Kadin: CAFTA bukti kegagalan diplomasi ekonomi RI
Selasa, 11 Desember 2012 - 19:00 WIB
Kadin: CAFTA bukti kegagalan diplomasi ekonomi RI
A
A
A
Sindonews.com - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menyatakan, diplomasi ekonomi dan perdagangan Indonesia masih lemah. Pemerintah Indonesia kerap kalah dan menjadi korban dalam permainan diplomasi ekonomi dunia sehingga dunia usaha di Indonesia menanggung beban kerugian yang besar.
Kadin menyebut kesepakatan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) sebagai contoh paling nyata kegagalan diplomasi ekonomi Indonesia.
"Dalam kasus CAFTA, Indonesia berada pada pihak yang dirugikan dengan korban pengusaha sektor industri," tutur Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulistio dalam Proyeksi Ekonomi 2013 di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (11/12/2012).
Menurut Suryo, kegagalan pemerintah dalam perundingan CAFTA tersebut harus dijadikan pelajaran agar tidak ada lagi kesepakatan yang merugikan perekonomian nasional. "Belajar pada kasus tersebut, pemerintah harus lebih teliti dan berhati-hati," ujar dia.
Sebagai catatan, selama periode 2007-2011 pertumbuhan impor Indonesia 2-3 kali lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspor akibat berbagai kesepakatan yang merugikan Indonesia. Dengan China, pertumbuhan impor lebih dari 300 persen sehingga defisit perdagangan semakin besar.
Kadin menyebut kesepakatan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) sebagai contoh paling nyata kegagalan diplomasi ekonomi Indonesia.
"Dalam kasus CAFTA, Indonesia berada pada pihak yang dirugikan dengan korban pengusaha sektor industri," tutur Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulistio dalam Proyeksi Ekonomi 2013 di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (11/12/2012).
Menurut Suryo, kegagalan pemerintah dalam perundingan CAFTA tersebut harus dijadikan pelajaran agar tidak ada lagi kesepakatan yang merugikan perekonomian nasional. "Belajar pada kasus tersebut, pemerintah harus lebih teliti dan berhati-hati," ujar dia.
Sebagai catatan, selama periode 2007-2011 pertumbuhan impor Indonesia 2-3 kali lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspor akibat berbagai kesepakatan yang merugikan Indonesia. Dengan China, pertumbuhan impor lebih dari 300 persen sehingga defisit perdagangan semakin besar.
(gpr)
Lihat Juga :