Pemerintah didesak atasi menurunnya jumlah petani
Kamis, 05 Desember 2013 - 10:40 WIB
Pemerintah didesak atasi menurunnya jumlah petani
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah konkret mengatasi krisis pertanian di Tanah Air seiring menurunnya jumlah petani.
“Sebagai negara agraris, berkurangnya jumlah petani ini adalah kabar buruk. Bagaimana kita mau swasembada pangan kalau jumlah petaninya berkurang karena tergusur ataupun karena ketidakmampuan berproduksi,” kata dia dalam rilisnya di Jakarta, Kamis (5/12/2013).
Dia berpendapat, berkurangnya jumlah petani lantaran profesi petani di tanah Air tidak menguntungkan. Akibatnya mereka melakukan urbanisasi atau alih profesi menjadi tenaga kerja di luar negeri karena dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.
Di samping itu, Firman menjelaskan, infrastuktur pertanian belum memberikan harapan kepada petani dan law inforcement di sektor pertanian terkait masalah lahan tidak dijalankan oleh pemerintah seperti diamanatkan UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan yang dikonversikan menjadi area lain.
"Faktor lainnya, masalah ketersediaan pupuk yang masih kurang dan juga lemahnya panduan pemerintah bagi para pertain terkait musim tanam yang saat ini sudah banyak berubah akibat perubahan cuaca yang ekstrim," ujar dia.
Sekedar informasi, data Sensus Pertanian 2013 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah rumah tangga petani pada 2013 mencapai 26,14 juta. Jumlah itu menyusut 16,32 persen atau 5,1 juta dibandingkan 2012.
Melihat kondisi ini, dia mendesak pemerintah untuk segera mengatasi masalah tersebut. Jika tidak segera diatasi dengan kebijakan konkret dan pro petani, menurut dia, Indonesia akan menghadapi krisis pangan yang lebih parah dibanding saat ini.
“Sebagai negara agraris, berkurangnya jumlah petani ini adalah kabar buruk. Bagaimana kita mau swasembada pangan kalau jumlah petaninya berkurang karena tergusur ataupun karena ketidakmampuan berproduksi,” kata dia dalam rilisnya di Jakarta, Kamis (5/12/2013).
Dia berpendapat, berkurangnya jumlah petani lantaran profesi petani di tanah Air tidak menguntungkan. Akibatnya mereka melakukan urbanisasi atau alih profesi menjadi tenaga kerja di luar negeri karena dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.
Di samping itu, Firman menjelaskan, infrastuktur pertanian belum memberikan harapan kepada petani dan law inforcement di sektor pertanian terkait masalah lahan tidak dijalankan oleh pemerintah seperti diamanatkan UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan yang dikonversikan menjadi area lain.
"Faktor lainnya, masalah ketersediaan pupuk yang masih kurang dan juga lemahnya panduan pemerintah bagi para pertain terkait musim tanam yang saat ini sudah banyak berubah akibat perubahan cuaca yang ekstrim," ujar dia.
Sekedar informasi, data Sensus Pertanian 2013 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah rumah tangga petani pada 2013 mencapai 26,14 juta. Jumlah itu menyusut 16,32 persen atau 5,1 juta dibandingkan 2012.
Melihat kondisi ini, dia mendesak pemerintah untuk segera mengatasi masalah tersebut. Jika tidak segera diatasi dengan kebijakan konkret dan pro petani, menurut dia, Indonesia akan menghadapi krisis pangan yang lebih parah dibanding saat ini.
(rna)
Lihat Juga :