Pemerintah didesak dukung pengusaha lokal bangun smelter
Kamis, 23 Januari 2014 - 17:03 WIB
Pemerintah didesak dukung pengusaha lokal bangun smelter
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi VII dari Fraksi Golkar Bobby Adhityo Rizaldi mendesak pemerintah mendukung para pengusaha domestik untuk membangun smelter.
Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) terkait larangan ekspor mineral mentah tetap.
"Mendukung pengusaha lokal untuk membangun dan mengembangkan smelter, akan meningkatkan perekonomian nasional,” ujar dia dalam rilisnya, Kamis (23/1/2014).
Menurut Bobby, saat ini terallu banyak sektor pertambangan di dalam negeri yang perlu dikembangkan secara optimal. Karena itu, diperlukan banyak pengusaha lokal yang siap menggarap.
Dia menilai, pemberlakuan tax allowance oleh pemerintah hanya ditujukan ke beberapa komoditas tertentu. Karena itu, pemerintah diminta untuk melakukan sejumlah langkah praktis.
Pertama, memberikan insentif berupa pembebasan pajak untuk jangka waktu tertentu. Kedua, pemerintah melakukan percepatan pembangunan infrastruktur di setiap wilayah Indonesia, sehingga membuka akses bagi masuknya investasi bernilai tambah ke daerah itu.
Ketiga, memperluas penyerapan pasar domestik dan ekspor hasil smelter di berbagai negara tujuan untuk memberi kepastian bagi pengusaha smelter dalam memasarkan produksinya.
Keempat, memastikan iklim investasi yang kondusif bagi pengusaha domestik yang membangun dan mengembangkan smelter di Tanah Air karena akan meningkatkan produktivitas smelter, termasuk kapasitas terpasang smelter.
Kelima, pemerintah diminta menyediakan teknologi memadai dan berstandar internasional, sehingga produk smelter dalam negeri dapat bersaing di dunia internasional.
“Implikasinya, pembangunan smelter akan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Akibatnya akan tercipta lapangan kerja signifikan," ujar dia.
Hingga saat ini, pemerintah baru mempunyai rencana untuk membentuk empat wilayah utama yang akan dijadikan sebagai pusat pembangunan smelter, yaitu Halmahera, Sumatera Selatan, Balikpapan dan Jawa Timur.
Bobby mengatakan, proses pengolahan yang dilakukan smelter akan memberikan nilai tambah yang sangat signifikan bagi penerimaan negara.
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat bahwa pembangunan smelter akan meningkatkan nilai jual produk dari sumber daya alam (SDA) Indonesia. Misalnya saja, harga 1 ton bauksit hanya USD1, namun bauksit yang diolah menjadi alumina menjadi bernilai USD8 per ton. Sementara jika diolah lagi menjadi aluminium, maka harganya melonjak menjadi USD30 per ton.
Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) terkait larangan ekspor mineral mentah tetap.
"Mendukung pengusaha lokal untuk membangun dan mengembangkan smelter, akan meningkatkan perekonomian nasional,” ujar dia dalam rilisnya, Kamis (23/1/2014).
Menurut Bobby, saat ini terallu banyak sektor pertambangan di dalam negeri yang perlu dikembangkan secara optimal. Karena itu, diperlukan banyak pengusaha lokal yang siap menggarap.
Dia menilai, pemberlakuan tax allowance oleh pemerintah hanya ditujukan ke beberapa komoditas tertentu. Karena itu, pemerintah diminta untuk melakukan sejumlah langkah praktis.
Pertama, memberikan insentif berupa pembebasan pajak untuk jangka waktu tertentu. Kedua, pemerintah melakukan percepatan pembangunan infrastruktur di setiap wilayah Indonesia, sehingga membuka akses bagi masuknya investasi bernilai tambah ke daerah itu.
Ketiga, memperluas penyerapan pasar domestik dan ekspor hasil smelter di berbagai negara tujuan untuk memberi kepastian bagi pengusaha smelter dalam memasarkan produksinya.
Keempat, memastikan iklim investasi yang kondusif bagi pengusaha domestik yang membangun dan mengembangkan smelter di Tanah Air karena akan meningkatkan produktivitas smelter, termasuk kapasitas terpasang smelter.
Kelima, pemerintah diminta menyediakan teknologi memadai dan berstandar internasional, sehingga produk smelter dalam negeri dapat bersaing di dunia internasional.
“Implikasinya, pembangunan smelter akan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Akibatnya akan tercipta lapangan kerja signifikan," ujar dia.
Hingga saat ini, pemerintah baru mempunyai rencana untuk membentuk empat wilayah utama yang akan dijadikan sebagai pusat pembangunan smelter, yaitu Halmahera, Sumatera Selatan, Balikpapan dan Jawa Timur.
Bobby mengatakan, proses pengolahan yang dilakukan smelter akan memberikan nilai tambah yang sangat signifikan bagi penerimaan negara.
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat bahwa pembangunan smelter akan meningkatkan nilai jual produk dari sumber daya alam (SDA) Indonesia. Misalnya saja, harga 1 ton bauksit hanya USD1, namun bauksit yang diolah menjadi alumina menjadi bernilai USD8 per ton. Sementara jika diolah lagi menjadi aluminium, maka harganya melonjak menjadi USD30 per ton.
(rna)