Banyak preman, pajak UKM sulit diterapkan di Tanah Abang
Rabu, 18 Desember 2013 - 20:14 WIB
Banyak preman, pajak UKM sulit diterapkan di Tanah Abang
A
A
A
Sindonews.com - Dirjen Pajak Fuad Rahmany mengakui sulit menarik Pajak Penghasilan (PPh) 1 persen kepada usaha yang memiliki omzet Rp4,8 miliar setahunnya (Pajak UKM) di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Dia beralasan, banyaknya preman yang menarik iuran ilegal dan sedikitnya pegawai pajak merupakan alasan utama dari sulitnya menarik pajak tersebut di pasar yang disebut terbesar di Asia Tenggara itu.
"Di Tanah Abang terus terang berat, mungkin karena premannya banyak. Pasar Beringharjo (Yogyakarta) dan Pasar Baru (Bandung) tidak seberat Tanah Abang," keluh Fuad di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/12/2013).
Fuad juga terus mengeluhkan kurangnya pegawai pajak akan terus menghambat progres penarikan PPh 1 persen ini. "Kita selalu sudah bilang, harus menambah pegawai," cetusnya.
Pasalnya Fuad sudah mengkalkulasikan, para pedagang di Tanah Abang memiliki omzet yang lebih besar dibanding toko-toko di mall kelas atas Jakarta karena seringkali para pembelinya merupakan warga asing yang sengaja langsung memesan banyak untuk dikirim ke negaranya masing-masing.
"Miliaran (omzet) mereka. Kalau itu enggak bayar pajak kan susah. Tapi mereka mengaku UKM tapi omzet sama seperti perusahaan besar," tuturnya.
Dia beralasan, banyaknya preman yang menarik iuran ilegal dan sedikitnya pegawai pajak merupakan alasan utama dari sulitnya menarik pajak tersebut di pasar yang disebut terbesar di Asia Tenggara itu.
"Di Tanah Abang terus terang berat, mungkin karena premannya banyak. Pasar Beringharjo (Yogyakarta) dan Pasar Baru (Bandung) tidak seberat Tanah Abang," keluh Fuad di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/12/2013).
Fuad juga terus mengeluhkan kurangnya pegawai pajak akan terus menghambat progres penarikan PPh 1 persen ini. "Kita selalu sudah bilang, harus menambah pegawai," cetusnya.
Pasalnya Fuad sudah mengkalkulasikan, para pedagang di Tanah Abang memiliki omzet yang lebih besar dibanding toko-toko di mall kelas atas Jakarta karena seringkali para pembelinya merupakan warga asing yang sengaja langsung memesan banyak untuk dikirim ke negaranya masing-masing.
"Miliaran (omzet) mereka. Kalau itu enggak bayar pajak kan susah. Tapi mereka mengaku UKM tapi omzet sama seperti perusahaan besar," tuturnya.
(gpr)
Lihat Juga :