PLN Batam siap jual listrik ke Singapura
Rabu, 26 September 2012 - 13:55 WIB
PLN Batam siap jual listrik ke Singapura
A
A
A
Sindonews.com - Brigth Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Batam masih menunggu hasil negosiasi dengan Energy Market Authority (EMA) Singapura untuk rencana jual beli gas. Anak perusahaan PT PLN (persero) tersebut memperkirakan oktober nanti, negosiasi dapat membuahkan hasil.
"Jadi EMA itu akan mengundang kita di Oktober. Semua sedang dikumpulin apa sih kira-kira yang dibutuhkan," kata Direktur Utama Bright PLN Batam Dadan Kurniadipura di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (26/9/2012)
Kebutuhan listrik di Singapura, dia mengaku sudah mengetahui, namun berapa yang akan diambil dari Indonesia masih dibicarakan. "Singapura itu membutuhkan 2.000 MW tapi kita kan belum tahu apa mengambil dari Batam berapanya," ucapnya.
Selain itu, pada negosiasi juga dibahas terkait efek karbon yang dihasilkan pembangkit. Karena kemungkinan besar akan menggunakan pembangkit dengan bahan bakar batubara.
Untuk harga jual, Dadan menyebutkan bahwa akan menggunakan harga keekonomian. Singapura, lanjutnya, mematok harga Rp1.700 per Kwh. "Kita paling akan di bawah itu, bisa sekitar Rp1.500 per Kwh atau Rp1.400 per Kwh. Itu saja sudah punya untung banyak, marginnya kan lumayan besar," tegasnya.
Seperti diketahui, pemerintah berencana membangun pembangkit batubara berkapasitas 800 MW di Batam. Proyek tersebut saat ini masih dalam tahap studi kelayakan. Dari kapasitas pembangkit sebesar 800 MW, sebesar 600 MW akan dijual ke Singapura dan sisanya 200 MW akan dialirkan ke Batam.
Target pemerintah, pembangkit tersebut mulai beroperasi dalam 2-3 tahun mendatang. Setelah listrik mengalir, pemerintah berharap bisa memangkas besaran ekspor gas ke Negeri Singa tersebut.
Gas yang diekspor ke Singapura selama ini berasal dari Lapangan Grissik di Sumatra Selatan dan Blok B di Jambi yang dioperasikan oleh ConocoPhilip. Perusahaan minyak dan gas asal Amerika Serikat itu memproduksi gas sebanyak 1.000 mmscfd. Dari jumlah tersebut, 300 mmscfd diekspor ke Singapura, 340 mmscfd ke PT PGN (Persero) dan 360 mmscfd dialirkan ke Chevron Pacific Indonesia untuk menggenjot produksi minyak Lapangan Duri.
"Jadi EMA itu akan mengundang kita di Oktober. Semua sedang dikumpulin apa sih kira-kira yang dibutuhkan," kata Direktur Utama Bright PLN Batam Dadan Kurniadipura di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (26/9/2012)
Kebutuhan listrik di Singapura, dia mengaku sudah mengetahui, namun berapa yang akan diambil dari Indonesia masih dibicarakan. "Singapura itu membutuhkan 2.000 MW tapi kita kan belum tahu apa mengambil dari Batam berapanya," ucapnya.
Selain itu, pada negosiasi juga dibahas terkait efek karbon yang dihasilkan pembangkit. Karena kemungkinan besar akan menggunakan pembangkit dengan bahan bakar batubara.
Untuk harga jual, Dadan menyebutkan bahwa akan menggunakan harga keekonomian. Singapura, lanjutnya, mematok harga Rp1.700 per Kwh. "Kita paling akan di bawah itu, bisa sekitar Rp1.500 per Kwh atau Rp1.400 per Kwh. Itu saja sudah punya untung banyak, marginnya kan lumayan besar," tegasnya.
Seperti diketahui, pemerintah berencana membangun pembangkit batubara berkapasitas 800 MW di Batam. Proyek tersebut saat ini masih dalam tahap studi kelayakan. Dari kapasitas pembangkit sebesar 800 MW, sebesar 600 MW akan dijual ke Singapura dan sisanya 200 MW akan dialirkan ke Batam.
Target pemerintah, pembangkit tersebut mulai beroperasi dalam 2-3 tahun mendatang. Setelah listrik mengalir, pemerintah berharap bisa memangkas besaran ekspor gas ke Negeri Singa tersebut.
Gas yang diekspor ke Singapura selama ini berasal dari Lapangan Grissik di Sumatra Selatan dan Blok B di Jambi yang dioperasikan oleh ConocoPhilip. Perusahaan minyak dan gas asal Amerika Serikat itu memproduksi gas sebanyak 1.000 mmscfd. Dari jumlah tersebut, 300 mmscfd diekspor ke Singapura, 340 mmscfd ke PT PGN (Persero) dan 360 mmscfd dialirkan ke Chevron Pacific Indonesia untuk menggenjot produksi minyak Lapangan Duri.
(gpr)
Lihat Juga :