Masih di bawah 9%, tekanan inflasi di Bali meningkat
Selasa, 17 September 2013 - 18:14 WIB
Masih di bawah 9%, tekanan inflasi di Bali meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Meski beberapa bulan ke depan banyak tekanan yang mendorong terjadinya gejolak inflasi, namun diprediksi angka inflasi di Bali masih di bawah 9 persen.
Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Nusra, Dwi Pranoto, sejalan dengan terakselerasinya tingkat inflasi nasional maka risiko tekanan inflasi di Bali Nusra juga menunjukkan peningkatan.
"Bulan Agustus lalu inflasi Bali Nusra mencapai 8,83 persen (years on years) lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar 8,79 persen (yoy)," jelas Dwi dalam sebuah diskusi di Denpasar, Selasa (17/9/2013).
Dari data yang ada, inflasi tertinggi di Bali Nusra terjadi di Nusa Tenggara Barat mencapai 9,83 persen di atas inflasi Bali yang sebesar 8,35 persen dan NTT yang mencapai 8,36 persen.
Tingkat inflasi ini berada di ambang dua digit sehingga berbagai upaya terus dilakukan untuk menahan laju inflasi. Pasalnya, laju inflasi yang tinggi dan tidak stabil kata Dwi akan mengganggu roda ekonomi, iklim investasi yang pada akhirnya bermuara pada penurunan kesejahteraan masyarakat.
Dikakatannya, ke depan tekanan inflasi akan terus tinggi yang bersumber pada eksternal dan internal atau domestik.
Dalam kaitan pengendalian inflasi itupula terus dimatangkan rapat koordinasi untuk memperkuat sinergitas pemerintah dan perbankan (BI). Demikian juga keberadaan tim pengendalian inflasi daerah (TPID) Bali Nusra terus dimatangkan dalam upaya pemerintah untuk pencapaian target inflasi nasional.
Disamping itu juga dilaksanakan sebagai respons atas semakin meningkatnya risiko tekanan inflasi memasuki triwulan III 2013. "Ke depan di Bali akan masuk hari raya Galungan, tentunya kami harapkan ada edukasi ke masyarakat agar tidak panik bahwa semua stok pasokan berbagai komoditi tetap aman," imbuh Dwi.
Dengan kondisi begitu maka tidak sampai melahirkan tekanan inflasi di Bali yang biasanya dipicu saat datangnya hari raya keagamaan.
Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Nusra, Dwi Pranoto, sejalan dengan terakselerasinya tingkat inflasi nasional maka risiko tekanan inflasi di Bali Nusra juga menunjukkan peningkatan.
"Bulan Agustus lalu inflasi Bali Nusra mencapai 8,83 persen (years on years) lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar 8,79 persen (yoy)," jelas Dwi dalam sebuah diskusi di Denpasar, Selasa (17/9/2013).
Dari data yang ada, inflasi tertinggi di Bali Nusra terjadi di Nusa Tenggara Barat mencapai 9,83 persen di atas inflasi Bali yang sebesar 8,35 persen dan NTT yang mencapai 8,36 persen.
Tingkat inflasi ini berada di ambang dua digit sehingga berbagai upaya terus dilakukan untuk menahan laju inflasi. Pasalnya, laju inflasi yang tinggi dan tidak stabil kata Dwi akan mengganggu roda ekonomi, iklim investasi yang pada akhirnya bermuara pada penurunan kesejahteraan masyarakat.
Dikakatannya, ke depan tekanan inflasi akan terus tinggi yang bersumber pada eksternal dan internal atau domestik.
Dalam kaitan pengendalian inflasi itupula terus dimatangkan rapat koordinasi untuk memperkuat sinergitas pemerintah dan perbankan (BI). Demikian juga keberadaan tim pengendalian inflasi daerah (TPID) Bali Nusra terus dimatangkan dalam upaya pemerintah untuk pencapaian target inflasi nasional.
Disamping itu juga dilaksanakan sebagai respons atas semakin meningkatnya risiko tekanan inflasi memasuki triwulan III 2013. "Ke depan di Bali akan masuk hari raya Galungan, tentunya kami harapkan ada edukasi ke masyarakat agar tidak panik bahwa semua stok pasokan berbagai komoditi tetap aman," imbuh Dwi.
Dengan kondisi begitu maka tidak sampai melahirkan tekanan inflasi di Bali yang biasanya dipicu saat datangnya hari raya keagamaan.
(gpr)
Lihat Juga :