YLKI: Skema dua harga BBM sulitkan konsumen

Kamis, 18 April 2013 - 13:47 WIB
YLKI: Skema dua harga...
YLKI: Skema dua harga BBM sulitkan konsumen
A A A
Sindonews.com – Kebijakan dua harga (dual price) bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinilai kurang tepat karena akan menyulitkan konsumen dalam memenuhi kebutuhan energi. Untuk mengurangi subsidi BBM, pemerintah disarankan memberlakukan satu harga kepada konsumen.

Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi di Jakarta, Kamis (18/4/2013), mengapresiasi rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Namun dia tidak setuju, bila kebijakan ini diberlakukan dengan dua harga karena akan sulit diimplementasikan di lapangan.

Untuk mengurangi subsidi BBM, pemerintah akan menaikkan harga BBM bersubsidi dari Rp4.500 per liter menjadi Rp6.500 per liter untuk mobil pribadi (pelat hitam). Namun, untuk sepeda motor dan angkutan umum masih menggunakan harga lama, yakni Rp4.500 per liter.

Dengan kebijakan dua harga tersebut, kata Tulus, sesungguhnya masih ada disparitas harga yang cukup jauh. Akibatnya, kebijakan dua harga itu rawan diselewengkan oleh para spekulan di lapangan untuk mengeruk keuntungan.

Selain itu, juga akan memicu migrasi penggunaan mobil ke sepeda motor. Bila ini terjadi, tujuan mengurangi subsidi BBM terancam gagal. “Pengalaman di elpiji seharunya menjadi pelajaran. Adanya disparitas harga banyak pemakai elpiji 12 kilogram (kg) lari ke elpiji 3 kg,” terang Tulus.

Selain konsumen, kebijakan itu juga akan mendatangkan banyak kerepotan bagi pemerintah, termasuk dalam pengaturan SPBU dual price. Di SPBU terpencil, dua harga sulit dilaksanakan. Konsumen pastinya akan memilih membeli harga BBM dengan harga Rp 4.500 dibanding dengan harga di atasnya.

Pemerintah sampai kini memang belum mengambil keputusan opsi mana yang dipilih untuk mengurangi subsidi BBM. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar kebijakan itu lebih didetailkan implementasinya, terkait dampak inflasi, transisi perubahan harga, hingga infrastruktur yang mendukung.

Untuk itu Tulus menyarankan, sebaiknya dalam mengurangi subsidi BBM ini pemerintah jangan memiliki kebijakan dua harga. Sebaiknya harga BBM bersubsidi diberlakukan satu harga. “Kalau pun harus dinaikan, dinaikkan saja. Tapi jangan ada perbedaan harga,” pungkasnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga BBM Pertamina...
Harga BBM Pertamina Naik Mulai Maret 2026, Ini Daftar Terbarunya
3 Jenis BBM Pertamina...
3 Jenis BBM Pertamina Naik, Intip Perbandingan Harga dengan Shell, Vivo dan BP
BBM Nonsubsidi Naik...
BBM Nonsubsidi Naik Drastis per 18 April 2026, Mobil Premium dan Pajero-Fortuner Paling Boncos!
Pemanfaatan BBM Subsidi...
Pemanfaatan BBM Subsidi Selama Ini Dinilai Salahi Prinsip Keadilan
Harga BBM Naik, Isi...
Harga BBM Naik, Isi Tangki Full City Car Honda Brio Butuh Setengah Juta Rupiah
Kenaikan BBM Mendadak,...
Kenaikan BBM Mendadak, SPBU di Gunungkidul Pilih Tutup hingga Mesin Disesuaikan Harga
Berita Terkini
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
2 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
2 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
11 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
12 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
12 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved