HSBC: PMI China Juli terendah dalam 11 bulan

Kamis, 01 Agustus 2013 - 10:57 WIB
HSBC: PMI China Juli...
HSBC: PMI China Juli terendah dalam 11 bulan
A A A
Sindonews.com - Raksasa perbankan Inggris, HSBC melaporkan hasil akhir ukuran kunci aktivitas manufaktur China pada Juli 2013, merosot ke posisi terendah dalam 11 bulan. Hal ini menunjukkan pelemahan di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut berlanjut.

HSBC mencatat, angka final indeks pembelian manajer (purchasing managers index/PMI) di 47,7 poin, turun dari 48,2 poin pada Juni, sebagai angka terendah sejak Agustus 2012.

Trek aktivitas PMI manufaktur di pabrik-pabrik China dan workshsops, merupakan indikator yang diawasi ketat dari kesehatan ekonomi negara. Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi, sedangkan di atas sinyal ekspansi.

Ini tidak berubah dari hasil penghitungan awal Juli yang diumumkan pekan lalu. "Ini menjadi sinyal kemunduran kondisi bisnis untuk bulan ketiga berturut-turut," kata HSBC dalam rilisnya, seperti dilansir dari AFP, Kamis (1/8/2013).

"Dengan melemahnya permintaan dari pasar domestik dan eksternal, sektor manufaktur yang mendingin terus membebani kerja," kata Qu Hongbin, kepala ekonom HSBC untuk China, berbasis di Hong Kong.

Kekhawatiran atas ekonomi China telah meningkat tahun ini setelah rebound diperkirakan gagal muncul. Di mana ekonomi China hanya tumbuh 7,8 persen pada 2012, sebagai kinerja terburuk dalam 13 tahun.

Ekonomi kembali melemah tahun ini, dengan pertumbuhan pada periode April-Juni 2013 mencelup menjadi 7,5 persen, dari 7,7 persen pada kuartal pertama dan 7,9 persen pada Oktober-Desember 2012.

Secara terpisah, pemerintah China mengumumkan indeks PMI resmi pada Juli, yang tiba-tiba menunjukkan penguatan dalam aktivitas. Biro Statistik Nasional China mencatat PMI naik menjadi 50,3 poin, dari 50,1 pada bulan sebelumnya.

Kedua survei sering berbeda beberapa derajat. Ekonom di Bank of America Merrill Lynch melihat, survei HSBC lebih menimbang eksportir kecil, sedangkan data resmi pemerintah melihat perusahaan yang lebih besar.

"Kami percaya perbedaan ini mencerminkan tingginya tingkat ketidakpastian atas prospek pertumbuhan China. Tidak jelas mengapa hal itu muncul," ujar Zhang Zhiwei, ekonom dari Nomura International, Hong Kong.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Perkuat Daya Saing Industri...
Perkuat Daya Saing Industri Wellness dan Beauty Nasional Mendunia, BRI Dukung BWB Expo 2026 di Bali
43 menit yang lalu
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
1 jam yang lalu
Bunga Mulai 1,75%! BRI...
Bunga Mulai 1,75%! BRI KPR Hadirkan Solusi Paling Ringan untuk Miliki Rumah Impian
2 jam yang lalu
Danantara Bantah Isu...
Danantara Bantah Isu Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Wajib Beli Patriot Bond
2 jam yang lalu
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
2 jam yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
2 jam yang lalu
Infografis
27 Negara Ini Terdeteksi...
27 Negara Ini Terdeteksi Radar dalam Jangkauan Rudal Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved