Pemerintah kesulitan tekan defisit current account
Kamis, 27 September 2012 - 16:37 WIB
Pemerintah kesulitan tekan defisit current account
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah mengaku tetap memperhatikan defisit transaksi berjalan (current account) yang terjadi tiga kuartal terakhir. Ini terjadi seiring dengan tingginya impor barang–barang modal sejalan dengan tingginya investasi serta tingginya defisit neraca jasa.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, hanya mampu menjaga defisit transaksi berjalan (current account) sepanjang tahun 2012 pada kisaran 2,2-2,5 persen. Angka ini lebih tinggi dari saran IMF sebesar 2 persen.
“Impor ini tinggi sejalan dengan pertumbuhan investasi yang pada sementer I 2012 yang mencapai 28 persen, karena import yang besar itu untuk investasi. Tetapi kita tetap waspadai deficit neraca pembayaran yang terjadi," kata Agus di kantornya, Jakarta, Kamis (27/9/2012)
Dia menambahkan, pihaknya dan Bank Indonesia telah melakukan koordinasi untuk mengendalikan hal tersebut. Defisit current account dari saat ini 3,1 persen dari PDB terjadi karena impor yang tinggi.
Agus menyatakan belum bisa menurunkan defisit hingga 2 persen seperti yang disarankan IMF, namun akan menjaga defisit current account pada kisaran 2,2-2,5 persen dari GDP hingga akhir tahun ini.
“Kita akan berupaya defisit current account tidak akan di atas 3 persen justru ke arah di bawah 3 persen,” jelasnya.
Upaya untuk menurunkan defisit current account adalah dengan beberapa upaya, di antaranya dengan menjaga defisit neraca perdagangan untuk lebih rendah, salah satunya dengan memperketat kebijakan dumping sehingga akan menekan impor barang.
Dari sisi neraca jasa pemerintah, sambungnya, akan berupaya untuk pengunaan logistik nasional dalam kegiatan perdagangan serta kegiatan asuransi yang lebih menggunakan asuransi dalam negeri.
“Kita juga harus mengupayakan untuk lebih banyak mendatangkan wisatawan,” pungkasnya.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, hanya mampu menjaga defisit transaksi berjalan (current account) sepanjang tahun 2012 pada kisaran 2,2-2,5 persen. Angka ini lebih tinggi dari saran IMF sebesar 2 persen.
“Impor ini tinggi sejalan dengan pertumbuhan investasi yang pada sementer I 2012 yang mencapai 28 persen, karena import yang besar itu untuk investasi. Tetapi kita tetap waspadai deficit neraca pembayaran yang terjadi," kata Agus di kantornya, Jakarta, Kamis (27/9/2012)
Dia menambahkan, pihaknya dan Bank Indonesia telah melakukan koordinasi untuk mengendalikan hal tersebut. Defisit current account dari saat ini 3,1 persen dari PDB terjadi karena impor yang tinggi.
Agus menyatakan belum bisa menurunkan defisit hingga 2 persen seperti yang disarankan IMF, namun akan menjaga defisit current account pada kisaran 2,2-2,5 persen dari GDP hingga akhir tahun ini.
“Kita akan berupaya defisit current account tidak akan di atas 3 persen justru ke arah di bawah 3 persen,” jelasnya.
Upaya untuk menurunkan defisit current account adalah dengan beberapa upaya, di antaranya dengan menjaga defisit neraca perdagangan untuk lebih rendah, salah satunya dengan memperketat kebijakan dumping sehingga akan menekan impor barang.
Dari sisi neraca jasa pemerintah, sambungnya, akan berupaya untuk pengunaan logistik nasional dalam kegiatan perdagangan serta kegiatan asuransi yang lebih menggunakan asuransi dalam negeri.
“Kita juga harus mengupayakan untuk lebih banyak mendatangkan wisatawan,” pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :