Konsumsi topang ekonomi RI 10 tahun ke depan
Jum'at, 06 Desember 2013 - 10:21 WIB
Konsumsi topang ekonomi RI 10 tahun ke depan
A
A
A
Sindonews.com - Ekonomi Indonesia masih akan terus tumbuh terutama ditopang tingkat pertumbuhan konsumsi domestik yang diprediksi akan terus mengalami peningkatan hingga 5-10 tahun mendatang.
Managing Director Indonesia-Vietnam-Philippines Kantar WorldPanel Fabrice Carrasco mengatakan, tingginya pertumbuhan konsumsi domestik membuat laju perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah kondisi perekonomian dunia yang penuh dengan ketidakpastian.
Pandangan Fabrice tersebut didasarkan kondisi aktual, dimana hampir sebagian besar masyarakat Indonesia bersifat konsumtif dan menyukai hal baru. Dia menilai, masyarakat Indonesia rela menghabiskan sebagian pendapatannya untuk membeli produk baru yang sedang tren.
Tidak banyak negara di dunia yang perekonomiannya ditopang oleh konsumsi masyarakat. Dia menjelaskan, rata-rata perekonomian negara ditopang oleh kinerja ekspor maupun government spending atau belanja pemerintah, namun Indonesia merupakan negara yang berbeda karena fundamental perekonomian terbesar ada pada konsumsi domestik.
"Pertumbuhan konsumsi inilah yang harus selalu dijaga oleh pemerintah agar tidak mengalami penurunan. Konsumsi masyarakat di Indonesia masih akan terus tumbuh, prospeknya sungguh luar biasa, it was amazing," ujar dia dalam acara paparan Kantar World Panel mengenai Proyeksi Konsumsi Domestik Indonesia di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Jumat (6/12/2013).
Lebih lanjut dia memaparkan, kebijakan pemerintah yang menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Juni 2013 sempat mengguncang pertumbuhan konsumsi domestik, namun hal itu tidak akan membuat pertumbuhan konsumsi domestik tidak menjadi anjlok.
Menurut dia, hal ini karena pemerintah sudah memberikan program kompensasi, selain itu inflasi juga terkendali. Namun demikian, dia berpendapat, tetap ada pola yang sedikit berubah yaitu kebiasaan konsumen dalam membeli produk.
"Sebelum harga BBM naik consumer membeli produk merek terkenal dengan harga mahal. Namun setelah BBM naik, consumer akan mempertimbangkan membeli produk merek terkenal dan menggantinya dengan produk yang jauh lebih murah," tutur dia.
Managing Director Indonesia-Vietnam-Philippines Kantar WorldPanel Fabrice Carrasco mengatakan, tingginya pertumbuhan konsumsi domestik membuat laju perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah kondisi perekonomian dunia yang penuh dengan ketidakpastian.
Pandangan Fabrice tersebut didasarkan kondisi aktual, dimana hampir sebagian besar masyarakat Indonesia bersifat konsumtif dan menyukai hal baru. Dia menilai, masyarakat Indonesia rela menghabiskan sebagian pendapatannya untuk membeli produk baru yang sedang tren.
Tidak banyak negara di dunia yang perekonomiannya ditopang oleh konsumsi masyarakat. Dia menjelaskan, rata-rata perekonomian negara ditopang oleh kinerja ekspor maupun government spending atau belanja pemerintah, namun Indonesia merupakan negara yang berbeda karena fundamental perekonomian terbesar ada pada konsumsi domestik.
"Pertumbuhan konsumsi inilah yang harus selalu dijaga oleh pemerintah agar tidak mengalami penurunan. Konsumsi masyarakat di Indonesia masih akan terus tumbuh, prospeknya sungguh luar biasa, it was amazing," ujar dia dalam acara paparan Kantar World Panel mengenai Proyeksi Konsumsi Domestik Indonesia di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Jumat (6/12/2013).
Lebih lanjut dia memaparkan, kebijakan pemerintah yang menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Juni 2013 sempat mengguncang pertumbuhan konsumsi domestik, namun hal itu tidak akan membuat pertumbuhan konsumsi domestik tidak menjadi anjlok.
Menurut dia, hal ini karena pemerintah sudah memberikan program kompensasi, selain itu inflasi juga terkendali. Namun demikian, dia berpendapat, tetap ada pola yang sedikit berubah yaitu kebiasaan konsumen dalam membeli produk.
"Sebelum harga BBM naik consumer membeli produk merek terkenal dengan harga mahal. Namun setelah BBM naik, consumer akan mempertimbangkan membeli produk merek terkenal dan menggantinya dengan produk yang jauh lebih murah," tutur dia.
(rna)
Lihat Juga :