BEM UI tolak rencana kenaikan tarif KRL
Kamis, 27 September 2012 - 17:59 WIB
BEM UI tolak rencana kenaikan tarif KRL
A
A
A
Sindonews.com - Tak hanya pegawai, namun selama ini banyak mahasiswa mayoritas memanfaatkan moda transportasi Kereta Rel Listrik (KRL) menjadi andalan untuk menuju kampus. Salah satunya mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang banyak naik dan turun di Stasiun UI dan Pondok Cina setiap hari.
Atas nama mahasiswa pengguna KRL, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menolak keras rencana kenaikan tarif KRL yang mulai diberlakukan per 1 Oktober 2012. Alasannya karena kenaikan tarif KRL itu tidak berpihak kepada rakyat kecil.
"Kami menolak rencana kenaikan tarif KRL. Tidak adil ketika ada kesalahan atau kerugian lalu dibebankan pada penumpang," tandas Ketua BEM UI, Faldo Maldini, Kamis (27/9/2012).
Oleh karena itu, lanjutnya, BEM UI dan KRL Mania akan melakukan aksi damai penolakan tiket. Sebab, kata dia, kebijakan tersebut tidak pro rakyat. "Kami akan aksi damai di Stasiun UI dalam waktu dekat menolak kebijakan ini," paparnya.
Sementara itu Peneliti Kajian Budaya UI Devie Rahmawati menilai secara ukuran keekonomian, kenaikan tarif Rp2 ribu harus diukur berdasarkan survei kemampuan ekonomi masyarakat.
Kalaupun tarif tetap naik, kata dia, masyarakat harus memberikan tenggat waktu paling lama enam bulan kepada PT KAI untuk membuktikan penggunaan kenaikan tarif Rp2 ribu tersebut memang betul-betul untuk meningkatkan pelayanan.
"Baiklah misalkan tetap jadi dinaikkan, kita kasih kesempatan agar PT KAI berbenah dengan tarif yang dinaikkan ini, misalnya gerbong wanita ditambah, AC enggak pernah mati lagi, tapi warning kalau sampai kacau balau lagi, masyarakat bisa protes agar tarif tersebut dikaji ulang dan diturunkan ke harga semula, kalau perlu dibikin pakta integritas agar patuh dengan komitmen," tukas Devie.
Atas nama mahasiswa pengguna KRL, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menolak keras rencana kenaikan tarif KRL yang mulai diberlakukan per 1 Oktober 2012. Alasannya karena kenaikan tarif KRL itu tidak berpihak kepada rakyat kecil.
"Kami menolak rencana kenaikan tarif KRL. Tidak adil ketika ada kesalahan atau kerugian lalu dibebankan pada penumpang," tandas Ketua BEM UI, Faldo Maldini, Kamis (27/9/2012).
Oleh karena itu, lanjutnya, BEM UI dan KRL Mania akan melakukan aksi damai penolakan tiket. Sebab, kata dia, kebijakan tersebut tidak pro rakyat. "Kami akan aksi damai di Stasiun UI dalam waktu dekat menolak kebijakan ini," paparnya.
Sementara itu Peneliti Kajian Budaya UI Devie Rahmawati menilai secara ukuran keekonomian, kenaikan tarif Rp2 ribu harus diukur berdasarkan survei kemampuan ekonomi masyarakat.
Kalaupun tarif tetap naik, kata dia, masyarakat harus memberikan tenggat waktu paling lama enam bulan kepada PT KAI untuk membuktikan penggunaan kenaikan tarif Rp2 ribu tersebut memang betul-betul untuk meningkatkan pelayanan.
"Baiklah misalkan tetap jadi dinaikkan, kita kasih kesempatan agar PT KAI berbenah dengan tarif yang dinaikkan ini, misalnya gerbong wanita ditambah, AC enggak pernah mati lagi, tapi warning kalau sampai kacau balau lagi, masyarakat bisa protes agar tarif tersebut dikaji ulang dan diturunkan ke harga semula, kalau perlu dibikin pakta integritas agar patuh dengan komitmen," tukas Devie.
(gpr)
Lihat Juga :