Bank Dunia prediksi pertumbuhan PDB RI 2014 hanya 5,3%
Senin, 16 Desember 2013 - 11:53 WIB
Bank Dunia prediksi pertumbuhan PDB RI 2014 hanya 5,3%
A
A
A
Sindonews.com - World Bank atau Bank Dunia memprediksi pertumbuhan PDB ekonomi Indonesia pada 2014 hanya akan berada dalam kisaran angka 5,3 persen atau turun dari 5,6 persen pada 2013.
Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop beralasan melambatnya pertumbuhan ekonomi ini diakibatkan menurunnya investasi di bidang manufaktur dan mesin yang hanya tumbuh 4,5 persen.
"Tetapi angka tersebut masih cukup solid dan Indonesia masih menjadi negara investasi yang sangat menarik," ujar Diop di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Senin (16/12/2013).
Diop juga melanjutkan defisit neraca akun berjalan pada 2014 dari sebelumnya USD31 miliar menjadi USD23 miliar atau 2,6 persen dari PDB yang disebabkan melemahnya impor dan permintaan ekspor yang meningkat.
"Tetapi untuk menyikapi defisit tersebut, yang perlu dilakukan bukanlah menekan impor, tetapi dengan menaikkan ekspor dan mengamankan ketersediaan dana eksternal terutama Penanaman Modal Asing (PMA)," terang dia.
Secara umum, Diop mengingatkan pemerintah untuk terus meningkatkan perdagangan dan merangsang laju pertumbuhan jangka panjang melalui reformasi struktural selain memperkuat stabilitas makro.
"Langkah-langkah perbaikan iklim usaha sangat penting untuk menarik investasi dan membuat peraturan perdagangan serta logistik lebih sederhana, juga dapat mendongkrak ekspor," pungkas dia.
Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop beralasan melambatnya pertumbuhan ekonomi ini diakibatkan menurunnya investasi di bidang manufaktur dan mesin yang hanya tumbuh 4,5 persen.
"Tetapi angka tersebut masih cukup solid dan Indonesia masih menjadi negara investasi yang sangat menarik," ujar Diop di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Senin (16/12/2013).
Diop juga melanjutkan defisit neraca akun berjalan pada 2014 dari sebelumnya USD31 miliar menjadi USD23 miliar atau 2,6 persen dari PDB yang disebabkan melemahnya impor dan permintaan ekspor yang meningkat.
"Tetapi untuk menyikapi defisit tersebut, yang perlu dilakukan bukanlah menekan impor, tetapi dengan menaikkan ekspor dan mengamankan ketersediaan dana eksternal terutama Penanaman Modal Asing (PMA)," terang dia.
Secara umum, Diop mengingatkan pemerintah untuk terus meningkatkan perdagangan dan merangsang laju pertumbuhan jangka panjang melalui reformasi struktural selain memperkuat stabilitas makro.
"Langkah-langkah perbaikan iklim usaha sangat penting untuk menarik investasi dan membuat peraturan perdagangan serta logistik lebih sederhana, juga dapat mendongkrak ekspor," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :