Pemilu 2014 hambat pertumbuhan ekonomi Indonesia?
Selasa, 18 September 2012 - 17:53 WIB
Pemilu 2014 hambat pertumbuhan ekonomi Indonesia?
A
A
A
Sindonews.com - Prediksi Mckinsey Global Institute (MGI) yang menyebutkan Indonesia mampu mencapai posisi ketujuh dunia dengan skala ekonomi terbesar dan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen di 2030, agaknya masih perlu dipertanyakan.
Pasalnya, ada faktor-faktor baik dari dalam maupun luar negeri yang mungkin menjadi hambatan pencapaian target pertumbuhan ekonomi.
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, selain kondisi global yang selalu naik-turun dan belum ada tanda pemulihan, Pemilu di 2014 nanti juga disinyalir akan turut menghambat momentum keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
"Setiap tahun (pertumbuhan ekonomi) secara rata-rata juga naik-turun semata-mata tergantung kondisi global. Sementara, di dalam negeri mau pemilu, bisa hilang lagi momentumnya (momentum pertumbuhan ekonomi)," ujarnya di Hotel Four Season, Jakarta, Selasa (18/9/2012).
Kendati demikian, dirinya mencatatkan, prediksi MGI bisa saja terealisasi asalkan disesuaikan dengan beberapa poin yang menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi saat ini.
"Kalau (prediksi) itu, besaran dari total PDB yang dilihat dari daya beli. Kalau populasi kita 280 juta dan per kapita kita di atas 12 ribuan, saya rasa (prediksi itu) masuk akal," jelasnya.
Sebelumnya, Direktur MGI Richard Dobbs menjelaskan Indonesia bisa menjadi negara terbesar ketujuh dalam skala ekonomi di 2030, menyalip Jerman dan Inggris.
Dia memperkirakan perekonomian Indonesia pada 2030 akan ditopang oleh empat sektor utama yaitu bidang jasa, pertanian dan perikanan, serta sumber daya alam.
Pada 2030 utang pemerintah Indonesia akan turun 70 persen dan lebih rendah dibandingkan utang-utang negara-negara OECD dan BRIC. Ekonomi Indonesia akan terus tumbuh dengan didorong kekuatan regional.
Dalam 15 tahun ke depan, 1,8 miliar orang kelas konsumsi di dunia sebagian besar akan berada di Asia. "Indonesia akan memenuhi permintaan kelas konsumsi ASEAN dari sumber daya dan komoditas Indonesia," katanya.
Indonesia sendiri akan ada 90 juta orang yang masuk dalam kelas konsumen baru. Pertumbuhan kelas konsumsi di Indonesia jauh melebihi China dan India.
Menurut Dobs, pertumbuhan pesat ini merupakan sinyal bagi investor asing untuk menanamkan investasi di Indonesia.(dna)
Pasalnya, ada faktor-faktor baik dari dalam maupun luar negeri yang mungkin menjadi hambatan pencapaian target pertumbuhan ekonomi.
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, selain kondisi global yang selalu naik-turun dan belum ada tanda pemulihan, Pemilu di 2014 nanti juga disinyalir akan turut menghambat momentum keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
"Setiap tahun (pertumbuhan ekonomi) secara rata-rata juga naik-turun semata-mata tergantung kondisi global. Sementara, di dalam negeri mau pemilu, bisa hilang lagi momentumnya (momentum pertumbuhan ekonomi)," ujarnya di Hotel Four Season, Jakarta, Selasa (18/9/2012).
Kendati demikian, dirinya mencatatkan, prediksi MGI bisa saja terealisasi asalkan disesuaikan dengan beberapa poin yang menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi saat ini.
"Kalau (prediksi) itu, besaran dari total PDB yang dilihat dari daya beli. Kalau populasi kita 280 juta dan per kapita kita di atas 12 ribuan, saya rasa (prediksi itu) masuk akal," jelasnya.
Sebelumnya, Direktur MGI Richard Dobbs menjelaskan Indonesia bisa menjadi negara terbesar ketujuh dalam skala ekonomi di 2030, menyalip Jerman dan Inggris.
Dia memperkirakan perekonomian Indonesia pada 2030 akan ditopang oleh empat sektor utama yaitu bidang jasa, pertanian dan perikanan, serta sumber daya alam.
Pada 2030 utang pemerintah Indonesia akan turun 70 persen dan lebih rendah dibandingkan utang-utang negara-negara OECD dan BRIC. Ekonomi Indonesia akan terus tumbuh dengan didorong kekuatan regional.
Dalam 15 tahun ke depan, 1,8 miliar orang kelas konsumsi di dunia sebagian besar akan berada di Asia. "Indonesia akan memenuhi permintaan kelas konsumsi ASEAN dari sumber daya dan komoditas Indonesia," katanya.
Indonesia sendiri akan ada 90 juta orang yang masuk dalam kelas konsumen baru. Pertumbuhan kelas konsumsi di Indonesia jauh melebihi China dan India.
Menurut Dobs, pertumbuhan pesat ini merupakan sinyal bagi investor asing untuk menanamkan investasi di Indonesia.(dna)
(gpr)
Lihat Juga :