pendapatan belanja negara (APBN) di daerah.

Diakuinya, praktik korupsi dan kolusi di daerah masih terjadi, terutama oleh oknum kader partai politik (parpol). Permintaan itu disampaikan SBY kemarin di GOR Pondok Pesantren Kempek, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, sebagai tanggapan dari rekomendasi hasil Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2012.

Pada rekomendasi tersebut, salah satu isu penting yang disorot NU berupa upaya pencegahan korupsi. Praktiknya yang terjadi di daerah terutama diindikasi pada penggunaan anggaran negara yang dialokasikan ke daerah.
Kongkalikong antara pejabat daerah dengan oknum kader parpol selama ini telah menyuburkan praktik tersebut dan negara dirugikan karenanya. “Jika korupsi telah terjadi, sulit mengembalikan kerugiaannya kepada negara.
Karena itu, korupsi harus dicegah,” kata Presiden di hadapan warga Nahdliyin serta para undangan.

Presiden mendukung rekomendasi pencegahan korupsi melalui penindakan tanpa tebang pilih. Hal itu diyakinkan Presiden melalui pengakuan atas keterlibatan orang-orang terdekatnya maupun parpolnya untuk tetap ditindak sesuai hukum.

Presiden mengatakan, siapa pun yang terbukti melanggar hukum dengan praktik korupsinya, akan tetap ditindak sesuai prosedur hukum yang berlaku. Rekomendasi itu sendiri dipandang Presiden sama dengan tekad yang dimiliki pemerintah dalam memerangi korupsi. Presiden dalam kesempatan itu juga mengajak semua pihak terkait dan masyarakat mendukung kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung, hingga pengacara.

“Rekomendasi ini relevan dan kontekstual. Diharapkan dapat ditindakanjuti pemerintah daerah, institusi penegak hukum, NU, maupun masyarakat,” tutur dia.

Rekomendasi hasil Munas Alim Ulama dan Konbes NU sendiri diserahkan secara simbolik kepada Presiden SBY oleh Ketua PBNU, Said Aqil Siraj. Presiden hadir didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono sekitar pukul 10.00 WIB.

Rois Aam PBNU, KH Sahal Machfud, tampak dalam kesempatan itu, juga sejumlah pejabat negara di antaranya Menag Suryadharma Ali, Menkokesra Agung Laksono, Menpora Andi Malarangeng, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Bupati Cirebon Dedi Supardi bersama Wakil Bupati Ason Sukasa, serta pengusaha Aburizal Bakrie.

Selain permintaan pencegahan korupsi, hal lain yang dimintakan Presiden terkait pemerintahan daerah (pemda), berupa bidang pendidikan. Presiden menekankan larangan campur tangan pejabat pemda di sekolah-sekolah.“Saya sudah mendengar adanya campur tangan pejabat pemda dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah. Saya minta tidak ada lagi campur tangan itu, dan pendidikan harus terus diarahkan pada kepentingan moral dan akhlak,” ujar Presiden.

Presiden juga menanggapi rekomendasi NU di bidang lain, seperti ekonomi. Dikatakan dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada pada posisi ketiga di antara negara-negara G-20. Saat ini, lanjut dia, income per kapita Indonesia naik dan pengangguran turun.
Pembayaran utang negara pun membaik, sekitar 24 persen atau seperempat dari total pendapatan negara.

“Sebelumnya, 50 persen pendapatan negara digunakan untuk membayar utang. Tapi sekarang hanya 24persen atau seperempat dari total pendapatan negara,” ujar dia.

Namun, dia mengingatkan bahwa kondisi itu masih belum cukup, sehingga ekonomi masih tetap harus dibangun. Di antaranya melalui pemberantasan kemiskinan dan pengangguran, serta subsidi yang tepat sasaran.

Sementara itu, berkaitan dengan rekomendasi NU yang meminta MPR-RI meninjau ulang hasil Amandemen UUD 1945 yang sudah berlangsung empat kali, Presiden mengatakan bahwa harus dipikirkan kembali. Menurut Presiden, alasan untuk mengubah UU harus kuat dan mengandung urgensi yang tinggi. Jika memang urgen, maka niscaya dapat diamandemen kelima kalinya.

Di sisi lain, Presiden mengingatkan masyarakat luas perlu dilibatkan sebelum mengamandemen UUD 1945. (dna)
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
9 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
9 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
9 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
10 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
10 jam yang lalu
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
10 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved