Elpiji 12 kg masih dijual Rp140 ribu di tingkat pengecer
Selasa, 07 Januari 2014 - 15:56 WIB
Elpiji 12 kg masih dijual Rp140 ribu di tingkat pengecer
A
A
A
Sindonews.com - Pasca pemerintah merevisi kenaikan harga gas elpiji ukuran 12 kg menjadi Rp82.200 per tabung dari Pertamina, sejumlah agen di Kabupaten Garut kembali diserbu pembeli. Tidak hanya pengecer, para pembeli ini didominasi langsung oleh warga selaku konsumen.
Salah seorang warga Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Asep (35), menuturkan, dirinya terpaksa harus membeli langsung ke agen karena harga gas elpiji di tingkat pengecer masih terbilang tinggi, yaitu Rp140 ribu per tabung. Padahal dari sejumlah pemberitaan di media massa dan elektronik, tutur Asep, pemerintah telah merevisi kenaikan harga gas.
“Baru sekarang saya beli ke agen, biasanya ke pengecer karena dekat. Tapi berhubung di pengecer harganya tinggi sekali, saya terpaksa membeli gas di sini,” kata Asep saat ditemui, Selasa (7/1/2014).
Asep mengaku, sebelum terjadi kenaikan, perbedaan harga gas di tingkat agen dan pengecer tidak terlalu jauh, yakni hanya berbeda Rp5 ribu per tabung. Menurutnya saat itu, bila di agen harga gas pertabung dijual Rp79 ribu, maka di pengecer harganya Rp84 ribu.
“Saya mengerti, mungkin pedagang di tingkat pengecer ini membeli gas ke agen sewaktu harganya masih Rp129 ribu. Jadi mereka tidak mau rugi dan tetap menjual Rp140 ribu per tabung,” ujarnya.
Hal tersebut dibenarkan oleh salah seorang pengecer gas elpiji di kawasan Kecamatan Samarang, Taofik Safa’at (35). Menurut Taofik, dirinya terpaksa masih menjual gas seharga Rp140 ribu pertabung karena takut merugi.
“Saya membelinya saat harga gas di agen Rp129 ribu. Ya saya jual masih Rp140 ribu dulu per tabung. Saya bisa rugi nanti. Nanti kalau saya belanja stok kembali dengan harga yang baru, saya akan turunkan harganya pertabung,” jelasnya.
Salah seorang pegawai pada sebuah agen gas elpiji di Kabupaten Garut, Engkus Rusmana (44), menuturkan, dampak dari revisi kenaikan harga gas Rp1.000 per kg oleh pemerintah yang mulai berlaku per 7 Januari 2014 ini, telah kembali menormalkan tingkat pembelian konsumen. Hingga pukul 10.00 WIB pada hari pertama pemerintah merevisi harga, sebut Engkus, jumlah pembeli yang datang ke tempat ia bekerja tercatat sebanyak 30 pembeli.
“Mereka berasal dari pengecer dan konsumen. Namun kebanyakan konsumen langsung. Sementara para pengecer masih memiliki cukup stok gas sehingga belum banyak yang datang kemari,” ucapnya.
Engkus menyebutkan, sebelum direvisi, perusahaan tempat ia bekerja menjual gas elpiji sebesar Rp129 ribu per tabung. Mulai hari ini, perusahaannya menjual gas elpiji dengan harga Rp91.300 per tabung.
“Memang dari pertamina harga gas Rp82.200 per tabung. Namun kami menjualnya menjadi Rp91.300 karena harus menanggung sendiri biaya pengangkutan dari SPBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji) di kawasan Nagreg. Pemerintah juga sudah mempertimbangkan variasi harga ini,” jelasnya.
Salah seorang warga Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Asep (35), menuturkan, dirinya terpaksa harus membeli langsung ke agen karena harga gas elpiji di tingkat pengecer masih terbilang tinggi, yaitu Rp140 ribu per tabung. Padahal dari sejumlah pemberitaan di media massa dan elektronik, tutur Asep, pemerintah telah merevisi kenaikan harga gas.
“Baru sekarang saya beli ke agen, biasanya ke pengecer karena dekat. Tapi berhubung di pengecer harganya tinggi sekali, saya terpaksa membeli gas di sini,” kata Asep saat ditemui, Selasa (7/1/2014).
Asep mengaku, sebelum terjadi kenaikan, perbedaan harga gas di tingkat agen dan pengecer tidak terlalu jauh, yakni hanya berbeda Rp5 ribu per tabung. Menurutnya saat itu, bila di agen harga gas pertabung dijual Rp79 ribu, maka di pengecer harganya Rp84 ribu.
“Saya mengerti, mungkin pedagang di tingkat pengecer ini membeli gas ke agen sewaktu harganya masih Rp129 ribu. Jadi mereka tidak mau rugi dan tetap menjual Rp140 ribu per tabung,” ujarnya.
Hal tersebut dibenarkan oleh salah seorang pengecer gas elpiji di kawasan Kecamatan Samarang, Taofik Safa’at (35). Menurut Taofik, dirinya terpaksa masih menjual gas seharga Rp140 ribu pertabung karena takut merugi.
“Saya membelinya saat harga gas di agen Rp129 ribu. Ya saya jual masih Rp140 ribu dulu per tabung. Saya bisa rugi nanti. Nanti kalau saya belanja stok kembali dengan harga yang baru, saya akan turunkan harganya pertabung,” jelasnya.
Salah seorang pegawai pada sebuah agen gas elpiji di Kabupaten Garut, Engkus Rusmana (44), menuturkan, dampak dari revisi kenaikan harga gas Rp1.000 per kg oleh pemerintah yang mulai berlaku per 7 Januari 2014 ini, telah kembali menormalkan tingkat pembelian konsumen. Hingga pukul 10.00 WIB pada hari pertama pemerintah merevisi harga, sebut Engkus, jumlah pembeli yang datang ke tempat ia bekerja tercatat sebanyak 30 pembeli.
“Mereka berasal dari pengecer dan konsumen. Namun kebanyakan konsumen langsung. Sementara para pengecer masih memiliki cukup stok gas sehingga belum banyak yang datang kemari,” ucapnya.
Engkus menyebutkan, sebelum direvisi, perusahaan tempat ia bekerja menjual gas elpiji sebesar Rp129 ribu per tabung. Mulai hari ini, perusahaannya menjual gas elpiji dengan harga Rp91.300 per tabung.
“Memang dari pertamina harga gas Rp82.200 per tabung. Namun kami menjualnya menjadi Rp91.300 karena harus menanggung sendiri biaya pengangkutan dari SPBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji) di kawasan Nagreg. Pemerintah juga sudah mempertimbangkan variasi harga ini,” jelasnya.
(gpr)
Lihat Juga :