BPH Migas : Kini, saatnya gas gantikan BBM
Senin, 10 Desember 2012 - 12:19 WIB
BPH Migas : Kini, saatnya gas gantikan BBM
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menilai, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan diversifikasi energi dengan mendorong penggunaan gas bumi serta mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM).
Pasalnya, produksi gas bumi terus meningkat. Adapun, produksi minyak bumi mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
"Data 2011, produksi gas 8,415 standar kubik (mmscfd). Sebanyak 42 persen dialokasikan untuk bahan baku energi nasional. Turunnya produksi minyak dan naiknya gas ini menjadi momentum untuk meningkatkan penggunaan gas bumi dalam negeri," ungkap Kepala BPH Migas Andi N Sommeng dalam acara Penandatanganan GTA Ruas Kepodang-Tambak Lorok di Kantor BPH Migas, Jakarta, Senin (10/12/2012).
Namun, usaha untuk mendorong penggunaan gas bumi ini masih terkendala lemahnya infrastruktur, terutama pipa transmisi gas. "Perminataan gas bumi terkonsentrasi di (Indonesia) bagian barat. (Sementara) Penemuan gas di (Indonesia) timur, sehingga butuh pipa transmisi," jelas Andi.
Karena itu, pihaknya berharap agar pembangunan pipa gas transimisi Kalimantan Timur-Jawa Tengah (Kalija) dapat segera diselesaikan. "Dengan dibutuhkannya itu, pemerintah melalui Menko Perekonomian, menetapkan kebijakan pelaksanaan pembangunan pipa Kalimantan Timur menuju Jawa Tengah sepanjang 1.200 km (kilometer)," tandasnya.
Pasalnya, produksi gas bumi terus meningkat. Adapun, produksi minyak bumi mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
"Data 2011, produksi gas 8,415 standar kubik (mmscfd). Sebanyak 42 persen dialokasikan untuk bahan baku energi nasional. Turunnya produksi minyak dan naiknya gas ini menjadi momentum untuk meningkatkan penggunaan gas bumi dalam negeri," ungkap Kepala BPH Migas Andi N Sommeng dalam acara Penandatanganan GTA Ruas Kepodang-Tambak Lorok di Kantor BPH Migas, Jakarta, Senin (10/12/2012).
Namun, usaha untuk mendorong penggunaan gas bumi ini masih terkendala lemahnya infrastruktur, terutama pipa transmisi gas. "Perminataan gas bumi terkonsentrasi di (Indonesia) bagian barat. (Sementara) Penemuan gas di (Indonesia) timur, sehingga butuh pipa transmisi," jelas Andi.
Karena itu, pihaknya berharap agar pembangunan pipa gas transimisi Kalimantan Timur-Jawa Tengah (Kalija) dapat segera diselesaikan. "Dengan dibutuhkannya itu, pemerintah melalui Menko Perekonomian, menetapkan kebijakan pelaksanaan pembangunan pipa Kalimantan Timur menuju Jawa Tengah sepanjang 1.200 km (kilometer)," tandasnya.
(rna)
Lihat Juga :