HT: Empat paket kebijakan pemerintah tidak efektif

Minggu, 25 Agustus 2013 - 19:29 WIB
HT: Empat paket kebijakan...
HT: Empat paket kebijakan pemerintah tidak efektif
A A A
Sindonews.com - Krisis global yang mulai merembet masuk ke Indonesia dinilai tidak bisa diselesaikan dengan penyelesaian normatif seperti empat paket kebijakan pemerintah yang telah digulirkan. Melemahnya nilai tukar rupiah dan lesunya pasar saham yang ditandai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bakal terus berlangsung jika tanpa penanganan cepat.

“Saya menilai paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah itu tidak pas karena kebijakannya lebih untuk jangka panjang,” kata Hary Tanoesoedibjo, calon Wakil Presiden RI, usai membuka acara pembekalan calon legislatif partai Hanura se-Provinsi Sumatera Utara, di Convention Hall Hotel Tiara Medan, Sumatera Utara, Minggu (25/08/2013).

Sebelumnya, pemerintah menggulirkan empat paket kebijakan penyelamatan ekonomi yaitu perbaikan defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar, menjaga pertumbuhan ekonomi dengan memastikan defisit APBN-2013 tetap sebesar 2,38 persen dan pemberian insentif, lantas menjaga daya beli, dan yang keempat mempercepat investasi.

Menurutnya, pemerintah harus mengeluarkan butir-butir kebijakan yang menyentuh langsung pada akar persoalan krisis ekonomi saat ini. Seperti menaikkan suku bunga karena hal ini dapat mengarahkan perbankan untuk memberikan kredit pada sektor produksi seperti sektor bisnis, pabrik, dan infrastruktur. “Bukan pada sektor konsumsi, hal ini akan membantu pertumbuhan lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Hary Tanoe meminta pemerintah mengambil langkah-langkah konkrit dan cepat untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis. Agar industri-industri dalam negeri tidak gulung tikar. Sehingga peristiwa krisis ekonomi pada tahun 1998 tidak terulang kembali.

Devisa negara juga terkuras dengan adanya impor minyak besar-besaran. Sekadar informasi cadangan devisa bisa digunakan untuk intervensi pasar untuk menjaga rupiah. Seperti diberitakan kebutuhan bahan bakar minyak(BBM) Indonesia sekitar 1,4 juta kiloliter. Sedang produksi minyak mentah nasional hanya 840.000 barrel perhari

“Harus ada antisipasi terhadap kebutuhan BBM yang terus tumbuh. Pertumbuhan masyarakat Indonseia yang semakin tahun semakin besar, begitu juga pertumbuhan masyarakat menengah,” kata HT.

Setiap hari pemerintah merogoh kocek sekitar USD50 juta per hari, atau sekitar USD1,5 miliar per bulan.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
PT DSI Jadi Perantara...
PT DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor 3 Komoditas, Dony Oskaria: Hingga 31 Desember 2026
1 jam yang lalu
Dasco Bahas Tata Kelola...
Dasco Bahas Tata Kelola PT DSI Bersama Bahlil dan Kepala BP BUMN: Ada Beberapa Perlu Diperjelas
2 jam yang lalu
Dipakai Bayar Utang...
Dipakai Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Mei 2026 Ambles ke USD144,9 Miliar
3 jam yang lalu
NHM Terima Penghargaan...
NHM Terima Penghargaan atas Kontribusi Aktif dalam Perlindungan Lingkungan
3 jam yang lalu
Harga Emas Dibuka Naik...
Harga Emas Dibuka Naik Rp5 Ribu ke Rp2.743.000 per Gram, Intip Rinciannya
4 jam yang lalu
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
5 jam yang lalu
Infografis
Keterbatasan Strategis...
Keterbatasan Strategis USS Abraham Lincoln: Si ’Benteng Terapung’ yang Tidak Kebal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved