Kinerja reksa dana saham diprediksi terjadi window dressing
Minggu, 16 Desember 2012 - 12:52 WIB
Kinerja reksa dana saham diprediksi terjadi window dressing
A
A
A
Sindonews.com - Kinerja reksa dana saham hingga akhir tahun ini diprediksi memiliki peluang untuk terjadinya window dressing. Hal ini seiring dengan proyeksi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang positif hingga penghujung tahun ini.
Analis riset PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, semua jenis reksa dana hingga akhir tahun ini memiliki potensi memberikan return yang positif. "Untuk reksa dana saham sendiri, kami memperkirakan bahwa tren terjadinya window dressing yang sudah berlangsung selama 10 tahun terakhir akan kembali berulang tahun ini," kata dia kepada Sindonews, belum lama ini.
Meski reksa dana saham diprediksi berpotensi terjadi window dressing, namun kalangan investor disarankan untuk tetap waspada terhadap adanya perubahan sentimen di pasar, yang dapat mengakibatkan IHSG bisa berubah arah secara cepat, seperti yang sempat terjadi pada akhir bulan lalu.
Sementara itu, Edbert memperkirakan, IHSG hingga akhir tahun ini akan bergerak pada level antara 4.350 an hingga 4.400. Sedangkan reksa dana saham maupun campuran akan bergerak seiring dengan pola pergerakan IHSG.
Analis Infovesta lainnya, Praksa Putrantyo menambahkan, potensi kenaikan IHSG yang terbatas di akhir tahun ini akan memberi pengaruh terutama pada reksa dana saham dan campuran karena aset dasarnya dengan porsi terbesarnya adalah saham.
Adapun pasar obligasi pemerintah (SUN) terlihat cukup tinggi, dimana imbal hasi dengan tenor 10 tahun makin tertekan ke level 5,3 persen seiring derasnya aliran dana asing ke surat utang negara (SUN). Ini terlihat pada kepemilikan asing terhadap SUN yang mencapai Rp270 triliun. Selain itu, juga didukung makin membaiknya angka persepsi resiko angka credit default swap (CDS) bertenor lima tahun, yang berada pada level 120 an basis poin.
Menurut Praska, dengan prospek reksa dana yang berpeluang menguat meski relatif terbatas, dengan penopang ekpektasi terjadinya window dressing, investor disarankan mengutamakan tujuan investasi masing-masing dan toleransi resiko.
"Tambah lagi, karena investasi reksa dana bersifat jangka panjang ditopang oleh prospek pasar modal Indonesia yang cukup solid, maka investor dapat memanfaatkan momentum koreksi untuk melakukan cost averaging (akumulasi)," saran dia.
Analis riset PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, semua jenis reksa dana hingga akhir tahun ini memiliki potensi memberikan return yang positif. "Untuk reksa dana saham sendiri, kami memperkirakan bahwa tren terjadinya window dressing yang sudah berlangsung selama 10 tahun terakhir akan kembali berulang tahun ini," kata dia kepada Sindonews, belum lama ini.
Meski reksa dana saham diprediksi berpotensi terjadi window dressing, namun kalangan investor disarankan untuk tetap waspada terhadap adanya perubahan sentimen di pasar, yang dapat mengakibatkan IHSG bisa berubah arah secara cepat, seperti yang sempat terjadi pada akhir bulan lalu.
Sementara itu, Edbert memperkirakan, IHSG hingga akhir tahun ini akan bergerak pada level antara 4.350 an hingga 4.400. Sedangkan reksa dana saham maupun campuran akan bergerak seiring dengan pola pergerakan IHSG.
Analis Infovesta lainnya, Praksa Putrantyo menambahkan, potensi kenaikan IHSG yang terbatas di akhir tahun ini akan memberi pengaruh terutama pada reksa dana saham dan campuran karena aset dasarnya dengan porsi terbesarnya adalah saham.
Adapun pasar obligasi pemerintah (SUN) terlihat cukup tinggi, dimana imbal hasi dengan tenor 10 tahun makin tertekan ke level 5,3 persen seiring derasnya aliran dana asing ke surat utang negara (SUN). Ini terlihat pada kepemilikan asing terhadap SUN yang mencapai Rp270 triliun. Selain itu, juga didukung makin membaiknya angka persepsi resiko angka credit default swap (CDS) bertenor lima tahun, yang berada pada level 120 an basis poin.
Menurut Praska, dengan prospek reksa dana yang berpeluang menguat meski relatif terbatas, dengan penopang ekpektasi terjadinya window dressing, investor disarankan mengutamakan tujuan investasi masing-masing dan toleransi resiko.
"Tambah lagi, karena investasi reksa dana bersifat jangka panjang ditopang oleh prospek pasar modal Indonesia yang cukup solid, maka investor dapat memanfaatkan momentum koreksi untuk melakukan cost averaging (akumulasi)," saran dia.
(rna)
Lihat Juga :