Akademisi perkirakan pertumbuhan ekonomi RI 2014 turun

Selasa, 24 Desember 2013 - 17:52 WIB
Akademisi perkirakan...
Akademisi perkirakan pertumbuhan ekonomi RI 2014 turun
A A A
Sindonews.com - Tingkat inflasi Indonesia pada 2014 diprediksi masih akan tinggi dan nilai tukar rupiah masih akan terus melemah.

Hal tersebut dikarenakan neraca perdagangan akan terus mengalami defisit sekaligus tingginya nilai pada neraca pembayaran hutang jangka pendek, baik pemerintah maupun swasta. Karenanya, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan menurun dibanding 2013.

“Pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan menurun, dimana deviasi dan fluktuasi akan lebih tinggi. Inflasi pun diproyeksi mencapai 6,5 persen sedangkan nilai tukar Rupiah terhadap USD diprediksi berada di bawah harga Rp11.000,” kata Ekonom UGM Prof Dr Sri Adiningsih di FEB UGM, Selasa (24/12/2013).

Tak hanya inflasi dan nilai tukar Rupiah, menurut Asiningsih, menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 juga akan dipengaruhi oleh nilai investasi dan manufaktur yang mengalami penurunan. Di sisi lain, tingkat konsumsi Indonesia yang diprediksi akan terus meningkat diperkirakan tidak banyak membantu menaikkan ekonomi.

“Struktur ekonomi Indonesia saat ini dan nanti tetap lebih mengandalkan pada konsumsi dan impor. Padahal besaran makroekonomi yang terkait kondisi keuangan global masih stagnan. Bahkan kondisi ekonomi kita akan lebih memburuk jika agenda pelaksanaan pemilu 2014 tidak berjalan dengan baik. Bukan berarti tahun politik tidak berpengaruh pada perkembangan ekonomi,” ungkapnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis ini juga menuturkan, mengenai terus melemahnya nilai tukar rupiah, keputusan BI yang telah menaikkan suku bunga rate menjadi 7,5 persen dan dua paket kebijakan ekonomi yang telah digulirkan pemerintah tidak akan terlalu berdampak. Cadangan devisa yang terus menurun hingga berada di angka USD97 miliar justru menjadi hal yang perlu dikhawatirkan.

"Penjualan surat berharga oleh pemerintah lewat pasar modal saat ini mencapai lebih dari USD175 miliar. Dan setiap harinya pemerintah menerbitkan surat hutang Rp1triliun, padahal daya beli masyarakat terbatas serta kepemilikan asing pada ekuitas sangat besar. Dalam kondisi demikian, kita menanggung resiko sangat besar sekali jika terjadi krisis di Amerika,” tuturnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi UGM lainnya Prof Dr Insukindro MA justru mengkritisi kebijakan BI yang lebih banyak mengurusi bidang moneter dibanding fiskal.

"Akan lebih bijakasana jika BI memperhatikan kondisi moneter dan fiskal secara bersamaan dalam menuntaskan persoalan ekonomi lebih cepat," imbuhnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
4 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
5 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
6 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
8 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
8 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
8 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved