Sektor manufaktur tumbuh positif ditengah krisis

Rabu, 10 Oktober 2012 - 11:21 WIB
Sektor manufaktur tumbuh...
Sektor manufaktur tumbuh positif ditengah krisis
A A A
Sindonews.com - Pertumbuhan sektor manufaktur ternyata memperlihatkan gambaran yang berbeda ditengah krisis global. Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi asing di sektor manufaktur pada triwulan ke II tahun 2012 mencapai USD1,2 miliar atau naik 62 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Dunia Indonesia Stefan Koeberle menyatakan bahwa permintaan domestik menjadi salah satu penyebab pertumbuhan tersebut, terutama untuk bahan logam, makanan, bahan kimia dan suku cadang otomotif.

"Permintaan domestik seolah tidak terpengaruh oleh krisis keuangan global dan tumbuh sebesar 6,4 persen di paruh pertama 2012. Ini berkat investasi dan konsumsi," kata Stefan di Jakarta, Rabu (10/10/2012)

Lebih lanjut dia menambahkan, peningkatan pangsa pasar global Indonesia di sektor manufaktur akan membuka jutaan peluang kerja dan menggerakkan transformasi struktural. Namun, itu tidak cukup dengan hanya mengandalkan permintaan domestik dan international, melainkan perlu kerja sama antara pemerintah dan swasta untuk mengatasi masalah yang menghalangi industri manufaktur Indonesia untuk lebih kompetitif di kawasan dan tumbuh secara berkelanjutan.

"Sejumlah masalah makro yang melemahkan pertumbuhan sektor manufaktur dan menurunkan daya saingnya di kawasan merupakan apresiasi nilai tukar rupiah, naiknya upah buruh dan pergesaran fokus ke perdagangan komoditas dan sektor berbasis sumber daya alam," paparnya.

Sementara kendala yang dihadapi di sektor mikro, berupa sulitnya mengakses pinjaman bank dan kurangnya transportasi dan kepastian hukum. Masalah ini menyulitkan pendatang baru untuk membangun usaha dan mempersulit investor untuk melakukan ekspansi dan mencapai skala ekonomi.

Sementara itu, Ekonom Senior Bank Dunia Sjamsu Rahardja mengungkapkan, masalah makro dan mikro di Indonesia bisa diatasi melalui kebijakan yang mendorong peningkatan daya saing dan mengurangi biaya.

"Kita perlu menyelesaikan isu-isu transportasi dan logistik serta mengurangi hambatan non-tarif untuk mengakses pasar international, antara lain dengan mempromosikan standar internasional agar perusahan non-eksportir dapat lebih mudah menjadi eksportir dan melebarkan pangsa pasarnya," tambahnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
PT IIM Buktikan Konsistensi...
PT IIM Buktikan Konsistensi Kinerja Historis dan Dampak Sosial di Tengah Volatilitas Pasar
8 jam yang lalu
Membaca Pola Pelemahan...
Membaca Pola Pelemahan Rupiah, DEN Prediksi Kurs Melandai pada Juli 2026
8 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
9 jam yang lalu
Pengembangan Bioenergi...
Pengembangan Bioenergi Berpotensi Serap 150 Ribu Tenaga Kerja
9 jam yang lalu
Kuliah Umum di Unhas,...
Kuliah Umum di Unhas, Afi Kalla Tekankan Peran IKM dalam Hilirisasi Ekonomi
9 jam yang lalu
Seminar dan Live Trading,...
Seminar dan Live Trading, Didimax Dorong Edukasi Trading yang Aman serta Mandiri
9 jam yang lalu
Infografis
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved