2012, PLN menanggung beban usaha Rp203,1 triliun
Senin, 15 April 2013 - 10:43 WIB
2012, PLN menanggung beban usaha Rp203,1 triliun
A
A
A
Sindonews.com - Sepanjang 2012, PT PLN (Persero) mencatat beban usaha sebesar Rp203,1 triliun, meningkat 9 persen dibandingkan 2011 yang mencatatkan angka Rp185,6 triliun. Adapun beban usaha di 2010 tercatat sebesar Rp149,1 triliun.
"Meningkatnya beban usaha ini karena peningkatan konsumsi bahan bakar dan pelumas dan pembelian tenaga listrik untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik dari masyarakat. Meningkatnya beban usaha juga karena adanya peningkatan penyusutan akibat meningkatnya jumlah asset perseroan," jelas Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto dalam keterangan persnya, Senin (15/4/2013).
Laba usaha perusahaan naik sebesar Rp7,1 triliun atau 32 persen dari Rp22,4 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp29,5 triliun pada 2012. Adapun laba usaha perusahaan di 2010 tercatat sebesar Rp13.3 triliun. Namun laba bersih perseroan mengalami penurunan sebesar Rp2,2 triliun menjadi Rp3,2 triliun pada 2012 dari Rp5,4 triliun pada tahun sebelumnya.
Adapun laba bersih perusahaan pada 2010 tercatat sebeser Rp10,1 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan adanya peningkatan rugi selisih kurs sebesar Rp4,1 triliun dari Rp1,8 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp5,9 triliun pada 2012 sebagai akibat dari translasi liabilitas perusahaan dalam mata uang asing, dimana tahun ini terjadi pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika (USD) meskipun disisi lain terjadi penguatan terhadap yen Jepang (JPY).
Penurunan laba bersih diatas terutama disebabkan oleh transaksi non-cash sehingga tidak berpengaruh terhadap EBITDA perusahaan yang mengalami kenaikan sebesar 26,1 persen menjadi Rp52,4 triliun pada tahun 2012 dari Rp41,6 triliun pada tahun 2011.
Peningkatan rugi kurs sebesar Rp 4,1 triliun terdiri dari peningkatan rugi kurs Rp8,0 triliun atas pinjaman-pinjaman yang mayoritas dalam mata uang dollar Amerika USD, yaitu : utang sewa pembiayaan atas penerapan ISAK 8 sebesar 45 persen, utang obligasi internasional sebesar 32 persen, utang bank sebesar 17 persen, dan liabilitas moneter lainnya (net off asset) sebesar 6 persen.
Namun disisi lain terjadi peningkatan laba kurs sebesar Rp3,9 triliun atas utang sewa pembiayaan PLTU Tanjung Jati B dan utang penerusan pinjaman yang mayoritas dalam mata uang yen Jepang (JPY).
"Meningkatnya beban usaha ini karena peningkatan konsumsi bahan bakar dan pelumas dan pembelian tenaga listrik untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik dari masyarakat. Meningkatnya beban usaha juga karena adanya peningkatan penyusutan akibat meningkatnya jumlah asset perseroan," jelas Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto dalam keterangan persnya, Senin (15/4/2013).
Laba usaha perusahaan naik sebesar Rp7,1 triliun atau 32 persen dari Rp22,4 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp29,5 triliun pada 2012. Adapun laba usaha perusahaan di 2010 tercatat sebesar Rp13.3 triliun. Namun laba bersih perseroan mengalami penurunan sebesar Rp2,2 triliun menjadi Rp3,2 triliun pada 2012 dari Rp5,4 triliun pada tahun sebelumnya.
Adapun laba bersih perusahaan pada 2010 tercatat sebeser Rp10,1 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan adanya peningkatan rugi selisih kurs sebesar Rp4,1 triliun dari Rp1,8 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp5,9 triliun pada 2012 sebagai akibat dari translasi liabilitas perusahaan dalam mata uang asing, dimana tahun ini terjadi pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika (USD) meskipun disisi lain terjadi penguatan terhadap yen Jepang (JPY).
Penurunan laba bersih diatas terutama disebabkan oleh transaksi non-cash sehingga tidak berpengaruh terhadap EBITDA perusahaan yang mengalami kenaikan sebesar 26,1 persen menjadi Rp52,4 triliun pada tahun 2012 dari Rp41,6 triliun pada tahun 2011.
Peningkatan rugi kurs sebesar Rp 4,1 triliun terdiri dari peningkatan rugi kurs Rp8,0 triliun atas pinjaman-pinjaman yang mayoritas dalam mata uang dollar Amerika USD, yaitu : utang sewa pembiayaan atas penerapan ISAK 8 sebesar 45 persen, utang obligasi internasional sebesar 32 persen, utang bank sebesar 17 persen, dan liabilitas moneter lainnya (net off asset) sebesar 6 persen.
Namun disisi lain terjadi peningkatan laba kurs sebesar Rp3,9 triliun atas utang sewa pembiayaan PLTU Tanjung Jati B dan utang penerusan pinjaman yang mayoritas dalam mata uang yen Jepang (JPY).
(gpr)
Lihat Juga :