Warga Komuter tolak kenaikan tarif KRL
Jum'at, 21 September 2012 - 13:51 WIB
Warga Komuter tolak kenaikan tarif KRL
A
A
A
Sindonews.com - Warga komuter menolak rencana kenaikan tarif tiket Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line sebesar Rp9 ribu per 1 Oktober 2012. Pasalnya, hal itu dinilai memberatkan dan tidak sebanding dengan kualitas pelayanan yang diberikan PT KAI.
Sedikitnya terdapat 21 ribu warga komuter yang bermukim di Depok dan bekerja di Jakarta. KRL Commuter Line tentu menjadi transportasi andalan yang paling tercepat. Namun saat mendengar rencana kenaikan tarif KRL sebesar Rp2 ribu, nantinya menjadi Rp9 ribu, penumpang mengeluh.
Salah satunya diungkapkan mahasiswi Universitas Indonesia (UI) Marcia Audita yang merupakan warga Citayam, Depok. Sebagai mahasiswi, tentunya tarif itu dinilai memberatkan baginya.
“Saya sering masuk kuliah jam 08.00 WIB pagi, jadi yang paling cepat dari Citayam adalah KRL Commuter Line, tapi kalau harus naik tarifnya tentu saya tidak setuju, karena bolak–balik Rp18 ribu, belum uang makan, buku, dan naik ojeknya, bisa lebih dari Rp50 ribu sehari untuk mahasiswi saja,” katanya di Stasiun UI, Jumat (21/09/12).
Menurutnya, pelayanan yang diberikan KRL Commuter Line juga belum optimal. Terbukti dengan pendingin ruangan di dalam kereta yang sering tidak berfungsi, serta penumpang yang berdesak–desakan.
“Kaki saya kalau tiap pagi seolah tidak menapak di lantai kereta saking penuh berjubelnya, belum lagi kalau AC-nya mati, panasnya minta ampun, belum layaklah kalau tarifnya naik, sama saja dengan KRL ekonomi berhentinya juga tiap stasiun,” tukasnya.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh warga komuter lainnya, Ani Lantara, warga Cilodong, Depok. Ani setiap hari naik KRL dari Stasiun Depok Lama menuju Senen, Jakarta tempat ia bekerja.
“Yang paling cepat memang kereta, enggak macet, tapi belum sebanding sama kualitas pelayanannya kalau tarif naik, belum naik bajajnya dari stasiun Gondangdia, kerasa juga kalau tiap hari beratnya,” ungkapnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan di Stasiun Depok Baru, sejumlah alat sosialisasi kenaikan tarif sudah terpasang. Seperti spanduk, poster dan pamflet. Selain itu, petugas stasiun juga terus menyampaikan secara lisan melaui pengeras suara.
Sedikitnya terdapat 21 ribu warga komuter yang bermukim di Depok dan bekerja di Jakarta. KRL Commuter Line tentu menjadi transportasi andalan yang paling tercepat. Namun saat mendengar rencana kenaikan tarif KRL sebesar Rp2 ribu, nantinya menjadi Rp9 ribu, penumpang mengeluh.
Salah satunya diungkapkan mahasiswi Universitas Indonesia (UI) Marcia Audita yang merupakan warga Citayam, Depok. Sebagai mahasiswi, tentunya tarif itu dinilai memberatkan baginya.
“Saya sering masuk kuliah jam 08.00 WIB pagi, jadi yang paling cepat dari Citayam adalah KRL Commuter Line, tapi kalau harus naik tarifnya tentu saya tidak setuju, karena bolak–balik Rp18 ribu, belum uang makan, buku, dan naik ojeknya, bisa lebih dari Rp50 ribu sehari untuk mahasiswi saja,” katanya di Stasiun UI, Jumat (21/09/12).
Menurutnya, pelayanan yang diberikan KRL Commuter Line juga belum optimal. Terbukti dengan pendingin ruangan di dalam kereta yang sering tidak berfungsi, serta penumpang yang berdesak–desakan.
“Kaki saya kalau tiap pagi seolah tidak menapak di lantai kereta saking penuh berjubelnya, belum lagi kalau AC-nya mati, panasnya minta ampun, belum layaklah kalau tarifnya naik, sama saja dengan KRL ekonomi berhentinya juga tiap stasiun,” tukasnya.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh warga komuter lainnya, Ani Lantara, warga Cilodong, Depok. Ani setiap hari naik KRL dari Stasiun Depok Lama menuju Senen, Jakarta tempat ia bekerja.
“Yang paling cepat memang kereta, enggak macet, tapi belum sebanding sama kualitas pelayanannya kalau tarif naik, belum naik bajajnya dari stasiun Gondangdia, kerasa juga kalau tiap hari beratnya,” ungkapnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan di Stasiun Depok Baru, sejumlah alat sosialisasi kenaikan tarif sudah terpasang. Seperti spanduk, poster dan pamflet. Selain itu, petugas stasiun juga terus menyampaikan secara lisan melaui pengeras suara.
(gpr)
Lihat Juga :