OECD: Subsidi energi RI harus dihitung kembali
Kamis, 27 September 2012 - 13:41 WIB
OECD: Subsidi energi RI harus dihitung kembali
A
A
A
Sindonews.com - Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria mengatakan, besaran subsidi energi Indonesia yang mencapai seperempat anggaran di 2013 harus diperhitungkan kembali. Menurutnya dunia memuji Indonesia atas usaha pengurangan subsidi, namun jika harga minyak terus naik, maka ini makin memberatkan.
"Subsidi energi tahun 2013 mencapai hampir seperempat dari total budget, naik dari 18 persen menjadi hampir seperempat, pikirkan dampaknya," kata Angel di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (27/9/2012).
Dia menjelaskan, penghitungan anggaran secara rinci, seperti gaji, pembayaran bunga utang dan yang lainnya, harus sesuai pada porsinya. Karena selain itu, pemerintah harus juga mengalokasikan dana untuk investasi.
"Dari pada kita bilang ke DPR, kami ajukan pada kalian pengeluaran-pengeluaran yang tidak terhindarkan ini. Sekarang kita lihat konsekuensinya, kita punya tanggung jawab, kita punya pejabat-penjabat yang punya tanggung jawab yang serius dan tahu persis dampak dari melebarnya defisit," paparnya.
Situasi sekarang, menurutnya pemerintah harus dapat menyisihkan pengeluaran lain dalam anggaran untuk menciptakan ruang subsidi.
"Sebagian besar dari subsidi ini mengalir ke orang-orang yang tidak membutuhkan dan subsidi ini buruk bagi lingkungan karena pada tahap tertentu dia mendorong orang menggunakan bahan bakar fosil. Sekarang kalau kita pikirkan 25 persen dari budget itu, kita alokasikan untuk orang-orang yang membutuhkan saja, anda bisa membuat perubahan yang besar," papar Angel.
"Subsidi energi tahun 2013 mencapai hampir seperempat dari total budget, naik dari 18 persen menjadi hampir seperempat, pikirkan dampaknya," kata Angel di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (27/9/2012).
Dia menjelaskan, penghitungan anggaran secara rinci, seperti gaji, pembayaran bunga utang dan yang lainnya, harus sesuai pada porsinya. Karena selain itu, pemerintah harus juga mengalokasikan dana untuk investasi.
"Dari pada kita bilang ke DPR, kami ajukan pada kalian pengeluaran-pengeluaran yang tidak terhindarkan ini. Sekarang kita lihat konsekuensinya, kita punya tanggung jawab, kita punya pejabat-penjabat yang punya tanggung jawab yang serius dan tahu persis dampak dari melebarnya defisit," paparnya.
Situasi sekarang, menurutnya pemerintah harus dapat menyisihkan pengeluaran lain dalam anggaran untuk menciptakan ruang subsidi.
"Sebagian besar dari subsidi ini mengalir ke orang-orang yang tidak membutuhkan dan subsidi ini buruk bagi lingkungan karena pada tahap tertentu dia mendorong orang menggunakan bahan bakar fosil. Sekarang kalau kita pikirkan 25 persen dari budget itu, kita alokasikan untuk orang-orang yang membutuhkan saja, anda bisa membuat perubahan yang besar," papar Angel.
(gpr)
Lihat Juga :