Ini alasan pemerintah belum naikkan harga BBM
Kamis, 21 Maret 2013 - 12:39 WIB
Ini alasan pemerintah belum naikkan harga BBM
A
A
A
Sindonews.com - Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah membantah anggapan bahwa pemerintah tidak berani menaikkan harga BBM bersubsidi karena alasan politis atau terkait pencitraan. Karena menurut pemerintah, masih ada sejumlah opsi sebelum harga BBM dinaikkan.
“Ini kan baru tiga bulan awal APBN 2013 berjalan, masih tetap dimonitor konsumsi BBM, sampai sekarang meskipun beberapa kalangan memperkirakan masih ada potensi BBM bersubsdii akhir tahun 2013 akan melibihi kuota dari sebesar 46 kiloliter (KL). Tapi itu masih potensi, karena saat ini masih baru awal tahun anggaran,” ujar Firmanzah seperti dilansir dari situs resmi Sekretariat Kabinet, Kamis (21/3/2013).
Hal lain yang juga dijadikan pertimbangan pemerintah, lanjut mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu, dalam dua bulan awal tahun anggaran 2013 ini inflasi juga sudah tinggi, tarif listrik sudah naik bertahap, dan pemerintah juga sudah menyelesaikan persoalan kartel sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah, bawang putih, dan daging sapi.
“Menaikkan harga BBM bersubsidi itu tetap merupakan opsi terakhir. Masih ada opsi pengendalian, pengalihan anggaran, dan sebagainya,” tegas Firmanzah.
Dia memperkirakan, kemungkinan baru pada September ataupun Oktober mendatang akan diketahui perlu tidaknya pemerintah mengajukan alokasi tambahan kuota subsidi BBM.
Diakui Firmanzah, yang terjadi saat ini trend-nya ada kemungkinan konsumsi BBM bersubsidi akan melewati kuota yang dialokasikan dalam APBN 2013. Namun ia mengingatkan, hal itu dengan catatan kalau pemerintah tidak melakukan apa-apa.
“Sekarang ini Kementerian ESDM sedang merumuskan pengendalian subsidi BBM, agar lebih tepat sasaran,” ujarnya.
“Ini kan baru tiga bulan awal APBN 2013 berjalan, masih tetap dimonitor konsumsi BBM, sampai sekarang meskipun beberapa kalangan memperkirakan masih ada potensi BBM bersubsdii akhir tahun 2013 akan melibihi kuota dari sebesar 46 kiloliter (KL). Tapi itu masih potensi, karena saat ini masih baru awal tahun anggaran,” ujar Firmanzah seperti dilansir dari situs resmi Sekretariat Kabinet, Kamis (21/3/2013).
Hal lain yang juga dijadikan pertimbangan pemerintah, lanjut mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu, dalam dua bulan awal tahun anggaran 2013 ini inflasi juga sudah tinggi, tarif listrik sudah naik bertahap, dan pemerintah juga sudah menyelesaikan persoalan kartel sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah, bawang putih, dan daging sapi.
“Menaikkan harga BBM bersubsidi itu tetap merupakan opsi terakhir. Masih ada opsi pengendalian, pengalihan anggaran, dan sebagainya,” tegas Firmanzah.
Dia memperkirakan, kemungkinan baru pada September ataupun Oktober mendatang akan diketahui perlu tidaknya pemerintah mengajukan alokasi tambahan kuota subsidi BBM.
Diakui Firmanzah, yang terjadi saat ini trend-nya ada kemungkinan konsumsi BBM bersubsidi akan melewati kuota yang dialokasikan dalam APBN 2013. Namun ia mengingatkan, hal itu dengan catatan kalau pemerintah tidak melakukan apa-apa.
“Sekarang ini Kementerian ESDM sedang merumuskan pengendalian subsidi BBM, agar lebih tepat sasaran,” ujarnya.
(gpr)
Lihat Juga :