Kecepatan produsen mobil China capai target

Rabu, 19 September 2012 - 09:49 WIB
Kecepatan produsen mobil...
Kecepatan produsen mobil China capai target
A A A
Sindonews.com - Sepuluh tahun lalu, masih sedikit konsumen China yang membeli mobil buatan negaranya sendiri. Bukan hanya kendaraan tersebut dituduh palsu,ilegal dan menjiplak model kendaraan buatan luar negeri,melainkan kualitas serta keamanannya yang belum teruji.

Namun, saat ini China mencoba menjadi negara pembuat mobil terbaik dengan mengambil cara cepat untuk mencapai kesuksesan. Di antara produsen mobil China, sebut saja Zhejiang Geely Holding Group. Geely yang juga memasarkan produknya di Indonesia adalah salah satu produsen mobil terbesar di NegeriTembok Raksasa. Ketika mengembangkan model Panda, Geely hanya melakukan 20–25 tes kecelakaan. Angka tersebut jauh di bawah produsen mobil global yang rata-rata melakukan tes kecelakaan sebanyak 125–150 kali untuk setiap mobil model baru.

Namun, dengan lebih mengandalkan simulasi komputer, Geely punya cara lain dalam mengetes mobilnya.Mereka bahkan mengklaim mampu menghemat dana 200 juta yuan (USD31,57 juta) untuk waktu pengembangan selama dua tahun. Simulasi tersebut mampu mengurangi biaya pada tes kecelakaan, menyederhanakan desain, menggunakan bahan yang lebih murah, mempekerjakan karyawan kontrak untuk desain grafisnya sehingga berdampak besar bagi para pembuat mobil China.

Alhasil, Geely mampu menjual mobil kecil dengan harga terjangkau yakni sekitar 40.000 yuan atau kurang dari setengah harga mobil keluaran Toyota Motor Corp. Saat ini, meskipun terlihat sederhana,beberapa model mobil buatan China yang terjangkau dengan kualitas bagus dan usia mobil yang cukup baik telah dapat diterima. Hal tersebut juga memiliki implikasi yang berpotensi signifikan bagi industri automotif dunia. Model mobil seperti Panda dan Great Wall dari Geely pun kini menjadi popular. Tidak hanya di negaranya sendiri, melainkan semakin berkembang hingga di pasar negaranegara seperti Indonesia, Mesir dan Ukraina.

Kedua model tersebut menjadi pemimpin ekspor automotif, bahkan ketika pertumbuhan pasar mobil China melambat. Asosiasi Manufaktur Automotif China (CAAM) memperkirakan, ekspor kendaraan China tahun ini bisa mencapai 1 juta mobil, naik dibandingkan tahun lalu yang hanya 849.000 unit. Sementara,beberapa analis automotif Beijing memprediksi adanya kenaikan sebesar 50 persen, menjadi 1,25 juta kendaraan. Co Executive Nissan Motor Shiro Nakamura mengatakan, model mobil baru China yang cukup bagus menimbulkan tantangan serius terhadap operasional industri internasional.

“Itu merupakan sebuah peringatan kepada para insinyur tetap terhadap manajemen waktu,di mana dengan biaya yang minim mereka (produsen mobil China) dapat mencapai hasil yang maksimum dengan desain dan metodologi produksi,” ujarnya dikutip Reuters, Senin (17/9) malam. Dia menambahkan, saat ini pembuat mobil China dapat memangkas biaya produksi sebesar 30–40 persen. Sekadar diketahui,produsen seperti General Motors dan Toyoya biasanya membutuhkan waktu antara empat hingga lima tahun untuk membuat sebuah model baru.Namun, produsen China dapat melakukannya hanya dua setengah tahun dengan mengerahkan proses desain yang singkat.

“Mungkin China mencapai biaya rendah dengan mengorbankan standar kualitas,namun dalam banyak cara mereka juga menunjukkan kualitas atas yang telah terintegrasi dalam proses desain konvensional selama bertahun-tahun,” jelas Nakamura. Sebagai negara yang tengah membuka diri dengan Barat, pembuat mobil China dihadapkan dengan masyarakat yang relatif miskin disertai masuknya produk canggih buatan luar negeri.

Hal inilah yang dimanfaatkan produsen lokal untuk membidik pasar mobil lebih terjangkau dan membiarkan para produsen mobil dari luar negeri memasarkan produk mahal ke orangorang kaya baru di China. Pertumbuhan ekonomi China yang cepat juga telah mendorong terciptanya lebih dari 1.000 mobil yang terdaftar di seluruh negeri pada awal 2000. Meski begitu, pembuat mobil di Beijing tidak memiliki keahlian yang baik. (mai)
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
9 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
9 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
9 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
10 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
10 jam yang lalu
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
10 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved