10 CEO terburuk 2012 versi Forbes
Selasa, 25 Desember 2012 - 15:38 WIB
10 CEO terburuk 2012 versi Forbes
A
A
A
Sindonews.com - Jika ada Chief Executive Officer (CEO) terbaik yang dinobatkan di tahun 2012, tentunya ada pula CEO terburuk dalam menjalankan perusahaannya selama 2012.
Dilansir dari Forbes, Selasa (25/12/2012), majalah ternama tersebut mengumumkan daftar CEO terburuk sepanjang 2012. Penilaian ini didasarkan pada kinerja perusahaan, kesalahan strategi, atau skandal yang menjerat pemimpin.
Namun, Forbes sendiri percaya selain nama-nama CEO terburu 2012 yang dirilisnya secara singkat dan tidak dalam urutan tertentu, mungkin ada CEO lain di luar sana yang mungkin layak untuk dimasukkan. Berikut daftar CEO terburuk pilihan Forbes:
Aubrey McClendon, CEO Chesapeake Energy
Selama kepemimpinannya, saham perusahaan turun 20 persen tahun ini. Dia juga dinilai sebagai CEO korup, karena meminjam USD500 juta untuk kepentingan pribadinya. Dia juga diduga menjalankan bisnis hedge fund rahasia dengan menggunakan uang perusahaan senilai USD200 juta.
Brian Dunn, CEO Best Buy
Dalam kepemimpinannya selama lima tahun, harga saham menurun tajam akibat kalah bersaing dengan Wal-Mart, Apple, Amazon dan penjual online lainnya. Selin itu, dia gagal untuk meningkatkan layanan pelanggan dan penawaran online. Cadangan kas turun 85 persen akibat penjualan yang jatuh dan beban meningkat.
Dia mengundurkan diri karena hubungan gelapnya dengan bawahan yang berusia 29 tahun terungkap. Meskipun ia dan wanita itu membantah hubungan seksual itu, komite audit menemukan bahwa dia memberikan tiket ke tujuh konser dan acara olahraga, dan selama sembilan hari keluar dari kantor di luar bisnis, ia menghubunginya melalui telepon seluler 224 kali.
Andrea Jung, CEO Avon
Selama dalam kepemimpinannya, pendapatan kuartal ketiga turun 81 persen. Saham juga jatuh dari USD30 di Mei 2011 menjadi USD14. Dia dianggap gagal kerena menolak rencana akuisisi dari perusahaan kosmetik Prancis, Coty sebesar USD10,7 miliar. Padahal, langkah ini bisa menjadi strategi Avon untuk bangkit.
Meskipun Jung belum dituduh melakukan kesalahan apapun, perusahaan sedang diselidiki untuk pelanggaran Foreign Corrupt Practices Act, yang melarang penyuapan pejabat asing untuk mendapatkan bisnis. Penyelidikan telah menelan biaya yang dikeluarkan Avon senilai USD300 juta untuk biaya hukum.
Mark Pincus, CEO Zynga
Sejak Initial Public Offering (IPO), saham di Zynga telah merosot dari USD10, dan kini menjadi hanya USD2,40 per saham, karena jumlah pengguna naik dan jumlah pelanggan yang membayar turun. Selain itu, dia juga membeli situs game online OMGPOP dengan harga hampir USD200 juta, namun kemudian ditulis hanya 50 persen dari harga aslinya.
Saat ini Zynga hampir sepenuhnya tergantung pada Facebook untuk pendapatan (90 persen) sehingga ketika perubahan Facebook, Zynga dipaksa untuk beradaptasi dengan segera. Pincus sendiri menjual 16,5 juta saham setelah IPO, yang menunjukkan dia tidak memiliki iman dalam harga saham perusahaan.
Rodrigo Rato, Presiden Bankia
Meskipun dia bukan seorang CEO, namun karena tindakannya, telah membuatnya masuk ke dalam CEO terburuk. Rato adalah mantan menteri keuangan Spanyol dan Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF). Dia menjual saham kepada 300 ribu investor kecil yang sebagian besar adalah klien bank.
Dia mengatakan bahwa bank tersebut "sehat", namun kenyataannya bank tersebut terkena bailout dan harus diselamatkan oleh pemerintah Spanyol. Selama kepemimpinannya, bank mengalami kerugian hingga tiga miliar euro.
Ronald Johnson, CEO J.C. Penney
Mantan Kepala bisnis ritel Apple tersebut telah membuat harga saham JC Penny anjlok hingga 50 persen di awal tahun. Kemudian dalam kuartal III perusahaan harus kehilangan USD203 juta, dibandingkan dengan laba kuartal III sebesar USD186 juta tahun lalu. Selain itu penjualan toko juga ambles sebesar 26 persen, serta penjualan online turun 37 persen pada kuartal ketiga.
Nancy Brinker, CEO Susan G. Komen for the Cure
Brinker bertanggung jawab atas kegiatan amal kanker payudara perusahaannya. Namun awal tahun dia mengumumkan bahwa pihaknya akan menghentikan pendanaan program kesehatan payudara di Planned Parenthood, diduga karena kebijakan baru pembatasan hibah kepada organisasi di bawah investigasi pemerintah. (Rep Cliff Stearns (R-Fla.) telah meluncurkan penyelidikan apakah Planned Parenthood menggunakan uang publik untuk mendanai aborsi.
Selain itu, Brinker juga mempekerjakan mantan kandidat gubernur Republik Georgia Karen Handel, seorang kritikus dari Planned Parenthood.
Michael Hervey, CEO Long Island Power Authority (LIPA)
Menurut New York Times, Lipa dianggap gagal dalam menangani Badai Sandy. Dia memiliki track record gagal untuk mempersiapkan badai, termasuk langkah-langkah dasar seperti pemangkasan pohon-pohon yang bisa menjatuhkan tiang listrik.
Setelah hantaman Sandy, LIPA dianggap gagal berkomunikasi dengan pelanggan, meninggalkan telepon tak terjawab dari pelanggan. LIPA gagal mengirimkan kru layanan seperti yang dijanjikan. Gubernur New York Andrew Cuomo mengecam LIPA untuk catatan layanan yang buruk.
Robert Diamond, CEO Barclays
Manipulasi suku bunga kredit antarbank terjadi dalam masa kepemimpinannya. Skandal itu dianggap telah menguntungkan dirinya sendiri. Saham perusahaan juga anjlok dari USD16 menjadi USD9.
Selain itu, dia juga setuju untuk membayar USD450 juta untuk regulator Inggris dan Amerika untuk menyelesaikan tuduhan sipil yang berasal dari beban bunga. Hingga saat ini, otoritas hukum masih mempertimbangkan apakah akan mengajukan tuntutan pidana terhadap Barclays dan bank lain.
Stuart Gulliver, CEO HSBC
Skandal pencucian uang terjadi saat Stuart Gulliver memimpin kegiatan di salah satu bank terbesar di dunia ini. HSBC pun terkena denda senilai USD1,92 miliar.
Reputasi HSBC sebagai bank terbaik pun jatuh akibat Gulliver dan jajaran manajernya diduga memuluskan transaksi keuangan para penjahat seperti kartel narkotika hingga teroris.
Dilansir dari Forbes, Selasa (25/12/2012), majalah ternama tersebut mengumumkan daftar CEO terburuk sepanjang 2012. Penilaian ini didasarkan pada kinerja perusahaan, kesalahan strategi, atau skandal yang menjerat pemimpin.
Namun, Forbes sendiri percaya selain nama-nama CEO terburu 2012 yang dirilisnya secara singkat dan tidak dalam urutan tertentu, mungkin ada CEO lain di luar sana yang mungkin layak untuk dimasukkan. Berikut daftar CEO terburuk pilihan Forbes:
Aubrey McClendon, CEO Chesapeake Energy
Selama kepemimpinannya, saham perusahaan turun 20 persen tahun ini. Dia juga dinilai sebagai CEO korup, karena meminjam USD500 juta untuk kepentingan pribadinya. Dia juga diduga menjalankan bisnis hedge fund rahasia dengan menggunakan uang perusahaan senilai USD200 juta.
Brian Dunn, CEO Best Buy
Dalam kepemimpinannya selama lima tahun, harga saham menurun tajam akibat kalah bersaing dengan Wal-Mart, Apple, Amazon dan penjual online lainnya. Selin itu, dia gagal untuk meningkatkan layanan pelanggan dan penawaran online. Cadangan kas turun 85 persen akibat penjualan yang jatuh dan beban meningkat.
Dia mengundurkan diri karena hubungan gelapnya dengan bawahan yang berusia 29 tahun terungkap. Meskipun ia dan wanita itu membantah hubungan seksual itu, komite audit menemukan bahwa dia memberikan tiket ke tujuh konser dan acara olahraga, dan selama sembilan hari keluar dari kantor di luar bisnis, ia menghubunginya melalui telepon seluler 224 kali.
Andrea Jung, CEO Avon
Selama dalam kepemimpinannya, pendapatan kuartal ketiga turun 81 persen. Saham juga jatuh dari USD30 di Mei 2011 menjadi USD14. Dia dianggap gagal kerena menolak rencana akuisisi dari perusahaan kosmetik Prancis, Coty sebesar USD10,7 miliar. Padahal, langkah ini bisa menjadi strategi Avon untuk bangkit.
Meskipun Jung belum dituduh melakukan kesalahan apapun, perusahaan sedang diselidiki untuk pelanggaran Foreign Corrupt Practices Act, yang melarang penyuapan pejabat asing untuk mendapatkan bisnis. Penyelidikan telah menelan biaya yang dikeluarkan Avon senilai USD300 juta untuk biaya hukum.
Mark Pincus, CEO Zynga
Sejak Initial Public Offering (IPO), saham di Zynga telah merosot dari USD10, dan kini menjadi hanya USD2,40 per saham, karena jumlah pengguna naik dan jumlah pelanggan yang membayar turun. Selain itu, dia juga membeli situs game online OMGPOP dengan harga hampir USD200 juta, namun kemudian ditulis hanya 50 persen dari harga aslinya.
Saat ini Zynga hampir sepenuhnya tergantung pada Facebook untuk pendapatan (90 persen) sehingga ketika perubahan Facebook, Zynga dipaksa untuk beradaptasi dengan segera. Pincus sendiri menjual 16,5 juta saham setelah IPO, yang menunjukkan dia tidak memiliki iman dalam harga saham perusahaan.
Rodrigo Rato, Presiden Bankia
Meskipun dia bukan seorang CEO, namun karena tindakannya, telah membuatnya masuk ke dalam CEO terburuk. Rato adalah mantan menteri keuangan Spanyol dan Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF). Dia menjual saham kepada 300 ribu investor kecil yang sebagian besar adalah klien bank.
Dia mengatakan bahwa bank tersebut "sehat", namun kenyataannya bank tersebut terkena bailout dan harus diselamatkan oleh pemerintah Spanyol. Selama kepemimpinannya, bank mengalami kerugian hingga tiga miliar euro.
Ronald Johnson, CEO J.C. Penney
Mantan Kepala bisnis ritel Apple tersebut telah membuat harga saham JC Penny anjlok hingga 50 persen di awal tahun. Kemudian dalam kuartal III perusahaan harus kehilangan USD203 juta, dibandingkan dengan laba kuartal III sebesar USD186 juta tahun lalu. Selain itu penjualan toko juga ambles sebesar 26 persen, serta penjualan online turun 37 persen pada kuartal ketiga.
Nancy Brinker, CEO Susan G. Komen for the Cure
Brinker bertanggung jawab atas kegiatan amal kanker payudara perusahaannya. Namun awal tahun dia mengumumkan bahwa pihaknya akan menghentikan pendanaan program kesehatan payudara di Planned Parenthood, diduga karena kebijakan baru pembatasan hibah kepada organisasi di bawah investigasi pemerintah. (Rep Cliff Stearns (R-Fla.) telah meluncurkan penyelidikan apakah Planned Parenthood menggunakan uang publik untuk mendanai aborsi.
Selain itu, Brinker juga mempekerjakan mantan kandidat gubernur Republik Georgia Karen Handel, seorang kritikus dari Planned Parenthood.
Michael Hervey, CEO Long Island Power Authority (LIPA)
Menurut New York Times, Lipa dianggap gagal dalam menangani Badai Sandy. Dia memiliki track record gagal untuk mempersiapkan badai, termasuk langkah-langkah dasar seperti pemangkasan pohon-pohon yang bisa menjatuhkan tiang listrik.
Setelah hantaman Sandy, LIPA dianggap gagal berkomunikasi dengan pelanggan, meninggalkan telepon tak terjawab dari pelanggan. LIPA gagal mengirimkan kru layanan seperti yang dijanjikan. Gubernur New York Andrew Cuomo mengecam LIPA untuk catatan layanan yang buruk.
Robert Diamond, CEO Barclays
Manipulasi suku bunga kredit antarbank terjadi dalam masa kepemimpinannya. Skandal itu dianggap telah menguntungkan dirinya sendiri. Saham perusahaan juga anjlok dari USD16 menjadi USD9.
Selain itu, dia juga setuju untuk membayar USD450 juta untuk regulator Inggris dan Amerika untuk menyelesaikan tuduhan sipil yang berasal dari beban bunga. Hingga saat ini, otoritas hukum masih mempertimbangkan apakah akan mengajukan tuntutan pidana terhadap Barclays dan bank lain.
Stuart Gulliver, CEO HSBC
Skandal pencucian uang terjadi saat Stuart Gulliver memimpin kegiatan di salah satu bank terbesar di dunia ini. HSBC pun terkena denda senilai USD1,92 miliar.
Reputasi HSBC sebagai bank terbaik pun jatuh akibat Gulliver dan jajaran manajernya diduga memuluskan transaksi keuangan para penjahat seperti kartel narkotika hingga teroris.
(gpr)
Lihat Juga :