Bank Dunia rekomendasikan cara atasi missing middle

Rabu, 10 Oktober 2012 - 16:44 WIB
Bank Dunia rekomendasikan...
Bank Dunia rekomendasikan cara atasi missing middle
A A A
Sindonews.com - Ekonom Senior Bank Dunia Sjamsu Rahardja mencatat adanya kondisi missing middle atau hilangnya lapisan tengah untuk kelas perusahaan. Ini membuat kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembukaan lapangan kerja menjadi kurang signifikan.

"Banyak masalah yang telah membentuk kondisi missing middle, dimana berawal dari krisis keuangan Asia," ujarnya di Jakarta, Rabu (10/10/2012).

Sjamsu menjelaskan krisis tersebut menciptakan permasalahan makro, seperti apresiasi rupiah, naiknya upah buruh relatif, pergeseran fokus ke perdagangan komoditas dan sektor berbasis sumber daya alam, persaingan internasional, dan pengetatan margin keuntungan.

Sementara itu, untuk mikro perusahaan, seperti menanggung biaya transportasi dan logistik yang tinggi, sulitnya mengakses pinjaman bank serta kurangnya transparansi dan kepastian hukum.

"Masalah ini menyulitkan pendatang baru untuk membangun usaha dan mempersulit upaya pemain lama untuk melakukan ekspansi dan mencapai skala ekonomi," tuturnya.

Untuk mengatasi masalah missing middle di Indonesia, dia merekomendasikan empat cara yang bisa dilakukan pemerintah. Rekomendasi itu, pemerintah disarankan untuk membuka akses usaha kecil terhadap sumber daya dan keuangan serta menyederhanakan kondisi bursa kerja. "Jadi agar usaha-usaha kecil bisa tumbuh kembang dan mengisi missing middle," tegasnya.

Selain itu, dengan penyelesaian isu-isu transportasi dan logistik serta mengurangi hambatan non tarif untuk mengakses pasar internasional. Dengan demikian, perusahaan non eksportir bisa lebih mudah menjadi eksportir dan melebarkan pangsa pasarnya. "Antara lain dengan mempromosikan standar-standar internasional," terang Sjamsu.

Sjamsu juga berharap adanya bantuan terhadap perusahaan menaiki mata rantai nilai. Diantaranya, dengan investasi yang lebih besar dibidang pendidikan, keterampilan pekerja dan teknologi. Disamping itu, juga dengan dorongan kompetisi dan keterbukaan ekonomi.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
1 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
2 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
3 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
5 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
5 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
5 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved