Choliq curhat sulitnya Waskita menjadi emiten
Kamis, 13 Desember 2012 - 13:32 WIB
Choliq curhat sulitnya Waskita menjadi emiten
A
A
A
Sindonews.com - Dalam paparan publik penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), Direktur Utama PT Waskita Karya (Waskita) M.Choliq mengeluhkan sulitnya menjadi perusahaan publik (emiten), mengingat perusahaan yang dipimpinnya berstatus badan usaha milik negara (BUMN).
Seperti diketahui, sebagai perusahaan pelat merah, proses untuk menjadi perusahaan terbuka lebih rumit dibanding perusahaan swasta. Pasalnya, BUMN perlu mendapat restu, tidak hanya dari pemerintah, tapi juga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
"Waskita itu kan milik negara, menjual milik negara itu tidak gampang. Ada Senayan (DPR), belum lagi menterinya banyak juga. Jadi, perolehan izinnya juga panjang," ujar Choliq di Wisma Sudirman Jakarta, Kamis (13/12/2012).
Dia menjelaskan, proses IPO yang dilalui BUMN konstruksi dibawah pimpinnya tersebut telah berlangsung selama enam bulan sepanjang tahun ini, meski rencana IPO telah diwacanakan tahun sebelumnya. Kendati demikian, kondisi pasar sektor konstruksi yang sedang baik, masih memberi angin segar bagi prosesi yang dilalui perseroan.
"Prosesnya IPO berjalan dengan lancar, karena didukung juga oleh pencapaian IHSG dan sektor saham konstruksi yang semakin baik," tandasnya.
Sekedar mengingatkan, Waskita sempat menjadi salah satu BUMN dengan laporan keuangan negatif. Untuk menyelamatkan perusahaan tersebut, PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) diberi mendat untuk menyuntikan modal sebesar Rp475 miliar pada Juli 2010.
Suntikan dana PPA ke Waskita Karya menyebabkan porsi saham pemerintah di Waskita terdilusi dan PPA akhirnya menguasai sebesar 99% saham Waskita Karya. Ini menyebabkan Waskita menjadi anak usaha PPA.
Sementara untuk menggelar IPO, Waskita diwajibkan menjadi BUMN terlebih dahulu. Pada Agustus lalu, PT Waskita Karya telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Keuangan terkait perubahan status dari anak usaha BUMN menjadi BUMN setelah masalah suntikan modal tersebut dituntaskan.
Selanjutnya, pada 19 Desember mendatang, perseroan resmi mencatatkan sahamnya di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan akan melepas 3,092 miliar lembar saham pada harga Rp380 per lembar, dengan target dana segar Rp1,17 triliun. Dana hasil IPO dialokasikan sebesar 60 persen untuk modal kerja dan sisanya untuk pengembangan usaha perseroan.
Seperti diketahui, sebagai perusahaan pelat merah, proses untuk menjadi perusahaan terbuka lebih rumit dibanding perusahaan swasta. Pasalnya, BUMN perlu mendapat restu, tidak hanya dari pemerintah, tapi juga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
"Waskita itu kan milik negara, menjual milik negara itu tidak gampang. Ada Senayan (DPR), belum lagi menterinya banyak juga. Jadi, perolehan izinnya juga panjang," ujar Choliq di Wisma Sudirman Jakarta, Kamis (13/12/2012).
Dia menjelaskan, proses IPO yang dilalui BUMN konstruksi dibawah pimpinnya tersebut telah berlangsung selama enam bulan sepanjang tahun ini, meski rencana IPO telah diwacanakan tahun sebelumnya. Kendati demikian, kondisi pasar sektor konstruksi yang sedang baik, masih memberi angin segar bagi prosesi yang dilalui perseroan.
"Prosesnya IPO berjalan dengan lancar, karena didukung juga oleh pencapaian IHSG dan sektor saham konstruksi yang semakin baik," tandasnya.
Sekedar mengingatkan, Waskita sempat menjadi salah satu BUMN dengan laporan keuangan negatif. Untuk menyelamatkan perusahaan tersebut, PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) diberi mendat untuk menyuntikan modal sebesar Rp475 miliar pada Juli 2010.
Suntikan dana PPA ke Waskita Karya menyebabkan porsi saham pemerintah di Waskita terdilusi dan PPA akhirnya menguasai sebesar 99% saham Waskita Karya. Ini menyebabkan Waskita menjadi anak usaha PPA.
Sementara untuk menggelar IPO, Waskita diwajibkan menjadi BUMN terlebih dahulu. Pada Agustus lalu, PT Waskita Karya telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Keuangan terkait perubahan status dari anak usaha BUMN menjadi BUMN setelah masalah suntikan modal tersebut dituntaskan.
Selanjutnya, pada 19 Desember mendatang, perseroan resmi mencatatkan sahamnya di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan akan melepas 3,092 miliar lembar saham pada harga Rp380 per lembar, dengan target dana segar Rp1,17 triliun. Dana hasil IPO dialokasikan sebesar 60 persen untuk modal kerja dan sisanya untuk pengembangan usaha perseroan.
(rna)
Lihat Juga :