Kinerja reksa dana saham diproyeksi tumbuh 12% di 2014
Minggu, 15 Desember 2013 - 13:53 WIB
Kinerja reksa dana saham diproyeksi tumbuh 12% di 2014
A
A
A
Sindonews.com - PT Infovesta Utama memproyeksikan kinerja rata-rata reksa dana saham berdasarkan imbal hasil (return) pada tahun politik masih tumbuh di atas reksa dana lainnya. Reksa dana berbasis saham berpotensi tumbuh sekitar 9-12 persen.
Analis riset PT Infovesta Utama Vilia Wati mengatakan, sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri pada tahun depan masih akan mempengaruhi kinerja reksa dana.
"Dari luar negeri, Sentimen yang diperkirakan berpotensi mempengaruhi kinerja reksa dana di tahun mendatang, antara lain kelanjutan pembahasan batas utang AS (US debt ceiling) di awal tahun 2014, kepastian mengenai pengurangan stimulus oleh the Fed dan rilis data indikator ekonomi global," kata dia kepada Sindonews baru-baru ini.
Sementara sentimen dari dalam negeri, diantaranya indikator ekonomi domestik dan isu-isu politik terkait pemilihan umum (pemilu).
Dia memprediksi, kinerja reksa dana saham pada tahun depan berpotensi tumbuh antara 9-12 persen. Angka itu di atas proyeksi kinerja reksa dana campuran sekitar 8-10 persen dan pendapatan tetap sekitar 6-7 persen.
Sementara kinerja reksa dana saham hingga bulan ke-11 tahun ini berdasarkan data Infovesta mencatat minus 3,79 persen, campuran minus 1,6 persen dan pendapatan tetap mencapai minus 5,46 persen.
Negatifnya kinerja reksa dana hingga akhir bulan lalu, menurut Vilia, kekhawatiran pelaku pasar mengenai rencana pemangkasan stimulus moneter (tapering off) oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) yang terus berlanjut menjadi faktor pemberat laju bursa saham dan obligasi.
Kinerja rata-rata obligasi pemerintah pada periode yang sama juga tercatat minus 6,64 persen. Sedangkan kinerja rata-rata IHSG pada periode yang sama minus 1,4 persen.
Dengan kinerja reksa dana hingga bulan ke-11 tahun ini yang minus, Vilia berpendapat, sulit bagi reksa dana untuk membukukan kinerja positif hingga penghujung tahun ini.
"Meski ada potensi membaiknya kinerja reksa dana menjelang akhir tahun, namun dengan minimnya sentimen positif yang ada saat ini agak sulit untuk reksa dana mencatatkan kinerja positif di akhir tahun," ujar dia.
Menyikapi kondisi ini, Vilia menyarankan kepada kalangan investor untuk tetap fokus pada target investasinya. Namun untuk jangka pendek, dia menyarankan investor untuk mengombinasikan investasinya dengan produk investasi yang lebih tidak beresiko, seperti reksa dana pasar uang atau deposito.
"Ini untuk mengurangi dampak fluktuasi bursa saham dan obligasi yang cukup tinggi serta tetap mencermati sentimen-sentimen pasar yang ada," saran Vilia.
Analis riset PT Infovesta Utama Vilia Wati mengatakan, sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri pada tahun depan masih akan mempengaruhi kinerja reksa dana.
"Dari luar negeri, Sentimen yang diperkirakan berpotensi mempengaruhi kinerja reksa dana di tahun mendatang, antara lain kelanjutan pembahasan batas utang AS (US debt ceiling) di awal tahun 2014, kepastian mengenai pengurangan stimulus oleh the Fed dan rilis data indikator ekonomi global," kata dia kepada Sindonews baru-baru ini.
Sementara sentimen dari dalam negeri, diantaranya indikator ekonomi domestik dan isu-isu politik terkait pemilihan umum (pemilu).
Dia memprediksi, kinerja reksa dana saham pada tahun depan berpotensi tumbuh antara 9-12 persen. Angka itu di atas proyeksi kinerja reksa dana campuran sekitar 8-10 persen dan pendapatan tetap sekitar 6-7 persen.
Sementara kinerja reksa dana saham hingga bulan ke-11 tahun ini berdasarkan data Infovesta mencatat minus 3,79 persen, campuran minus 1,6 persen dan pendapatan tetap mencapai minus 5,46 persen.
Negatifnya kinerja reksa dana hingga akhir bulan lalu, menurut Vilia, kekhawatiran pelaku pasar mengenai rencana pemangkasan stimulus moneter (tapering off) oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) yang terus berlanjut menjadi faktor pemberat laju bursa saham dan obligasi.
Kinerja rata-rata obligasi pemerintah pada periode yang sama juga tercatat minus 6,64 persen. Sedangkan kinerja rata-rata IHSG pada periode yang sama minus 1,4 persen.
Dengan kinerja reksa dana hingga bulan ke-11 tahun ini yang minus, Vilia berpendapat, sulit bagi reksa dana untuk membukukan kinerja positif hingga penghujung tahun ini.
"Meski ada potensi membaiknya kinerja reksa dana menjelang akhir tahun, namun dengan minimnya sentimen positif yang ada saat ini agak sulit untuk reksa dana mencatatkan kinerja positif di akhir tahun," ujar dia.
Menyikapi kondisi ini, Vilia menyarankan kepada kalangan investor untuk tetap fokus pada target investasinya. Namun untuk jangka pendek, dia menyarankan investor untuk mengombinasikan investasinya dengan produk investasi yang lebih tidak beresiko, seperti reksa dana pasar uang atau deposito.
"Ini untuk mengurangi dampak fluktuasi bursa saham dan obligasi yang cukup tinggi serta tetap mencermati sentimen-sentimen pasar yang ada," saran Vilia.
(rna)
Lihat Juga :