Investor RI diminta waspadai pembalikan arah investasi
Jum'at, 19 April 2013 - 10:52 WIB
Investor RI diminta waspadai pembalikan arah investasi
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo menyatakan, pemerintah tengah mewaspadai risiko pembalikan arah investasi, mengingat saat ini kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) sudah mulai membaik.
Menkeu menjelaskan, keterbatasan sejumlah negara maju, khususnya AS untuk memberikan stimulus fiskal dalam mendorong perekonomiannya membuat negara tersebut mengambil kebijakan quantitative easing. Akibatnya, likuiditas yang dikeluarkan oleh bank sentral AS membuat aliran dana terus mengalir ke negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.
Namun, saat perekonomian AS sudah mulai pulih, ada kemungkinan terjadi pembalikan arah investasi yang perlu diwaspadai. “Amerika Serikat tampaknya sudah mulai membaik perekonomiannya. Apalagi tingkat pengangguran di sana juga sudah mulai menurun. Kami meminta investor di dalam negeri untuk mewaspadai pembalikan arah. Hati-hati saja ancamannya,” ujar Agus dikutip dari situs resmi Kemenkeu, Jumat (19/4/2013).
Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut, pemerintah telah menyiapkan strategi, salah satunya, pengamanan Surat Utang Negara melalui bond stabilization framework (BSF). BSF terdiri dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang nantinya akan menstabilkan pasar surat utang.
“BUMN kita banyak yang memiliki kekuatan pendanaan yang besar. Jadi mereka nanti akan stabilkan pasar surat utang jika sewaktu-waktu banyak investor asing yang melepas surat utang dan membuat harga SUN jatuh. Itu koordinasi terkait surat utang kita,” jelasnya.
Selain BSF, Agus menambahkan, pemerintah juga sudah menandatangani perjanjian Chiang Mai untuk tujuan mengatasi masalah neraca pembayaran dan likuiditas jangka pendek, serta mengadakan perjanjian currency swap dengan China dan Jepang.
Selain itu, pemerintah juga sudah memiliki cadangan pembiayaan dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar USD5 miliar.
Menkeu menjelaskan, keterbatasan sejumlah negara maju, khususnya AS untuk memberikan stimulus fiskal dalam mendorong perekonomiannya membuat negara tersebut mengambil kebijakan quantitative easing. Akibatnya, likuiditas yang dikeluarkan oleh bank sentral AS membuat aliran dana terus mengalir ke negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.
Namun, saat perekonomian AS sudah mulai pulih, ada kemungkinan terjadi pembalikan arah investasi yang perlu diwaspadai. “Amerika Serikat tampaknya sudah mulai membaik perekonomiannya. Apalagi tingkat pengangguran di sana juga sudah mulai menurun. Kami meminta investor di dalam negeri untuk mewaspadai pembalikan arah. Hati-hati saja ancamannya,” ujar Agus dikutip dari situs resmi Kemenkeu, Jumat (19/4/2013).
Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut, pemerintah telah menyiapkan strategi, salah satunya, pengamanan Surat Utang Negara melalui bond stabilization framework (BSF). BSF terdiri dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang nantinya akan menstabilkan pasar surat utang.
“BUMN kita banyak yang memiliki kekuatan pendanaan yang besar. Jadi mereka nanti akan stabilkan pasar surat utang jika sewaktu-waktu banyak investor asing yang melepas surat utang dan membuat harga SUN jatuh. Itu koordinasi terkait surat utang kita,” jelasnya.
Selain BSF, Agus menambahkan, pemerintah juga sudah menandatangani perjanjian Chiang Mai untuk tujuan mengatasi masalah neraca pembayaran dan likuiditas jangka pendek, serta mengadakan perjanjian currency swap dengan China dan Jepang.
Selain itu, pemerintah juga sudah memiliki cadangan pembiayaan dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar USD5 miliar.
(gpr)
Lihat Juga :