Tak dikelola baik, Menkeu ancam naikkan harga BBM subsidi
Senin, 07 Januari 2013 - 15:39 WIB
Tak dikelola baik, Menkeu ancam naikkan harga BBM subsidi
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo memperingatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik agar benar-benar menjaga kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Bila kuota BBM subsidi kembali jebol pada tahun ini, Agus tidak menutup kemungkinan akan mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi.
"Kalau pengelolaan BBM tidak bisa dikelola dengan baik, harus terjadi penyesuaian harga. Kalau semua upaya tidak bisa mengendalikan itu, ya kita sesuaikan," tegas Agus usai konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (7/1/2013).
Menurut Agus, kelalaian Jero dalam mengawal pasokan BBM subsidi bisa membahayakan perekonomian negara secara keseluruhan, terutama di sektor fiskal. "Kalau itu tidak ada satu pengendalian yang baik, bisa membahayakan fiskal," ucapnya.
Akan tetapi, Agus menggarisbahwahi bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi, sehingga masyarakat tak perlu panik. "Tapi kita sekarang belum ada rencana itu (menaikkan harga BBM subsidi)," imbuh dia.
Mantan Direktur Utama Bank Mandiri tersebut berjanji akan menjaga agar anggaran subsidi tidak membengkak lagi seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuannya tak lain adalah mengamankan kondisi fiskal Indonesia.
"Pada 2013, perhatian kami adalah subsidi ini. Kami ingin mengendalikan subsidi BBM dan listrik dengan lebih baik," tandas Agus.
Dia juga memberi catatan, bisa saja harga BBM subsidi tidak naik meski telah melewati kuota, jika tertutupi oleh faktor-faktor lain, seperti peningkatan penerimaan negara atau penurunan harga minyak dunia.
"Kalau toleransi, tiap dua minggu kita kaji. Tentu saja ada di harga BBM yang terkoreksi, kalau terjadi koreksi tentu masih tidak apa-apa. Faktor-faktor lain harus bisa mengompensasi kalau itu terlewati," tuturnya.
Kemenkeu menyatakan bahwa subsidi energi sepanjang tahun lalu membengkak hingga Rp104 triliun. "Subsidi energi tahun 2012 mencapai Rp306,5 triliun. Sebelumnya direncanakan Rp202,4 triliun, atau 151 persen dari anggaran," tutur Agus.
Melonjaknya beban negara untuk subsidi energi ini diakui oleh Agus sebagai akibat kesalahan pemerintah dalam menetapkan angka subsidi. Agus menambahkan, subsidi BBM pada tahun lalu jebol hingga 54 persen menjadi Rp211,9 triliun. Sementara, subsidi listrik juga bobol 45 persen dari alokasi Rp65 triliun, realisasinya menjadi Rp94,5 triliun.
"Kalau pengelolaan BBM tidak bisa dikelola dengan baik, harus terjadi penyesuaian harga. Kalau semua upaya tidak bisa mengendalikan itu, ya kita sesuaikan," tegas Agus usai konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (7/1/2013).
Menurut Agus, kelalaian Jero dalam mengawal pasokan BBM subsidi bisa membahayakan perekonomian negara secara keseluruhan, terutama di sektor fiskal. "Kalau itu tidak ada satu pengendalian yang baik, bisa membahayakan fiskal," ucapnya.
Akan tetapi, Agus menggarisbahwahi bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi, sehingga masyarakat tak perlu panik. "Tapi kita sekarang belum ada rencana itu (menaikkan harga BBM subsidi)," imbuh dia.
Mantan Direktur Utama Bank Mandiri tersebut berjanji akan menjaga agar anggaran subsidi tidak membengkak lagi seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuannya tak lain adalah mengamankan kondisi fiskal Indonesia.
"Pada 2013, perhatian kami adalah subsidi ini. Kami ingin mengendalikan subsidi BBM dan listrik dengan lebih baik," tandas Agus.
Dia juga memberi catatan, bisa saja harga BBM subsidi tidak naik meski telah melewati kuota, jika tertutupi oleh faktor-faktor lain, seperti peningkatan penerimaan negara atau penurunan harga minyak dunia.
"Kalau toleransi, tiap dua minggu kita kaji. Tentu saja ada di harga BBM yang terkoreksi, kalau terjadi koreksi tentu masih tidak apa-apa. Faktor-faktor lain harus bisa mengompensasi kalau itu terlewati," tuturnya.
Kemenkeu menyatakan bahwa subsidi energi sepanjang tahun lalu membengkak hingga Rp104 triliun. "Subsidi energi tahun 2012 mencapai Rp306,5 triliun. Sebelumnya direncanakan Rp202,4 triliun, atau 151 persen dari anggaran," tutur Agus.
Melonjaknya beban negara untuk subsidi energi ini diakui oleh Agus sebagai akibat kesalahan pemerintah dalam menetapkan angka subsidi. Agus menambahkan, subsidi BBM pada tahun lalu jebol hingga 54 persen menjadi Rp211,9 triliun. Sementara, subsidi listrik juga bobol 45 persen dari alokasi Rp65 triliun, realisasinya menjadi Rp94,5 triliun.
(rna)
Lihat Juga :